sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Erick Thohir: Pilihan tidak lockdown bukan semata-mata memproteksi ekonomi

Semua negara juga tidak memiliki formula untuk menangani Covid-19 dan memulihkan ekonomi.

Annisa Saumi
Annisa Saumi Selasa, 15 Sep 2020 10:55 WIB
Erick Thohir: Pilihan tidak lockdown bukan semata-mata memproteksi ekonomi
Informasi mutakhir perkembangan Covid-19 di Indonesia bisa dilihat di sini
Terinfeksi 252923
Dirawat 58788
Meninggal 9837
Sembuh 184298

Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) sekaligus Ketua Pelaksana Komite Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (KPCPEN) Erick Thohir menyampaikan, pilihan pemerintah yang tidak melakukan lockdown, bukanlah keputusan yang seakan-akan dilakukan untuk memproteksi kepentingan ekonomi.

Menurutnya, semua negara juga tidak memiliki formula untuk menangani Covid-19 dan memulihkan ekonomi. Sebab, pandemi seperti saat ini belum pernah terjadi di manapun.

"Formula penanganan Covid-19 masing-masing negara sangat berbeda karena belum pernah terjadi hal seperti ini. Di mana kesehatan sangat berdampak ke usaha dan ke moneter, yang kita bicarakan sebagai perfect stop," kata Erick dalam Kick Off Webinar Series 'Transportasi Sehat Indonesia Maju', Selasa (15/9).

Dia membandingkan negara G-20 seperti China, yang terkena pandemi terlebih dahulu sehingga memiliki proteksi lebih maju dan ekonominya sudah pulih. Namun, negara G-20 lainnya, seperti India, Inggris, Prancis, AS, kata Erick, maka Indonesia berada dalam posisi yang sangat baik.

Sponsored

Di mana pertumbuhan ekonomi India pada kuartal II-2020 tercatat tumbuh negatif 23%, Inggris tumbuh negatif 21,70%, Prancis tumbuh negatif 18,9% dan AS tumbuh negatif 9,10%.

Kemudian jika dibandingkan negara Asia Tenggara lainnya, pertumbuhan ekonomi Indonesia juga tercatat masih lebih baik. Tercatat pertumbuhan ekonomi Malaysia tumbuh negatif 17%, Filipina tumbuh negatif 16,5%, Singapura tumbuh negatif 13,2% dan Thailand tumbuh negatif 12,2%.

"Kita berharap nantinya, pertumbuhan ekonomi tahun depan bisa kembali positif. Tetapi kalau tumbuh benar-benar seperti sebelum Covid-19, semua memprediksi baru bisa terjadi pada kuartal I-2022," ujarnya.

Berita Lainnya
×
img