sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Pinjaman US$500 juta pemerintah Indonesia disetujui ADB

Pinjaman tersebut diperuntukkan bagi pemulihan dan rehabilitasi atas bencana alam di Lombok, Nusa Tenggara Barat dan Palu, Sulawesi Tengah.

Gema Trisna Yudha
Gema Trisna Yudha Selasa, 20 Nov 2018 17:30 WIB
Pinjaman US$500 juta pemerintah Indonesia disetujui ADB
Informasi mutakhir perkembangan Covid-19 di Indonesia bisa dilihat di sini
Terinfeksi 534.266
Dirawat 66.752
Meninggal 16.825
Sembuh 445.793

Asian Development Bank (ADB) menyetujui pinjaman bantuan darurat untuk pemulihan dan rehabilitasi dari bencana yang baru terjadi (Emergency Assistance for Recovery and Rehabilitation from Recent Disasters), yang diajukan pemerintah Indonesia. Dana pinjaman yang dikucurkan ADB senilai US$500 juta.

"Paket bantuan komprehensif dari ADB akan menyediakan dukungan pembiayaan yang cepat dan fleksibel bagi pemerintah agar dapat memitigasi dampak buruk akibat bencana alam," kata Direktur ADB untuk Divisi Manajemen Publik, Sektor Finansial dan Perdagangan Asia Tenggara, Sona Shrestha, Selasa (20/11).

Dana pinjaman ini diperuntukkan bagi pemulihan atas dua bencana alam yang melanda Indonesia, yaitu yang terjadi di Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB), dan Palu, Sulawesi Tengah.

Sona mengatakan, pinjaman ini akan menyediakan pendanaan bagi upaya pemulihan dan rehabilitasi atas dua wilayah terdampak bencana, yang dilakukan pemerintah. Dana tersebut akan dialokasikan untuk pembangunan tempat tinggal sementara, perlindungan sosial dan pelayanan sosial, serta pemulihan ekonomi melalui bantuan dana, skema perkreditan, dan program-program peningkatan keahlian.

"Modalitas pinjaman yang disalurkan dengan cepat akan memastikan bahwa pemulihan pasca-bencana dan pembiayaan rehabilitasi, dapat dipenuhi tanpa mengganggu pengeluaran pembangunan ekonomi dan sosial yang lain dalam anggaran negara," kata Sona.

Menurut data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) yang dirilis pada 10 September 2018, gempa Lombok menyebabkan kerusakan senilai Rp10 triliun dan kerugian sekitar Rp2 triliun. 

Dalam gempa yang terjadi sepanjang 29 Agustus hingga 9 September 2018, tercatat 564 jiwa menjadi korban dan 1.584 lainnya mengalami luka-luka. Selain itu, bencana ini menyebabkan 167.961 unit rumah mengalami kerusakan berat.

Sementara gempa, tsunami, dan likuifaksi yang terjadi di Sulawesi Tengah, menyebabkan kerusakan dan kerugian senilai Rp18,48 triliun. Dalam data BNPB per 28 Oktober 2018, nilai tersebut terdiri dari kerugian senilai Rp2,89 triliun dan kerusakan senilai Rp15,58 triliun.

Sponsored

Selain itu, terdapat 2.086 orang meninggal dunia dan 4.438 orang mengalami luka-luka. 1.309 orang lainnya dinyatakan hilang, dan 206.524 orang harus mengungsi dari tempat asalnya. (Ant)

Berita Lainnya