sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Resep UMKM raup untung saat pandemi

Berkat penjualan online, UMKM mampu meraih untung di masa pandemi.

Fajar Yusuf Rasdianto
Fajar Yusuf Rasdianto Rabu, 27 Mei 2020 17:18 WIB
Resep UMKM raup untung saat pandemi
Informasi mutakhir perkembangan Covid-19 di Indonesia bisa dilihat di sini
Terinfeksi 59394
Dirawat 29740
Meninggal 2987
Sembuh 26667

Gempa Padang, Sumatera Barat pada 2009 silam telah memberi trauma mendalam bagi Rina Indrianti. Wilayah tempat tinggal Rina di Jalan Hos Cokroaminoto, Kota Padang termasuk yang terdampak paling parah. Sebanyak 313 orang tewas dari total 1.115 korban jiwa berasal dari kota ini. Sekitar 279.000 bangunan mengalami kerusakan serius. Rumah yang Rina dan keluarganya bersauh rusak cukup parah. Pondasinya miring dan nyaris roboh.

Usaha sang suami, jual-beli dan servis komputer, hancur lebur lantaran gempa berkekuatan 7,6 skala richter itu. Kondisi ini memaksa Rina dan suami angkat kaki dari Kota Padang demi memberi rasa aman bagi kedua anaknya yang masih kecil-kecil.

“Jadi kata keluarga cari aman saja. Ya sudah kami pindah ke Jakarta. Kami mulai dari nol lagi,” kisah Rina kepada Alinea.id melalui konferensi video, Kamis (21/5).

Selang setahun kemudian, Rina dan suami kembali memulai hidup baru di Ibu Kota. Keduanya sempat tinggal di kawasan Jakarta Pusat, sebelum akhirnya pindah lagi ke wilayah Tangerang, Banten.

Mula-mula, kenang Rina, ia dan suami mencari suaka baru dengan berjualan jam tangan, tas, dan pakaian di Pasar Senen, Jakarta Pusat. Waktu itu penjualan jam tangan murah memang sedang laris-larisnya. Tetapi usaha ini tidak berlangsung lama lantaran penyedia-barang-dagangannya harus terjerat razia oleh aparat keamanan.

Rina tidak menjelaskan secara terperinci mengapa supplier itu dirazia. Hanya yang pasti, kejadian itu membuat stok barang dagangan Rina tidak lagi tersedia. Walhasil, usaha mereka pun tutup.

“Tapi terus coba-coba deh gitu ya. Perjalanan gitulah. Segala macam kami coba karena di Jakarta hidup keras ya,” terang perempuan berusia 45 tahun itu sembari terus melanjutkan ceritanya.

Pada 2015, Rina kembali mencoba usaha baru. Kali ini, ia memilih berjualan masakan Padang, makanan khas kota kelahiran sang suami. Ia sendiri bukan orang Padang asli seperti suaminya. Sejak kecil ia besar di Bandung, Jawa Barat. Namun keandalannya dalam memasak tidak perlu diragukan.

Sponsored

Sedari remaja, Rina memang sudah hobi memasak. Kegemarannya itu dapat tersalurkan sewaktu ia tinggal di Padang. Sang mertua lah yang menjadi mentor khusus baginya dalam mengolah menu masakan khas Padang. Bekal resep dari sang mertua menjadi modalnya meramu hidangan khas Padang, sekalipun ia seorang Sunda tulen.

Resep mertua itu pula lah yang mengantarkan Rina memulai bisnis barunya. Konsep yang ditawarkan Rina cukup unik, yakni menyematkan tingkatan pedas yang berbeda pada setiap menunya. Mulai dari level pedas 1 sampai 7.

Menu yang ditawarkannya cukup beragam, mulai dari dendeng balado, rendang daging sapi, rendang paru, hingga teri balado. Total ada 29 produk masakan Padang yang dijualnya.

Ilustrasi olahan daging sapi. Foto Pixabay

Semua itu dikemas dalam plastik vakum dan dijual secara online (dalam jaringan/daring). Sebuah konsep yang belum banyak digunakan pelaku industri rumahan atau Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) pada masa itu. Melalui platform marketplace Tokopedia, ia mulai memasarkan produknya. Bisnis itu diberi nama ‘Uni Etty’.

Sekalipun bukan orang bernama Etty yang memasaknya dan bukan orang Padang yang meramunya, tanpa dinyana jualannya laku keras. Dalam sehari, Rina berhasil menjual setidaknya 50 paket masakan Padang kemasan 250 gram. Dengan harga Rp90.000-Rp110.000, Rina mampu mengantongi omzet sedikit-dikitnya Rp5 juta per hari.

