sun
moon
logo alinea.id logo alinea.id

Presiden sebut perlunya menteri investasi dan menteri ekspor

Presiden Jokowi menyebutkan dua menteri itu secara khusus akan menangani masalah sesuai bidangnya

Hermansah
Hermansah Selasa, 12 Mar 2019 14:41 WIB
Presiden sebut perlunya menteri investasi dan menteri ekspor

Presiden Joko Widodo menyebut kemungkinan perlunya menteri investasi dan menteri ekspor. Dua hal itulah yang menjadi kunci kemajuan dan pertumbuhan ekonomi Indonesia.

"Saya sudah sampaikan minggu lalu dalam forum rapat kabinet, saya bertanya apakah perlu kalau situasinya seperti ini, yang namanya menteri investasi dan menteri ekspor," kata Presiden Jokowi di Tangerang, Banten, Selasa.

Presiden Jokowi menyebutkan dua menteri itu secara khusus akan menangani masalah sesuai bidangnya. "Wong penyakit kita ada di situ," kata Jokowi.

Ia menyebutkan di negara lain seperti di kawasan Eropa, juga ada dua menteri itu.

"Di EU ada menteri investasi, ada menteri khusus ekspor, negara lain saya lihat juga sama. Mungkin dari sisi kelembagaan memang kita harus memiliki menteri investasi dan menteri ekspor. Dua menteri itu mungkin perlu," katanya.

Presiden mengaku "gregetan" karena sudah tahu masalah atau kekurangan yang dihadapi tapi tidak juga bisa menuntaskan masalah yang ada.

"Saya akan melihat alur ceritanya, akan saya lihat, ini ada yang gak bener di titik tertentu. Akan saya lihat, saya pasti akan menemukan, Insya Allah saya akan menemukan titik masalahnya," katanya.

Pada awal sambutannya, Presiden mengatakan kunci kemajuan dan pertumbuhan ekonomi Indonesia saat ini adalah investasi dan ekspor.

Sponsored

Terkait investasi, Jokowi mengatakan perang dagang AS-China merupakan peluang bagi Indonesia untuk menarik investasi.

"Investor yang investasi di China itu mulai goyang, mulai mencari tempat baru investasinya," katanya.

Ia mencontohkan industri mebel di negara itu yang mulai keluar dari China.

"Kita lihat industri menggunakan kayu, bambu, rotan di Guangzhou mulai keluar, tapi kenapa datangnya ke Vietnam? Padahal kayu ada di kita, raw material ada di kita, kayu ada di kita, bambu ada di kita, apa yang salah dari Indonesia?," katanya.

Ia juga menyebutkan ekspor mebel Indonesia ke AS saat ini hanya 3%, sedangkan Vietnam sudah menguasai 16%.

"Ini koreksi buat kita semua. Ini baru satu produk atau barang yang kita ceritakan, produk lain ya kurang lebih ya sama," katanya.

Dalam kesempatan itu, Presiden juga meminta semua pihak mempercepat pelayanan perizinan untuk investasi yang mengarah pada sektor hilir atau pengolahan dan industri petrokimia.

"Kalau sudah investasi sektor hilir dan petrokimia sudah dengan tutup mata berikan saja," katanya.

Khusus untuk investasi petrokimia, ia menyebutkan impor produk petrokimia saat ini sangat besar sehingga kontribusinya kepada defisit neraca transaksi berjalan juga besar. (Ant)