sun
moon
logo alinea.id logo alinea.id

Pemerintah optimistis pertumbuhan ekonomi 5,4% di tengah pelambatan global

Pemerintah optimistis pertumbuhan ekonomi 2019 bisa mencapai target 5,3%-5,4%

Cantika Adinda Putri Noveria
Cantika Adinda Putri Noveria Selasa, 22 Jan 2019 18:19 WIB
Pemerintah optimistis pertumbuhan ekonomi 5,4% di tengah pelambatan global

Pemerintah optimistis pertumbuhan ekonomi 2019 bisa mencapai target 5,3%-5,4%. Hal tersebut ditegaskan Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati setelah Dana Moneter Internasional (IMF) menyatakan pertumbuhan ekonomi global melambat dalam dua tahun ini.

IMF memprediksi pertumbuhan ekonomi global menjadi 3,5% pada 2019 dan 3,6% pada 2020. Angka itu turun dari 2018 sebesar 3,7%.

"Ini tantangan, bahwa momentum ekonomi eskternal akan melemah dan guncangan mungkin masih terjadi. Tapi kita tetap fokus menjaga pertumbuhan dan stabilitas ekonomi dalam lingkungan yang bergerak cepat," ujar Sri Mulyani di Forum A1, Selasa (22/1). 

Sri Mulyani mengatakan pada 2019 momentum pertumbuhan Indonesia akan terus berlanjut, meski ada beberapa tekanan dan ketidakpastian perang dagang.  Selain itu, sektor konsumsi diyakini baik dengan inflasi akan dijaga pada level 3,2%-3,5%. Pertumbuhan ekonomi juga bisa menyentuh target, dengan investasi terjaga momennya pada level 7%. 

"Mungkin ada tekanan dari harga komoditas, jadi memengaruhi demand side. Tapi pertumbuhan ekonomi di angka 5,3%-5,4% tetap bisa dicapai. Kita bisa gunakan instrumen fiskal untuk stimulus. Seperti tax holiday, tax insentif, tax deductable. Jadi diharapkan ini menggerakkan sektor riil," kata Sri.

Kendati demikian, Mantan Menteri Keuangan Chatib Basri menilai, target pertumbuhan ekonomi sebesar 5,3%-5,4% akan sulit dicapai. Dia meyakini pertumbuhan ekonomi hanya bisa tumbuh 5% saja. Pasalnya, saat ini, harga komoditas ekspor utama Indonesia seperti kelapa sawit, karet, dan batu bara tengah mengalami penurunan harga di pasar global. 

"Untungnya dengan fiskal dimana PKH (Penerima Keluarga Harapan) dan bansos dinaikkan, itu akan membantu menjaga daya beli masyarakat dan growth kita bisa bertahan di situ. Pertumbuhan ekonomi 5,3% tidak mudah di tengah situasi global seperti ini. Perdebatan (pertumbuhan ekonomi) 5,2%-5,3% cuma menunjukkan ekonom punya rasa humor," ujarnya.

Tantangan global

Sponsored

Sri Mulyani mengatakan perdagangan secara internasional terbilang melemah, yang tadinya berada pada kisaran 4,7% kini hanya tumbuh sekitar 4% saja. 

Sri menilai Shutdown Amerika Serikat (AS) akan memperlemah pertumbuhan ekonomi di AS. Oleh karena itu, IMF mengatakan proyeksi ekonomi dipangkas 0,2%. Namun, dia meyakini pertumbuhan ekonomi bisa mencapai target. 

Lebih lanjut, Sri Mulyani mengatakan ekonomi AS saat ini sedang mengalami perlambatan. Oleh karena itu, Bank Sentral Federal Reserve juga akan tidak begitu agresif menaikkan suku bunga acuannya. 

Hal itu pun yang akhirnya membawa keuntungan bagi masuknya lagi dana asing ke Indonesia. 

"Ekonomi AS lagi melemah, oleh karena itu mereka akan menunggu (untuk tidak menaikkan suku bunga acuan). Itu bagus untuk kita, makanya capital flow agak normal lagi di akhir 2018, kita berharap bertahan di 2019," kata dia.