Dendeng balado cabai merah, kata Rina, paling banyak menyumbang pundi-pundi baginya. Menu ini yang menurut pengakuannya, paling lezat dan banyak mendapatkan respons positif dari pelanggan.

“Dendeng balado cabai merah level 3 merupakan yang paling laris. Kurang-lebih kalau untuk (penjualan dendeng) cabai merah ya 75%,” kata ibu tiga anak itu.

Berkah dan tantangan kala pandemi

Digitalisasi yang dilakukan Rina sejak awal memulai bisnis membuat ‘Uni Etty’ tahan banting terhadap segala guncangan. Termasuk saat ini ketika pandemi Covid-19 menjalar ke Indonesia dan meluluh-lantakkan hampir semua sendi ekonomi negara selama tiga bulan terakhir.

Jika bisnis makanan pada umumnya mengalami penyusutan pendapatan, bisnis ‘Uni Etty’ justru merasakan hal yang sebaliknya. Penjualan mereka semakin moncer, meningkat lebih dari dua kali lipat dari hari-hari normal. Sejak dua bulan terakhir, sambungnya, penjualan ‘Uni Etty’ meroket hingga lebih dari 100 paket per hari. Omzetnya tidak perlu ditanya, paling minim Rp10 juta pasti dikantongi Rina dalam sehari.

“Kalau selama masa pandemi ini justru lumayan signifikan meningkat (penjualannya) ya. Dari pertengahan Maret. Mungkin orang-orang enggak bisa keluar beli (makanan), jadi lebih baik online gitu,” katanya.

Meski begitu, pandemi Covid-19 bukan berarti tidak memberi hambatan sama sekali bagi bisnis ‘Uni Etty’. Rina mengakui, penerapan kebijakan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) telah membuat rentang jarak pengiriman produknya sedikit menyusut.

Cakupan wilayah pengiriman produk ‘Uni Etty’ yang semula mampu menjamah seluruh kota di Indonesia, kini terbatas hanya di kawasan Jakarta, Bogor, Depok, dan Bekasi (Jabodetabek) serta beberapa distrik di pulau Jawa.

“Jadi untuk saat ini Jabodetabek yang paling banyak. Sama Bandung dan Yogyakarta. Semarang juga oke,” terangnya.

Selain itu, tingkat kepedulian orang-orang terhadap kesehatan semasa pandemi juga memberi tantangan tersendiri bagi Uni Etty. Ia mengaku sering ditanya pelanggan apakah produknya higienis atau tidak. Maklum, pandemi memang telah membuat banyak orang semakin peduli akan kebersihan.

Namun, tantangan ini bisa segera dijawab Rina dengan menerapkan beberapa cara baru dalam penyajian kemasan dan pengiriman produknya. Mulai dari menjaga jarak antar karyawan saat produksi, menerapkan standar higienis yang lebih tinggi menggunakan plastik vakum untuk kemasannya, dan memastikan produknya cepat sampai ke pelanggan.

Untung berjualan online

Terlepas dari kisah itu semua, Rina mengakui, berjualan secara daring memang telah banyak memberi keuntungan baginya. Tidak hanya di masa pandemi, tetapi juga pada waktu-waktu normal biasanya.

Pertama, ia tidak perlu membayar uang sewa tempat untuk menjalankan bisnisnya. Kedua, cara pemasarannya tidak repot. Ketiga dan masih banyak keuntungan lainnya, produknya bisa dilihat oleh orang di seluruh wilayah Indonesia.

Apalagi, beberapa platform jual-beli daring juga kerap memberikan promo menarik bagi penjual dan pembeli. Sebagai contoh, katanya, beberapa waktu lalu Tokopedia menggelar Festival Santapan Lezat edisi Ramadan 2020. Satu di antara sekian banyak promonya adalah gratis ongkos kirim (ongkir).

“Itu lumayan juga menguntungkan. Terus bisa menarik pembeli juga,” katanya.

Platform jual-beli daring seperti Tokopedia, tambahnya lagi, juga menawarkan berbagai macam fitur yang memudahkan penjual. Misalnya, fitur broadcast yang memudahkan penjual memberikan informasi kepada pelanggannya hingga penerapan kata kunci yang membantu pembeli mencari produk yang diinginkan dengan cepat.

