close icon
Scroll ke atas untuk melanjutkan
Ilustrasi energi hijau. Foto Pixabay.
icon caption
Ilustrasi energi hijau. Foto Pixabay.
Bisnis
Minggu, 24 Desember 2023 19:29

Upaya perusahaan swasta tekan emisi: Pasang setrum hijau hingga hemat air

Perusahaan menekan emisi karbon dengan mengoperasikan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) hingga mengurangi penggunaan air.
swipe

Perusahaan swasta gencar menekan emisi karbon demi menyukseskan program net zero emission. Upaya yang dilakukan mulai dari mengoperasikan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) hingga mengurangi penggunaan air.

Primaya Hospital Group memasang panel seluas 2.800 meter persegi (m2) di atap gedung rumah sakit Primaya Hospital Bekasi Timur. Panel surya tersebut dapat menghasilkan energi bersih sebanyak 524.000 kWh setiap tahunnya atau setara dengan penekanan emisi karbon sebesar 469.000 kilogram per tahun. Sebagai gambaran, penekanan emisi karbon yang dihasilkan dari pemasangan PLTS Atap ini setara dengan dampak positif penanaman lebih dari 6.000 pohon.

"Isu pemanasan global telah menjadi perhatian seluruh dunia saat ini, termasuk kami di industri kesehatan. Pemasangan panel surya di gedung rumah sakit kami ini, dapat memberikan kontribusi positif untuk kesehatan bumi dan lingkungan yang berkelanjutan," ujar CEO Primaya Hospital Group Leona A. Karnali, dikutip Minggu (24/12).

Pemanasan global merupakan proses peningkatan suhu bumi yang berlebihan. Penyebabnya adalah gas rumah kaca (GRK) yang berlebihan dan terlalu banyaknya penggunaan energi fosil, seperti batu bara dan minyak bumi. Kementerian Perindustrian (Kemenperin) melaporkan, total emisi GRK dari sektor industri Indonesia mencapai 238,1 juta ton CO2e di tahun 2022. Penggunaan panel surya disebut dapat mengurangi emisi GRK dan dampak lingkungan negatif lainnya yang dihasilkan dari sumber energi konvensional.

Selain penggunaan panel surya, Primaya Hospital Group juga menerapkan program keberlanjutan lainnya seperti upaya pengurangan limbah plastik dengan mengganti air minum kemasan sekali pakai dengan tempat minum yang dapat digunakan berulang kali, menggunakan plastik obat dari bahan degradable, dan mengurangi penggunaan kertas melalui digitalisasi.

Sementara anak perusahaan PT Astra International Tbk., PT Federal International Finance (FIF) mengimplementasikan
environment, social, and governance (ESG) guna menjaga keberlangsungan kehidupan di muka bumi. Hal ini sekaligus merupakan bagian dari kepatuhan perusahaan terhadap Peraturan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Nomor 51/POJK.03/2017 tentang Penerapan Keuangan Berkelanjutan bagi Lembaga Jasa Keuangan, Emiten, dan Perusahaan Publik.

“Kami mengedepankan pertumbuhan berkelanjutan dengan berupaya untuk terus berinovasi pada seluruh proses bisnis FIF Group. Tentu menjadi sangat penting bagi perusahaan untuk mengedepankan bisnis yang memberikan dampak positif bagi lingkungan dan sosial dengan mengedepankan nilai-nilai keberlanjutan melalui implementasi ESG,” tutur Chief Executive Officer (CEO) FIF Group, Margono Tanuwijaya.

Human Capital, General Support, Corporate Communication, Environment, Health, Safety, Social Responsibility (EHSSR) and Sustainability Director FIF Group, Esther Sri Harjati menyebut komitmen perusahaan terhadap nilai-nilai keberlanjutan diwujudkan melalui FIFGROUP 2030 Sustainability Aspirations. Aspirasi itu disusun berpedoman pada Aspirasi Astra sebagai induk perusahaan.

"Untuk mewujudkan hal tersebut kami merumuskan strategi Triple-P, yaitu Portfolio, People, dan Public Contribution yang digunakan sebagai landasan dalam setiap inisiatif yang kami lakukan,” kata Esther.

Pada aspek Portfolio, ujarnya, perusahaan berkomitmen dalam transisi hijau baik dari sisi bisnis maupun operasional. Di tahun 2023 ini, portfolio pembiayaan berkelanjutan perusahaan mencakup pembiayaan solar panel, motor listrik, sepeda listrik, pembiayaan produktif usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), serta keringanan pembiayaan bagi sahabat disabilitas.

