sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Stafsus Menkeu: Prediksi tukang nujum tak selesaikan masalah ekonomi

Penanganan ekonomi domestik akan terus dilakukan melalui program PEN.

Nanda Aria Putra
Nanda Aria Putra Sabtu, 05 Sep 2020 12:57 WIB
Stafsus Menkeu: Prediksi tukang nujum tak selesaikan masalah ekonomi
Informasi mutakhir perkembangan Covid-19 di Indonesia bisa dilihat di sini
Terinfeksi 406.945
Dirawat 58.868
Meninggal 13.782
Sembuh 334.295

Staf Khusus Menteri Keuangan (Stafsus Menkeu) Bidang Kebijakan Fiskal dan Makro Ekonomi Masyita Crystallin mengatakan, setiap prediksi dari tukang ramal atau ahli nujum terkait perekonomian nasional di masa pandemi tidak akan menyelesaikan masalah.

Hal ini disampaikannya untuk menangkal persepsi miring para pengamat yang mengatakan Indonesia akan mengalami kontraksi lebih dalam pada semester kedua 2020. 

"Percuma juga jadi tukang nujum. Sebagai pemerintah kita tidak punya layer mengatakan tidak bisa mengatasi kondisi ini, yang harus dikatakan pemerintah adalah kita selalu mem-prepare, membuat skenario, membuat APBN se-fleksibel mungkin untuk bisa menjadi shock up sorber yang pas, dan kita enggak tau selesainya kapan," katanya dalam video conference, (5/9).

Masyita memastikan penanganan minus ekonomi domestik akan terus dilakukan melalui program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN).

"Saya percaya bahwa sebagai pemerintah kita memang harus selalu berusaha improve, memperbaiki diri agar respons kita menghadapi kondisi ini dan membantu masyarakat bisa lebih efektif," ujarnya.

Dia pun menolak anggapan bahwa perekonomian Indonesia terkena dampak yang jauh lebih buruk dari Singapura. Menurutnya, hal tersebut harus dilihat dari sisi konsumsi masyarakat.  

"Nah, khusus Indonesia sendiri tentu kita melihat perekonomian Indonesia di Kuartal kedua terkontraksi, jika dibandingkan dengan negara lain relatif lebih kecil. Karena demand masyarakat yang masih lebih baik. Karena di Singapura misalnya itu double digit kontraksi," ucapnya.

Dia menjelaskan, penyebab utama dari kontraksi ekonomi Indonesia adalah pandemik Covid-19. Ia beralasan, jika persoalan kesehatan global itu tidak, ada maka kemungkinan ekonomi Indonesia di kuartal kedua kemarin bisa tumbuh positif lebih tinggi dari kuartal pertama.

Sponsored

"Jadi kalau saya melihat second half (semester kedua) ini seharusnya sih sama dengan first half (semester pertama), paling tidak sedikit lebih baik, dengan asumsi pandemi di Indonesia cleaning. Akan tetapi banyak asumsi dalam hal ini ya. Memang kita harus siap dengan berbagai kemungkinan," tuturnya. 

Berita Lainnya