logo alinea.id logo alinea.id

Indonesia tak dilirik investor karena kurang berdaya saing

investasi yang kemungkinan masuk ke Indonesia dari China diperkirakan angkanya hanya 0,011%.

Cantika Adinda Putri Noveria
Cantika Adinda Putri Noveria Rabu, 28 Nov 2018 16:09 WIB
Indonesia tak dilirik investor karena kurang berdaya saing

Perang dagang antara China dengan Amerika Serikat masih terus berlanjut hingga saat ini. Meski diperkirakan Indonesia bisa mengambil keuntungan, lantaran pelaku usaha di China mulai ancang-ancang untuk merelokasi usahanya ke negara-negara berkembang di Asia Tenggara, namun faktanya tidak selalu demikian.

Menurut Direktur Eksekutif Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Enny Sri Hartati, investasi yang kemungkinan masuk ke Indonesia dari China akibat adanya perang dagang jumlahnya tak terlalu besar. Diperkirakan, angkanya hanya 0,011%.

“Alasannya, investor AS maupun Tiongkok akan lebih memilih negara tetangga untuk berinvestasi,” kata Enny dalam sebuah diskusi di Jakarta pada Rabu, (28/11).

Enny menilai, investasi yang berasal baik dari Amerika Serikat atau China tak sepenuhnya akan masuk ke Indonesia. Pasalnya, kemudahan menjalankan bisnis (ease of doing bussiness) di Indonesia kurang memiliki daya saing dengan negara-negara lain, seperti Malaysia, Thailand, dan Vietnam.

“Limpahan investasi tersebut kurang nendang bagi Indonesia, karena kalah dibandingkan dengan negara-negara tetangga. Peringkat daya saing Indonesia pada 2018 berada pada posisi 45. Jauh dibandingkan dengan Malaysia dan Thailand,” kata Enny.

Karena itu, Enny mengusulkan, strategi utama yang perlu dilakukan pemerintah untuk memanfaatkan kondisi perang dagang ini, salah satunya dengan cara melakukan ekspansi pasar dan penguatan pasar regional dengan memperluas pasar ke negara-negara dagang non-tradisional seperti Afrika dan Eropa Timur. Juga negara-negara yang teridentifikasi terdampak akibat adanya perang dagang tersebut. 

"Indonesia bisa menjadi penyuplai barang substitusi bagi negara tujuan ekspor," kata dia.

Selain itu, Enny mengatakan, agar pasar regional terus diperkuat dengan pemberian nilai tambah yang tinggi kepada produk-produk ekspor tujuan Asia Tenggara, di samping pemberian fasilitas pembiayaan, peminjaman, dan asuransi, misalnya penurunan atau pembebasan bea keluar untuk meningkatkan produktivitas ekspor.

Sponsored

Kebijakan pengendalian impor dengan cara menaikkan tarif bea masuk impor produk yang berdampak besar terhadap neraca perdagangan dan neraca transaksi berjalan juga perlu dipertegas. Dengan begitu, dapat memberikan insentif fiskal dengan memberi peluang bagi industri dalam negeri melalui kebijakan perpajakan yang memberikan kepastian, keamanan, dan kenyamanan.

"Dalam jangka panjang, pemerintah terus mengusahakan pembangunan infrastruktur yang tepat sasaran. Tujuan utamanya adalah menjadikan barang Indonesia lebih kompetitif. Logistik Indonesia masih kalah jauh, Ranking 46, dibanding negara ASEAN lainnya," ujar Enny.