sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

HIPMI: Pemerintah harus waspadai rupiah di Rp 15.000

HIPMI mengimbau presiden segera memberikan solusi.

Hermansah
Hermansah Jumat, 06 Jul 2018 10:57 WIB
HIPMI: Pemerintah harus waspadai rupiah di Rp 15.000

Nilai tukar Rupiah terhadap dollar AS terus melemah. Pemerintah maupun Bank Indonesia diimbau mengambil langkah konkret untuk mencegah lebih dalamnya pelemahan nilai tukar Rupiah.

Berdasarkan data Yahoo Finance, pada pembukaan sesi pagi, Jumat (6/7) dollar AS dibuka di level Rp14.380. Sementara hingga pukul 11.52 WIB, dollar AS diperdagangkan dilevel Rp14.370 - Rp14.417.

Ketua Badan Pengurus Pusat Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (BPP HIPMI) bidang Ekonomi, Muhamad Idrus mengkhawatirkan nilai tukar Rupiah terhadap dollar AS bisa menembus angka Rp15.000. Karena itu, HIPMI mengimbau presiden segera memberikan solusi.

“Analis perbankan memprediksi nilai tukar rupiah akan jatuh pada angka Rp14.600. Perlu ada antisipasi kemungkinan terburuk pekan depan, yaitu tembus Rp15.000. Kami mengimbau agar presiden bertindak,” kata Idrus, dalam keterangan tertulisnya,  Jumat (6/7).

HIPMI menilai pelemahan tukar rupiah bukan hanya semata karena persaingan dagang antara Amerika dengan China dan Uni Eropa. Namun juga disebabkan faktor internal. Karena itu, presiden perlu segera bertindak berupa mengeluarkan kebijakan penyelamatan rupiah.

Jika nilai tukar rupiah menembus Rp15.000, maka perekonomian Indonesia semakin terpuruk. Industri Indonesia, menurutnya, banyak tergantung bahan baku impor. “Semoga hal ini tidak terjadi, nilai tukar bisa kembali menguat. Industri kita didominasi Foot Loose Industry yang mengandalkan bahan baku impor. Kalau nilai tukar terus melemah, industri kita akan kolaps,” kata Idrus.

Masyarakat juga diimbau tidak memborong dollar dan memiliki kepedulian terhadap kondisi perekonomian Indonesia. Sebagai bentuk peran serta masyarakat, khususnya kalangan elite dengan melakukan aksi nyata keprihatinan atas kondisi ekonomi.

Sementara, Ketua DPR RI Bambang Soesatyo mendesak sejumlah lembaga negara dan kementerian untuk bertindak mengatasi merosotnya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS.

Sponsored

Merosotnya nilai tukar rupiah terhadap dollar AS itu dipengaruhi beberapa hal, termasuk faktor internal. Juga, eksternal seperti perang dagang AS dan China yang semakin meningkat, hambatan perdagangan di India dan Uni Eropa, serta kenaikan harga minyak mentah dunia.

Oleh karena itu, ada sejumlah hal yang harus dilakukan oleh sejumlah lembaga negara menyangkut masalah itu. "Kemenkeu dan BI harus berkomitmen dalam menyiapkan solusi dan langkah-langkah mitigasi agar pergerakan kurs dapat kembali normal serta lebih cermat mengawasi berbagai aspek yang mempengaruhi," kata Bamsoet.

Selain itu, kedua lembaga itu wajib mengingatkan diri sendiri, stabilitas nilai tukar menjadi suatu hal yang penting. Itulah sebabnya, Komisi XI DPR yang membidangi masalah keuangan, segera mengontak mitra kerjanya itu untuk segera bergerak.

‎Selain itu, Kementerian Perdagangan (Kemendag) juga perlu memberikan insentif ekspor.  Hal demikian perlu dilakukan guna mendapatkan surplus perdagangan dan mengurangi neraca keseimbangan primer negatif.

Di sisi lainnya,  Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) harus lebih proaktif dan progresif dalam melakukan hubungan kerjasama bilateral dan multilateral dengan negara-negara maju. Utamanya, agar para pengusaha mereka datang menanamkan modalnya di Indonesia. Sehingga bisa meningkatkan investasi ke dalam negeri. Arus modal masuk akan membantu memperbaiki nilai tukar rupiah.

Berita Lainnya