sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Perhepi optimistis harga beras tahun depan normal

Pemerintah juga diminta memperkuat akses lalu lintas antar dan kirim logistik.

Tri Kurniawan
Tri Kurniawan Kamis, 31 Des 2020 17:40 WIB
Perhepi optimistis harga beras tahun depan normal

Wakil Ketua Umum Perhimpunan Ekonomi Pertanian Indonesia (Perhepi) Bustanul Arifin memprediksi, harga beras di tahun depan dalam angka yang normal. Situasi ini terjadi karena produksi yang sedang berlangsung dalam kondisi surplus.

"Catatan saya pada 2020 neracanya surplus. Dengan kata lain kalaupun panen raya berlangsung di Maret, maka saya berkeyakinan tidak akan ada lonjakan harga yang ekstrim karena Bulog terus melakukan operasi pasar dan penyerapan," ujar Bustanul dalam Indonesia Business Forum TV One, Rabu, (30/12).

Meski demikian, Bustanul meminta agar pemerintah memperkuat akses lalu lintas antar dan kirim logistik, yang selama pandemi Covid-19 mengalami kesulitan akibat pemberlakuan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB).

"Ketahanan pangan itu menyangkut ketersediaan aksebilitas dan konsumsi. Jadi konteks ketersediaan ini, mari kita tuntaskan dulu. Artinya kita harus mewaspadai persoalan akses logistik. Apalagi kita masih dalam kondisi pandemi. Itu harus kita perkuat," katanya.

Membangun sektor pertanian harus dilakukan oleh semua pihak, baik dari kalangan pemerintah, pengusaha, petani, maupun masyarakat secara luas. Pertanian tidak bisa dikerjakan oleh Kementerian Pertanian (Kementan) semata, namun juga harus melibatkan kementerian dan lembaga negara lainya.

"Memang sekarang ini yang dibutuhkan adalah leadership. Artinya menteri tidak bisa berjalan sendiri. Beliau tidak punya kewenangan di perdagangan atau di kesehatan, karena itu harus berjalan bersamaan. Harapan terakhir menurut saya ada di Menko Perekonomian. Dia yang harus membuat perencanaan karena ini menyangkut koordinasi dengan banyak kementerian," katanya.

Sebelumnya Menteri Pertanian (Mentan) Syahrul Yasin Limpo memastikan, ketersediaan bahan pokok untuk menghadapi perayaan Natal dan Tahun Baru 2021 dalam kondisi aman dan terkendali. Menurut Mentan, Indonesia memiliki stok beras yang cukup dengan produksi yang masih berlangsung.

"Pangan dasar yang kita kendalikan itu ada 11 dan semuanya dalam kondisi aman. Jadi ada beras, jagung, gula pasir, daging dan juga kebutuhan pokok lainnya. Insya Allah 11 komoditi ini aman sampai akhir tahun," katanya.

Sponsored

Mentan mengatakan, kecukupan sebelas bahan pokok ini merupakan hasil kerja keras dari semua pihak, termasuk koordinasi satu data satu pintu dengan Bulog dan Kemendag di bawah koordinasi langsung Kementerian Perekonomian.

"Masalah ketahanan pangan adalah masalah yang paling dalam, paling kompleks, namun juga starategis. Karena itu saya tidak boleh salah prediksi atau salah mengolah data. Alhamdulillah kita terus melakukan koordinasi antarlembaga yang sangat ketat, baik dengan Kemenko, Bulog atau dengan kementerian lain. Kita punya pemetaan yang sama dengan menggunakan digital," katanya.

Direktur Utama Perum Bulog Budi Waseso menambahkan, kolaborasi Bulog dan Kementan selama ini berjalan dengan baik. Bahkan, Bulog terus memantau jalannya produksi yang ada untuk menyamakan data sebelum dilakukan penyerapan.

"Kewajiban Bulog adalah mempersiapkan pangan di seluruh pelosok Tanah Air. Jadi kami mengikuti perkembangan masalah pangan, termasuk masa panen di Kementan. Alhamdulillah kami memiliki ketersediaan pangan yang cukup, ditambah program di Kementan yang membuat produksi semakin berjalan. Artinya kita sampai saat ini tidak melakukan impor," karanya.

Sementara itu, Deputi Bidang Koordinasi Pangan dan Agribisnis Musdhalifah Machmud memastikan, Indonesia secara keseluruhan mampu melewati defisit pangan. Bahkan, Indonesia memiliki stok pangan yang cukup, meski tengah menghadapi pandemi Covid-19.

"Alhamdulillah defisit pangan bisa dilewati. Bahkan dengan kondisi stok pangan kita cukup, meski pandemi Covid-19 masih berlangsung. Ke depan, kita akan terus memantau harga setiap hari untuk mengantisipasi kekurangan dan lonjakan harga. Jadi kalau harga mulai naik, maka kita minta Bulog melakukan operasi pasar. Karena itu Bulog harus segera melakukan penyerapan," tutupnya.

Berita Lainnya