sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Pemprov Jateng dorong diversifikasi pangan

Konsumsi beras dan terigu di Jateng mencapai 91%.

Fatah Hidayat Sidiq
Fatah Hidayat Sidiq Rabu, 19 Agst 2020 14:35 WIB
Pemprov Jateng dorong diversifikasi pangan
Informasi mutakhir perkembangan Covid-19 di Indonesia bisa dilihat di sini
Terinfeksi 404.048
Dirawat 60.569
Meninggal 13.701
Sembuh 329.778

Pemerintah Provinsi Jawa Tengah (Pemprov Jateng) akan mempromosikan konsumsi umbi-umbian, seperti garut, uwi, ganyong, talas sukun, waluh, dan gembili guna memperkuat kedaulatan pangan. Pangkalnya, konsumsi beras dan terigu mencapai 91%.

Asisten Ekonomi dan Pembangunan (Ekbang) Sekretariat Daerah Jateng, Peni Rahayu, berharap, kebijakan diversifikasi pangan lokal sarat prebiotik ini mampu mengurangi defisit impor gandum. Juga menggerakkan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

“Masyarakat banyak yang beranggapan umbi-umbian sebagai makanan kelas dua. Padahal menurut penelitian, umbi-umbian adalah sumber prebiotik untuk meningkatkan imunitas dan saluran cerna," ujarnya pada "Gerakan Diversifikasi Pangan Lokal 2020" di Lapangan Tarubudaya, Ungaran, Kabupaten Semarang, Rabu (19/8).

Umbi-umbian, sambungnya, juga bisa diolah menjadi berbagai macam panganan. Kudapan, biskuit, mi, bakso, bubur, nugget, serta bahan pengental, penyalut, dan sebagainya.

Berdasarkan data, industri makanan jenis mi, biskuit, wafer, dan crackers, menyumbang kontribusi sebanyak 85%. Karenanya, potensi pengembangan kue dari umbi-umbian lokal terbuka lebar.

"Melihat besarnya potensi aplikasi tepung dan pati dari umbi-umbian lokal, maka pengembangan tepung dari umbi-umbian nantinya diharapkan menggeser kedudukan tepung terigu," ucapnya, menukil situs web Pemprov Jateng.

Dalam kegiatan tersebut dipamerkan kreasi panganan dari umbi-umbian lokal dan melibatkan 11 pelaku usaha pengembangan industri pangan lokal (PIPL). Salah satunya, kreasi mi pelangi oleh Kelompok Wanita Tani (KWT) Ceria asal Desa Pagersari, Patean, Kabupaten Kendal. Mi terbuat dari tepung singkong atau tapioka.

Ketua KWT Ceria, Eny Woro Subekti, menerangkan, penamaan mi pelangi diberikan karena produk memiliki beragam warna.

Sponsored

"Kami pewarnanya menggunakan bahan alami, seperti daun kelor, sawi, bayam merah, tomat, buah naga, dan sebagainya," ungkapnya.

Pengembangan usaha KWT Ceria didampingi dan dibina Dinas Ketahanan Pangan (DKP) Jateng. Selain bantuan alat, juga diberikan pelatihan dan pemasaran daring (online).

"Bantuannya berupa alat 10 macam alat, termasuk alat fortifikasi mi. Alhamdulillah, pesanan sekarang sudah banyak dari sekitar Kendal. Dari luar kota juga ada, tapi kami terkendala proses pengiriman karena produk kami, kan, lembut, berbeda dengan mi instan pada umumnya," tutupnya.

Berita Lainnya