Adapun pada portfolio operasional, perusahaan yang merupakan bagian dari Astra Financial itu memprioritaskan pengurangan emisi GRK pada operasional bisnis perusahaan dengan target pengurangan sebesar 10,75% di tahun 2023. Esther mengatakan hingga kuartal III-2023, FIF Group mengurangi 12,7% emisi GRK yang dilakukan melalui pemasangan solar panel di 10 kantor cabang FIF Group pada tahun 2023. Dengan demikian, total solar panel terpasang menjadi 18 kantor cabang.

Perusahaan juga mendorong optimalisasi lampu light emitting diode (LED) yang dipasang di seluruh jaringan kantor cabang serta meningkatkan penggunaan bahan bakar ramah lingkungan seperti Biodiesel jenis B30. Lalu, turut berkontribusi dalam pembelian Renewable Energy Certificate (REC). REC sendiri merupakan instrumen berbasis pasar yang mewakili hak kepemilikan atas energi yang dihasilkan dari sumber energi baru terbarukan (EBT).

"Inisiatif yang ada pada aspirasi pengurangan emisi GRK tersebut juga mendorong pencapaian aspirasi peningkatan bauran EBT di lingkungan perusahaan dengan tingkat bauran yang mencapai 5,02% hingga kuartal III-2023. Angka ini melampaui target yang ditetapkan FIF Group, yaitu 4,83%," tuturnya.

Aspirasi lainnya mengurangi jumlah intensitas penggunaan air pada operasional bisnis perusahaan melalui program kampanye Bijak Menggunakan Air, meningkatkan penggunaan keran otomatis, serta melakukan recycle terhadap air yang sudah digunakan. Melalui aspirasi ini, perusahaan tercatat mengurangi intensitas penggunaan air sebesar 5,62% dan melampaui target yang telah ditetapkan, yaitu pengurangan intensitas air sebesar 4,5%.

Kemudian, meningkatkan pengolahan limbah terolah yang ditargetkan 28,13% pada tahun 2023. Hingga kuartal III-2023, telah dilakukan pengolahan limbah terolah sebanyak 34,9%. Inisiatif yang dilakukan yakni meningkatkan kerja sama dengan Bank Sampah untuk penyaluran limbah botol plastik di 92 titik kantor jaringan perusahaan, mengadakan pengolahan limbah botol plastik melalui program FIFGROUP Bijak Plastik, hingga meningkatkan awareness karyawan dengan kampanye Ayo Kurangi Sampah Indonesia (A.K.S.I) dan #MulaiDariKita.

Selanjutnya dalam strategi People, perusahaan menyelenggarakan berbagai program sebagai upaya dalam mewujudkan aspirasi dalam menciptakan lingkungan kerja yang aman, nyaman, dan sehat. "Pada strategi ini, kami menetapkan target ambang batas angka kecelakaan dan kematian yang diukur berdasarkan Lost Time Injury (LTI) Rate di angka 0,48," katanya.

Untuk menjaga keselamatan kerja karyawan tersebut, dilakukan program safety riding di seluruh jaringan perusahaan dengan melakukan inspeksi ketaatan berlalu lintas. Selain itu juga mengoptimalkan pengadaan sarana tanggap darurat dan keselamatan gedung, penyediaan work equipment (WEQ) yang mendukung keamanan karyawan lapangan, hingga pelaksanaan simulasi kesiapsiagaan dan tanggap darurat (KTD), serta pelatihan pertolongan pertama yang bekerja sama dengan Rumah Sakit Umum (RSU) Hermina Depok.

Sebagai bagian dari pencegahan, perusahaan melakukan Medical Check Up (MCU) untuk karyawan. Juga, menciptakan lingkungan kerja yang aman, sehat, dan inklusif serta mengedepankan kesempatan yang sama dalam menjunjung kesetaraan melalui program rekrutmen untuk karyawan disabilitas.

Lalu, pada aspek Public Contribution dilakukan lewat program corporate social responsibility (tanggung jawab sosial perusahaan) guna meningkatkan keberdampakan bisnis perusahaan kepada masyarakat.

img
Satriani Ari Wulan
Reporter
img
Satriani Ari Wulan
Editor

Untuk informasi menarik lainnya,
follow akun media sosial Alinea.id

Bagikan :
×
cari
bagikan