logo alinea.id logo alinea.id

PLN buka kemungkinan tawarkan obligasi Rp21 triliun

Dana tersebut akan dipergunakan untuk pembangunan proyek pembangkit dan transmisi, dalam upaya mewujudkan program 35.000 mega watt (MW).

Soraya Novika
Soraya Novika Senin, 04 Mar 2019 14:36 WIB
PLN buka kemungkinan  tawarkan obligasi Rp21 triliun

PT Perusahaan Listrik Negara (Persero) membuka kemungkinan menjual obligasi atau surat utang berdenominasi dollar Amerika Serikat (global bond) sebesar US$1,5 miliar atau sekitar Rp21,20 triliun (kurs Rp14.137,65) pada 2019 ini. 

"Insya Allah tahun ini. Tetapi kapan waktunya, kami lihat situsi pasar dan kebutuhan," ujar Direktur Keuangan PT PLN Sarwono Sudarto di The Dharmawangsa, Jakarta Selatan, Senin (4/3).

Dana tersebut akan dipergunakan untuk pembangunan proyek pembangkit dan transmisi, dalam upaya mewujudkan program 35.000 mega watt (MW). 

"Rencananya PLN tidak hanya menerbitkan global bond, tetapi juga local bond," ucapnya.

Sebelum global bond diterbitkan, pendanaan dilakukan melalui kas internal dan sindikasi perbankan, baik swasta maupun BUMN.

Setidaknya sudah ada sindikasi perbankan senilai Rp10 triliun yang telah menyatakan kesiapannya mendukung pendanaan PLN. Sindikasi perbankan tersebut semuanya berasal dari perbankan dalam negeri. 

"Sebagian besar juga untuk melakukan investasi," tuturnya. 

Saat dikaitkan peluang global bond dengan kondisi keuangan PLN, Sarwono menjamin arus kas BUMN listik tersebut masih dalam posisi aman. Hal itu disebabkan menguatnya rupiah terhadap dollar Amerika Serikat. Adapun kebutuhan belanja modal perusahaan (capital expenditure/capex) tahun ini sekitar Rp80 triliun.

Sponsored

"Bulan ini mulai kelihatan bagus. Semoga ke depan lebih bagus lagi,"  ujarnya.

Akan tetapi, Sarwono belum mau terbuka soal kondisi keuangan PLN pada 2018. PLN belum juga menyampaikan laporan keuangan hingga Maret 2019. Alasannya, masih dalam proses audit.

"Moga-moga bulan ini selesai auditnya, Insya Allah," ucapnya.

Dari sisi operasional, PLN diakuinya juga dalam kondisi yang sehat. Hanya saja, perseroan mengalami peningkatan beban produksi akibat pelemahan kurs rupiah. Namun demikian, PLN terus melakukan efisiensi operasional guna membuat beban kian mengecil. "Semakin sedikit yang dipakai, semakin efisien," katanya.

Pada laporan keuangan kuartal III 2018, PLN mencatatkan kerugian mencapai sebesar Rp18,5 triliun. Sementara di periode yang sama tahun sebelumnya, PLN masih membukukan laba Rp3,04 triliun.