sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Pelatihan PPHT dorong peningkatan kualitas jeruk Sambas

Pestisida kimia menjadi opsi terakhir untuk pengendalian OPT.

Fatah Hidayat Sidiq
Fatah Hidayat Sidiq Jumat, 11 Sep 2020 15:28 WIB
Pelatihan PPHT dorong peningkatan kualitas jeruk Sambas
Informasi mutakhir perkembangan Covid-19 di Indonesia bisa dilihat di sini
Terinfeksi 266845
Dirawat 60431
Meninggal 10218
Sembuh 196196

Kementerian Pertanian (Kementan) terus menggencarkan pelatihan pengendalian hama penyakit terpadu (PPHT) di tengah pandemi coronavirus baru (Covid-19). Upaya ini diintensifkan agar hasil usaha tani berkualitas dan berdaya saing tinggi.

Langkah tersebut seperti yang dilakukan Unit Pengelola Teknis Balai Proteksi Tanaman Pangan dan Hortikultura Kalimantan Barat (UPT BPTPH Kalbar). Kini tengah menggencarkan PPHT melalui Program Pengelolaan Terpadu Kebun Jeruk Sehat (PTKJS) guna mengembalikan kejayaan agribisnis di Sambas.

"Pada 2020 ini, Program PPHT Jeruk yang berada di Kabupaten Sambas dialokasikan di tiga kecamatan, yakni Tebas, Selakau, dan Salatiga," ucap Kepala BPTPH Kalbar, Yuliana Yulinda, dalam keterangan tertulis, Jumat (11/9).

Melalui kegiatan tersebut, petani diharapkan tidak lagi memakai pestisida kimia untuk mengendalikan organisme pengganggu tanaman (OPT). "Pestisida kimia adalah pilihan terakhir," jelas dia.

Dirinya menerangkan, Program PTKJS tak sekadar menggenjot kuantitas. Banyak cara lain yang sederhana, murah, dan ramah lingkungan dalam membudidayakan tanaman jeruk.

Salah satu kegiatan PPHT di Sambas menyasar Kelompok Tani (Poktan) Darma Tani II di Desa Pusaka, Kecamatan Tebas. Mereka diajak melakukan pengamatan agroekosistem tanaman serta populasi dan intensitas serangan OPT.

Hasil pengamatan kemudian dipresentasikan dan didiskusikan bersama. Tujuannya, petani mengetahui kapan waktu yang tepat untuk mengendalikan OPT.

Petani pun diajak untuk menanam refugia, pembuatan mikroorganisme lokal (MOL), pestisida organik, dan pemasangan perangkap likat kuning untuk pengendalian OPT.

Sponsored

"Kami mencoba mengajak petani menciptakan ekosistem lingkungan yang berbeda atau tidak disukai oleh OPT, sehingga dapat menekan penggunaan pestisida," ucap petugas pengendali OPT (POPT) sekaligus pemandu PPHT Tebas, Anita.

Sementara itu, Direktur Jenderal Hortikultura Kementan, Prihasto Setyanto, menerangkan, misi pertanian ramah lingkungan bagian tak terpisahkan dari Program Gedor Horti, upaya melipatgandakan produktivitas dan kualitas produksi.

"Pengelolaan budi daya maupun pengendalian OPT harus memperhatikan dampaknya pada lingkungan dan diri kita sebagai konsumen karena produk yang sehat berasal dari bahan baku yang sehat," paparnya.

Demi menjamin produk yang sehat dan keberlangsungan lingkungan, Kementan telah membentuk Klinik Pengelolaan Hama Terpadu (PHT). Pelaksanaannya melalui kegiatan PPHT.

Sedangkan Direktur Perlindungan Hortikultura, Sri Wijayanti Yusuf, mengapresiasi antusiasme petani serta dedikasi BPTPH Kalbar karena tetap bersemangat di masa pandemi.

"Petugas sangat berjasa dalam membantu petani menyiapkan bahan pengendali OPT maupun memberikan arahan terkait pembuatan agen hayati. Walaupun tidak bertemu secara langsung, prosesnya dapat berhasil dengan baik," tuturnya.

"Saya harap petani yang berkumpul tetap menerapkan protokol kesehatan dengan menggunakan masker dan mengikuti arahan jaga jarak," imbuh Yanti, sapaannya.

Kegiatan tersebut turut diapresiasi Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (DPKP) Sambas. Pun berharap petani dapat bijaksana dalam mengendalikan OPT, sehingga produksi terjaga dan berimbas terhadap meningkatnya kesejahteraan.

Berita Lainnya
×
img