sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Perdagangan dunia diramal minus 32%, bagaimana Indonesia?

Neraca perdagangan Indonesia Januari-April yang mencatatkan surplus sebesar US$2,2 juta. Namun, perlu diwaspadai.

Nanda Aria Putra
Nanda Aria Putra Senin, 08 Jun 2020 13:47 WIB
Perdagangan dunia diramal minus 32%, bagaimana Indonesia?
Informasi mutakhir perkembangan Covid-19 di Indonesia bisa dilihat di sini
Terinfeksi 1.322.866
Dirawat 158.408
Meninggal 35.786
Sembuh 1.128.672

Perekonomian dunia harus bertekuk lutut saat pandemi Covid-19 menyerang lebih dari 120 negara. Organisasi moneter dunia, IMF memperkirakan ekonomi dunia 2020 akan terpuruk minus 3% akibat virus yang pertama kali menyerang Wuhan, China ini.

Perdagangan dunia juga diprediksi tak sanggup menggeliat. IMF meramal perdagangan dunia tahun ini minus 11%. Perhitungan Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) bahkan lebih parah. WTO menyebut perdagangan dunia akan terperosok antara 13% hingga 32%.

"WTO bahkan meramalkan perdagangan dunia akan terhempas sangat dalam yaitu antara negatif 13% sampai negatif 32%," kata Plt. Direktur Jenderal Perdagangan Luar Negeri, Kementerian Perdagangan, Srie Agustina dalam video conference, Senin (8/6).

Namun, di tengah prediksi perlambatan pertumbuhan perdagangan dunia tersebut, perdagangan Indonesia dinilai masih menunjukan tren yang positif. Hal tersebut terlihat dari neraca perdagangan Januari-April yang mencatatkan surplus sebesar US$2,2 juta.

Surplus disumbang oleh peningkatan ekspor sebesar 0,44% secara tahunan atau year on year (yoy) menjadi US$53,95 miliar. Sementara impor mengalami penurunan 7,78% (yoy) menjadi US$51,71 miliar. "Kalau dilihat impor di April 2020 ternyata menurun cukup dalam sebesar minus 18,6%," ujarnya.

Bila digolongkan dalam penggunaan barang, impor Indonesia pada periode tersebut terdiri dari bahan baku sebesar 75,5%, barang modal dan konsumsi masing-masing 15,1% dan 9,4%. 

Nilai impor bahan baku selama Januari sampai April 2020 mencapai US$39,05 miliar atau turun 7,3% dibandingkan tahun lalu. Sementara impor barang modal turun 14,1%. Untuk impor barang konsumsi tidak begitu mengalami perubahan dibandingkan periode tahun lalu.

Meski demikian, dia mengatakan penurunan sejumlah impor bahan baku dan barang modal tersebut perlu diwaspadai karena menunjukkan terganggunya produksi sejumlah industri akibat pandemi Covid-19.

Sponsored

"Dengan indikator penurunan impor bahan baku dan barang modal ini perlu kita waspadai karena menunjukkan kegiatan industri dalam negeri tidak terlalu bergerak dan kemungkinan terganggu," ucapnya.

Berita Lainnya