Belum lagi dengan tambahan kolom komentar dan kelas (rating) untuk pelanggan di akun penjual Tokopedia. Kolom ini membantu penjual mendapatkan rekomendasi yang baik dari pelanggan, atau sebaliknya.

“Apa yang dicari di kata kunci pasti muncul semua. Terus dari segi toko juga kita bisa lihat ini tokonya gimana ‘kan bisa keliatan gitu,” terang ia.

Dukungan pemerintah

Fotografer memotret produk makanan di Banyuwangi, Jawa Timur, Rabu (22/4/2020). Kegiatan foto produk secara gratis yang bertema

Segala kemudahan dan ‘kekebalan’ inilah yang akhirnya membuat pemerintah begitu mendorong digitalisasi pelaku industri perumahan. Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi (Menko Marves) Luhut Binsar Pandjaitan bahkan sampai mengoordinasikan seluruh kementerian untuk saling bahu membahu memfasilitasi UMKM agar bisa memanfaatkan platform digital.

Melalui gerakan nasional #BanggaBuatanIndonesia yang diinisiasi oleh pemerintah bekerja sama dengan Tokopedia dan beberapa platform digital lainnya, kata dia, pemerintah bakal mendorong masyarakat untuk membuat produk berkualitas dan menjualnya secara daring.

Presiden Joko Widodo (Jokowi) juga sempat menyatakan pemerintah akan memberi ruang seluas-luasnya untuk transformasi digital pelaku industri rumahan. Kreasi anak bangsa dan produk-produk lokal bakal mendapat dukungan penuh oleh pemerintah.

Cara ini, sambung Jokowi, merupakan kiat agar bangsa ini mampu melewati masa pandemi. Tentunya juga agar ekonomi terhindar dari pelemahan yang semakin parah.

“Kami berupaya keras agar pandemi ini cepat berlalu, kita harus saling menjaga, saling mendukung dan saling membantu agar ekonomi tidak terkapar dengan membeli karya dan produk-produk Indonesia. Saya yakin dengan kepedulian kita bersama, semua bisa kita lewati,” kata Jokowi saat membuka acara peluncuran gerakan #BanggaBuatanIndonesia, Kamis (14/5).

Sementara dari sisi platform, CEO dan Founder Tokopedia William Tanuwijaya, juga mengaku bakal terus mendukung pemerataan ekonomi digital Indonesia. Bahkan Tokopedia, katanya, konsisten hanya memfasilitasi transaksi domestik selama 11 tahun berdiri.

“Artinya 100% penjual di Tokopedia berdomisili di Indonesia, sekitar 94%-nya adalah penjual berskala ultra mikro. Saat ini, sudah ada hampir 8 juta masyarakat Indonesia yang telah memulai dan mengembangkan bisnis mereka bersama Tokopedia,” papar William.

Dukungan akan gerakan nasional #BanggaBuatanIndonesia ini bertujuan mengakselerasi adopsi digital bagi para pelaku industri rumahan. Hal ini agar bisnis yang masih sepenuhnya dikelola luar jaringan (luring), dapat segera beroperasi kembali dengan membuka kanal daring.

Rencananya, gerakan nasional #BanggaBuatanIndonesia yang diluncurkan pada 14 Mei 2020 ini akan berlangsung hingga akhir tahun. Gelaran ini menjadi wadah bagi masyarakat untuk menemukan berbagai produk buatan kreator lokal.

Perlu diingat, bahwa UMKM atau industri rumahan adalah salah satu tonggak ekonomi negara yang paling banyak menyerap tenaga kerja. Berdasarkan data Kementerian Koperasi dan UKM (Kemenkop UKM) pada 2017, ada sekitar 107,2 juta tenaga kerja yang bergantung kehidupannya dari sektor UMKM.

Namun hingga saat itu pula, baru sekitar 3,79 juta atau 8% dari total UMKM di Indonesia yang memanfaatkan platform daring dalam memasarkan produknya. Padahal jika melihat situasi saat ini, digitalisasi  semakin terasa amat penting bagi pelaku UMKM.

Sebab, UMKM adalah tonggak ekonomi negara. Kalau UMKM remuk, maka hancur pulalah ekonomi suatu negara. Joseph Alois Schumpeter, seorang ahli ekonomi Amerika Serikat mengatakan, pertumbuhan ekonomi suatu negara sangat tergantung pada ketahanan UMKM-nya.
 
 Digitalisasi membantu UMKM meraih keuntungan. Alinea.id/Dwi Setiawan.

Berita Lainnya