sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

PermataBank catat penurunan laba bersih 51,9% di 2020

Menurunnya laba bersih ini disebabkan oleh menurunnya laba operasional perseroan sebesar 19,9% secara tahunan menjadi Rp1,59 triliun.

Annisa Saumi
Annisa Saumi Senin, 08 Mar 2021 17:49 WIB
PermataBank catat penurunan laba bersih 51,9% di 2020

PT Bank Permata Tbk. (BNLI) mencatat penurunan laba bersih menjadi Rp721,58 miliar di tahun 2020, atau turun 51,9% dari tahun sebelumnya sebesar Rp1,5 triliun. Menurunnya laba bersih ini disebabkan oleh menurunnya laba operasional perseroan sebesar 19,9% secara tahunan menjadi Rp1,59 triliun.

Sementara pendapatan operasional perseroan sebelum pencadangan tercatat sebesar Rp3,8 triliun atau meningkat 23,7% secara year-on-year (yoy) dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Pertumbuhan ini dikontribusikan oleh peningkatan pendapatan bunga bersih sebesar 14,2% dan pendapatan non-bunga sebesar 16,1% yoy

Pencapaian ini diikuti dengan perbaikan rasio marjin bunga (Net Interest Margin atau NIM) menjadi 4,7%, meningkat dari 4,4% di periode yang sama tahun lalu.

Direktur Utama PermataBank Ridha Wirakusumah mengatakan, total penyaluran kredit perseroan pada 2020 tercatat sebesar Rp118 triliun. Penyaluran kredit ini meningkat 9,2% dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu. Pertumbuhan kredit ini didukung oleh pengalihan aset Bangkok Bank Indonesia (BBI) melalui proses integrasi sebesar Rp17,3 triliun.

Sementara Non-Performing Loan (NPL) secara gross bank berkode saham BNLI ini tercatat sedikit meningkat ke level 2,9%, dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu sebesar 2,8%.

"Sejalan dengan prinsip kehati-hatian dalam menghadapi dampak Covid-19, PermataBank telah mengalokasikan biaya pencadangan penurunan kualitas aset yang cukup signifikan sebesar Rp2,2 triliun. Pencadangan dilakukan dengan memperhitungkan potensi peningkatan kerugian kredit sebagai akibat dari perlambatan pertumbuhan perekonomian yang berdampak pada profil risiko portfolio kredit," kata Ridha dalam keterangan resminya, Senin (8/3). 

Penambahan pencadangan ini ditunjukkan dengan peningkatan rasio NPL Coverage menjadi 239% di akhir tahun 2020, lebih tinggi dibandingkan rasio tahun lalu sebesar 133%.

Adapun likuiditas perseroan terjaga dengan baik, dibuktikan dengan rasio likuiditas Loan to Deposit Ratio (LDR) tercatat sebesar 79% di Desember 2020. Sementara rasio dana murah atau current account saving account (CASA) meningkat menjadi 51,2% meningkat 54 basis poin dibandingkan periode yang sama tahun lalu. 

Sponsored

Tercatat, total dana simpanan masyarakat tumbuh sebesar 18,4% yoy, dengan kontribusi terbesar dari pertumbuhan produk giro sebesar 25,3%, diikuti oleh tabungan dan deposito masing-masing 13,5% dan 17,1% yoy.

Rasio Capital Adequacy Ratio (CAR) dan Common Equity Tier 1 (CET-1) pada posisi Desember 2020 masing-masing sebesar 35,7% dan 26,9%. Posisi tersebut meningkat dibandingkan 19,9% dan 18,7% pada periode yang sama tahun lalu.

Naik jadi bank BUKU IV

PermataBank tercatat menjadi Bank BUKU IV berdasarkan surat konfirmasi Otoritas Jasa Keuangan (OJK) pada 20 Januari 2021. PermataBank tercatat membukukan total modal Rp43 triliun dengan rasio kecukupan modal atau CAR meningkat menjadi 35,7%. 

"Walaupun dihadapi dengan kondisi perekonomian yang penuh tantangan, kami dapat menyelesaikan proses akuisisi dengan Bangkok Bank. Permodalan dan likuiditas kami terjaga kuat seiring dengan keberhasilan proses integrasi dengan Bangkok Bank Indonesia yang berjalan lancar, diakhiri dengan masuknya PermataBank ke jajaran Bank BUKU IV pada akhir Januari 2021,” tutur Ridha.

Ridha pun menuturkan pihaknya optimistis menyambut 2021 dengan kinerja yang positif di 2020, serta status PermataBank yang telah menjadi BUKU IV.

"Kami akan tetap memfokuskan diri sebagai bank pilihan serta berupaya untuk dapat terus memberikan nilai bermakna dan Making A Difference bagi pemangku kepentingan kami,” ucap Ridha.

Berita Lainnya