sun
moon
logo alinea.id logo alinea.id

Rekor terburuk neraca perdagangan sepanjang sejarah RI

Neraca perdagangan mencatat rekor terburuk sepanjang sejarah Indonesia berdiri hingga saat ini senilai US$8,57 miliar.

Kudus Purnomo Wahidin
Kudus Purnomo Wahidin Rabu, 16 Jan 2019 03:56 WIB
Rekor terburuk neraca perdagangan sepanjang sejarah RI

Neraca perdagangan mencatat rekor terburuk sepanjang sejarah Indonesia berdiri hingga saat ini senilai US$8,57 miliar.

Ekonom senior Universitas Indonesia  (UI) dan Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Faisal Basri, mengatakan defisit neraca perdagangan sejak 1945 hanya terjadi tujuh kali. 

Angka impor yang lebih tinggi dari ekspor berakibat defisit neraca perdagangan terjadi pada 1945, 1952, 1961, 2012, 2013, 2014, dan tahun 2018.

Tekor neraca perdagangan 2018 tergolong ganjil lantaran tidak disebabkan oleh defisit minyak. Meskipun memang, defisit minyak melonjak 37% dari US$14,6 miliar tahun 2017 menjadi US$20 miliar tahun 2018.

Jika meliputi gas, sambungnya, bahkan lonjakan defisit migas lebih tinggi lagi, yaitu sebesar 44,2%, dari US$8,6 miliar tahun 2017 menjadi US$12,4 miliar tahun 2018.

"Saya sudah lihat datanya seperti saya pernah saya sampaikan, Januari-November saja rekor sepanjang sejarah US$7,5 miliar dan sekarang defisitnya sudah US$8,5 miliar," paparnya dalam diskusi publik yang digelar di bilangan Kuningan, Jakarta, Selasa (15/1). 

"Tapi tak sepenuhnya tepat kalau penyebab utamanya migas. Sebenarnya ekspornya naik tapi impornya melonja tiga kali lipat dari kenaikan ekspor, sadar atau tidak, di dalam tubuh pemerintah itu ada petinggi yang membuat jalan tol untuk memuluskan impor," imbuhnya.

Menurutnya, jika ditelusuri lebih seksama, penyebab utama lonjakan defisit perdagangan ternyata adalah kemerosotan tajam transaksi perdagangan nonmigas. Tak tanggung-tanggung, surplus perdagangan nonmigas anjok sebesar 81,4%, dari US$20,4 miliar tahun 2017 menjadi hanya US$3,8 miliar tahun 2018.

Sponsored

Surplus perdagangan nonmigas yang terpangkas sangat dalam bukan disebabkan oleh penurunan ekspor seperti terjadi tahun 2013. Pada tahun 2018, ekspor justru masih mencatatkan pertumbuhan sebesar 6,7% dibandingkan tahun sebelumnya. Namun, impor meningkat jauh lebih pesat sebesar 20,2% atau tiga kali lipat dari pertumbuhan ekspor. 

Ia menyebut hal ini tak bisa dilepaskan dari peran Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita. Faisal menuding Enggar memiliki kecenderungan membuka keran impor komoditas nonmigas dan berakibat tekor.

"Impornya kerap kali tajam, dan melebihi kebutuhan. Sebagai contoh beras di tahun lalu surplusnya itu 2,8 juta ton, tapi ada yang kebelet impor. Sehingga, Januari-November impor beras tertinggi sepanjang pemerintahan Jokowi yaitu 2,2 juta ton beras," paparnya.

Hal itu pun menurutnya terjadi pada impor komoditas lain seperti gula, jagung, dan garam. "Jadi saya semakin yakin itu tak hanya migas, minyak sih sebenarnya, kalau gas kita defisitnya surplus lebih sedikit, tapi selain itu diciptakan jalan tol impor," urainya.

Ia menjelaskan, mestinya Menteri Perdagangan mendorong ekspor setinggi-tingginya. Bukan justru sebalinya malah menciptakan jalan untuk melakukan impor.

"Menteri Perdagangan itu tujuannya mendorong ekspor setinggi-tingginya dan menjaga atau tak menciptakan jalan untuk impor," kata dia.

Setali tiga uang dengan Faisal, mantan Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Sumber Daya Rizal Ramli pun mengatakan hal serupa. Dia mengatakan, hal ini terjadi karena Menteri Perdagangan kurang bisa mengendalikan impor, sehingga membuat defisit perdagangan.

"Kalau menterinya doyan impor inilah hasilnya," pungkasnya.

Data defisit neraca perdagangan sepanjang 1945-2018 / BPS