logo alinea.id logo alinea.id

Lewat PT PP, desa di NTT dan Sulut akan teraliri listrik

Pembangkit listrik akan dibangun di Desa Panaf, Kupang Barat dan Desa Bolaang Mangitang Timur, Sulut.

Annisa Saumi
Annisa Saumi Rabu, 11 Sep 2019 10:37 WIB
Lewat PT PP, desa di NTT dan Sulut akan teraliri listrik

PT PP (Persero) Tbk. melakukan penandatanganan kontrak pembangunan dua Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) di dua lokasi, yaitu Nusa Tenggara Timur dan Sulawesi Utara.

Masing-masing pembangkit berkapasitas 2x50 MW berlokasi di Desa Panaf, Kupang Barat, Nusa Tenggara Timur akan mengisi luasan sebesar 30 hektar dan pembangkit lainnya berada di Desa Bolaang Mangitang Timur, Bolaang Mongondow, Sulawesi Utara mengisi luasan sebesar 32 hektar milik PT PLN (Persero).

Penandatanganan kontrak yang dilakukan pada hari Senin (9/9) dihadiri oleh Direktur Utama Perseroan Lukman Hidayat beserta seluruh partner yang bertanggungjawab dalam penyelesaian proyek di Kantor Pusat PLN Jakarta.

Direktur Utama Perseroan Lukman Hidayat dalam keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI) mengatakan, dalam kontrak ini Perseroan berperan sebagai kontraktor yang akan bertanggungjawab dalam penyelesaian proyek, dengan bekerjasama bersama beberapa partner.

"Perseroan optimis dapat menyelesaikan proyek tersebut untuk unit pertama selama 36 bulan dan unit kedua selama 39 bulan. Dengan target tersebut, Perseroan optimis kedua PLTU tersebut dapat beroperasi pada tahun 2022," kata Lukman.

Proyek pembangunan PLTU Nusa Tenggara Timur dan Sulawesi Utara ini akan menelan investasi dengan potensi nilai total investasi mencapai lebih dari Rp8 triliun, di mana nilai kontrak Perseroan mencapai Rp2,1 Triliun. Dengan pembangunan PLTU Nusa Tenggara Timur dan Sulawesi Utara ini, diperkirakan akan melistriki beberapa desa dan kecamatan untuk di Nusa Tenggara Timur dan juga Sulawesi Utara dan sekitarnya.

Untuk diketahui, selama semester I-2019 PTPP baru meraih kontrak sebesar Rp14,81 triliun, mencapai 29,62% dari total target sepanjang tahun Rp50 triliun. Perolehan kontrak tersebut terdiri dari induk perseroan sebesar Rp13,15 triliun dan anak perusahaan sebesar Rp1,66 triliun. 

Direktur Utama PTPP Lukman Hidayat mengaku optimistis target kontrak baru perseroan sebesar Rp50 triliun sampai dengan akhir tahun akan tercapai.

Sponsored

"Sampai semester I-2019, perolehan kontrak baru sebesar Rp14,8 triliun. Lalu sampai Agustus ini jadi Rp23 triliun, sudah nambah di energi," ujar Lukman dalam paparan publik di Gedung Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Selasa (20/8). 

Kontrak baru yang diraih oleh PTPP sepanjang paruh pertama tahun ini didominasi oleh proyek Badan Usaha Milik Negara (BUMN). Kontribusinya hingga 68% mencapai Rp10,01 triliun.

Kemudian, kontrak baru yang dikantongi PTPP berasal dari sektor swasta dengan kontribusi 24% senilai Rp3,61 triliun. Selanjutnya proyek yang berasal dari dana APBN menjadi kontributor kontrak baru PTPP hingga 8% senilai Rp1,17 triliun.

Dari jenis atau tipe pekerjaan, kontrak baru PTPP meliputi proyek minyak dan gas sebesar 40%, gedung  24%, jalan dan jembatan 22%, dan industri 6%.

Keempat jenis proyek tersebut merupakan kontributor utama dari portofolio kontrak baru PTPP sampai dengan Juni 2019 dengan total kontribusi sebesar 92%. Sisanya, kontrak baru disumbang oleh proyek bandara 3%, kereta api 3%, irigasi dan pembangkit listrik masing-masing 1%.