logo alinea.id logo alinea.id

Pasar obligasi diprediksi bergairah sepanjang tahun

Pasar obligasi diprediksi bergerak positif tahun ini dengan imbal balik yang menggiurkan. 

Annisa Saumi
Annisa Saumi Selasa, 18 Jun 2019 08:05 WIB
Pasar obligasi diprediksi bergairah sepanjang tahun

Pasar obligasi diprediksi bergerak positif tahun ini dengan imbal balik yang menggiurkan. 

Mandiri Sekuritas memperkirakan pergerakan pasar obligasi akan memberikan imbal hasil (return) yang positif pada 2019. Kepala Riset Fixed Income Mandiri Sekuritas Handy Yunianto mengatakan hal tersebut disebabkan oleh lima faktor pendukung.

"Pertama entry level yield-nya jauh lebih baik daripada 2018, kedua BI ada kemungkinan menurunkan suku bunga sementara secara makro inflasi sangat bisa dikendalikan," ujar Handy di Jakarta, Senin (17/6).

Faktor ketiga, lanjut Handy, kebijakan fiskal dan moneter akan memberikan sentimen positif pada pasar obligasi. Faktor keempat, kemungkinan aliran dana asing yang keluar (outflow) di 2019 kecil. Terakhir, pasar sudah mulai bullish dan dukungan domestik besar karena ekspektasi suku bunga BI akan turun.

Dari riset Mandiri Sekuritas, sejak tahun 2010 return investasi di pasar obligasi mencatatkan nilai negatif pada tahun 2013 dan 2018. Handy mencatat ada dua faktor yang menyebabkan return investasi menurun. Pertama, BI menaikkan suku bunga, dan kedua terjadi foreign fund outflow.

Sementara itu, Ketua Asosiasi Manajer Investasi Indonesia Edward P. Lubis melihat outflow asing tak terlalu menghawatirkan karena dengan rating upgrade di S&P akan mendatangkan tambahan dana masuk (inflow).

"Untuk pelemahan rupiah, dengan adanya program pemerintah yang baru mestinya kita lihat, harapannya fokus ke depan sudah mulai mengimbangi produksi sama output kita. Jadi harapannya lebih baik," kata Edward.

Sementara, untuk risiko investasi tahun ini, lanjut Handy, lebih disebabkan currency risk dibandingkan dengan credit risk karena kurs rupiah relatif lebih rendah.

Sponsored

Handy melanjutkan, Indonesia menggunakan empat variabel penting yang menentukan arah yield yaitu US treasury yield, BI rate, credit default swap (CSS), dan rupiah. Handy mengingatkan US treasury yield menjadi penting karena hampir 38% bonds Indonesia dimiliki asing.

"Yang menarik secara valuasi, yield yang sempat spike 8% ini sudah undervalue," ujar Handy.

Sementara itu, analis Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nico Demus mengatakan sejauh ini volatilitas di pasar obligasi masih cukup tinggi. Namun, lanjut Nico, hal ini sebenarnya baik untuk pergerakan pasar di satu sisi asalkan investor bisa melihat kapan waktu yang baik untuk masuk dan keluar.

"Untuk sentimen, di tahun ini sebetulnya cukup banyak drama, baik dari global maupun lokal," kata Nico ketika dihubungi, Selasa (18/6).

Sentimen dari dalam negeri datang dari pelaksanaan pemilu dan drama politik. Namun sisi baiknya, kata Nico, datang dari sentimen global The Fed yang berpotensi memangkas tingkat suku bunga. Hal ini bisa memberikan kenyaman kepada pasar, karena akan mendorong potensi BI rate untuk mengalami penurunan.

"Namun itu semua baru sebatas potensi. Sejauh ini kalau melihat akhir tahun, imbal hasil 10y (obligasi pemerintah 10 tahunan) kita masih berpotensi untuk berada di bawah 8% dengan potensi pemangkasan BI Rate di kuartal ke IV-2019 sebesar 25%," ujar Nico.