logo alinea.id logo alinea.id

Pengusaha tekstil China mulai merangsek Jabar dan Jateng

Pengusaha tekstil dan produk tekstil masuk ke Indonesia tapi enggan berkolaborasi dengan pengusaha lokal.

Annisa Saumi
Annisa Saumi Rabu, 04 Sep 2019 17:48 WIB
Pengusaha tekstil China mulai merangsek Jabar dan Jateng

Kementerian Perindustrian menyatakan pengusaha pengolahan tekstil dari China semakin agresif masuk ke Jawa Barat (Jabar) dan Jawa Tengan (Jateng). Direktur Industri Tekstil, Kulit, dan Alas Kaki Kementerian Perindustrian Muhdori mengatakan, sayangnya, pengusaha tekstil dan produk tekstil (TPT) asal China ini enggan bekerja sama dengan pengusaha lokal.

"Pengalaman di industri tekstil dan alas kaki, banyak investor China yang masuk akuisisi di Jawa Tengah dan Jawa Barat, tapi mereka enggan kerja sama degan pengusaha dalam negeri," kata Muhdori di Jakarta, Rabu (4/9).

Menurut Muhdori, hal tersebut bertentangan dengan semangat investasi kolaboratif dan hanya menyebabkan distorsi di dunia industri.

Muhdori juga menyebut, apabila kondisi ini terus terjadi, ia khawatir target pertumbuhan industri manufaktur sebesar 7% pada 2024 akan terganggu. Mengingat, industri ini sempat mengalami pelambatan pada kuartal II-2019.

Dari data Badan Pusat Statistik (BPS), industri manufaktur hanya tumbuh 3,54% pada triwulan II-2019. Angka ini lebih rendah dari periode yang sama tahun lalu sebesar 3,88%.

Muhdori memandang ke depannya industri tekstil perlu masuk ke prioritas akses pembiayaan. Sebab, industri ini menurutnya mampu mengurangi defisit neraca transaksi berjalan (current account deficit/CAD).

Muhdori pun mengatakan Kementerian Perindustrian akan selalu mengikuti saran dari berbagai pihak agar sinkronisasi kebijakan mengenai industri ke depannya tidak egosektoral.

Meski demikian, Muhdori tetap optimis target ekspor TPT sebesar 15% tahun ini bisa tercapai. Sebab, hingga kuartal III-2019 ini, pertumbuhan industri TPT telah mencapai 17,3%. Selain itu, Muhdori menyebut terdapat peningkatan kapasitas di industri hulu yang semula hanya memproduksi 240.000 ton serat rayon per tahun, kini menjadi 410.000 ton per tahun.

Sponsored

Sebelumnya, BPS juga merilis kinerja ekspor industri TPT nasional dalam kurun tiga tahun terakhir terus menanjak. Pada tahun 2016 berada di angka US$11,87 miliar, kemudian di tahun 2017 menyentuh hingga US$12,59 miliar dengan surplus US$5 miliar. Tren positif ini berlanjut sampai tahun 2018 dengan nilai ekspor sebesar US$13,27 miliar.

Industri TPT juga masuk ke dalam lima prioritas pemerintah dalam revolusi industri 4.0 selain makanan dan minuman (mamin), elektronika, otomotif, dan kimia.