sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

RI masih resesi: Covid-19 menakutkan, kelas menengah atas enggan belanja

Indonesia belum mampu bangkit dari jurang resesi.

Nanda Aria Putra
Nanda Aria Putra Kamis, 06 Mei 2021 06:22 WIB
RI masih resesi: Covid-19 menakutkan, kelas menengah atas enggan belanja

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal I-2021 masih mengalami kontraksi sebesar 0,74% secara tahunan atau year on year (yoy). Dengan begitu, Indonesia belum mampu bangkit dari jurang resesi.

Catatan BPS, minusnya ekonomi pada kuartal I-2021 ini disebabkan oleh lesunya konsumsi rumah tangga dan kontraksi Komponen Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB).

Padahal, dua komponen pengeluaran ini berkontribusi sangat besar terhadap pembentuk Produk Domestik Bruto (PDB), yaitu sebesar 88,9%.

Konsumsi rumah tangga, misalnya, yang berkontribusi terhadap PDB sebesar 56,9% masih mengalami kontraksi sebesar 2,3%, sedangkan PMTB yang kontribusinya 32% mengalami kontraksi 0,23%.

Melihat hal ini, Ekonom dan Direktur Riset Center of Reform on Economics (CORE) Piter Abdullah mengatakan kontraksi konsumsi rumah tangga pada kuartal pertama ini lebih dikarenakan kelas menengah atas masih menahan belanjanya.

Hal ini disebabkan oleh pandemi Covid-19 yang belum dapat ditanggulangi dengan baik dan masih tingginya tingkat ketidakpastian akibat virus yang telah memakan korban 3,2 juta jiwa di seluruh dunia ini.

"Kontraksi konsumsi lebih disebabkan oleh kelompok menengah atas yang masih menahan konsumsi di tengah pandemi. Perlu diingat, kontribusi kelompok menengah atas terhadap pertumbuhan konsumsi mencapai 80%," katanya kepada Alinea.id, Rabu (5/5).

Dengan kontribusi sebesar itu terhadap konsumsi rumah tangga, maka setiap kelompok menengah atas menahan belanjanya, akan sangat berdampak kepada pertumbuhan konsumsi secara keseluruhan.

Sponsored

Selain itu, belanja pemerintah yang disalurkan melalui bantuan sosial (bansos) dinilai belum mampu mengembalikan konsumsi masyarakat. Bansos, menurut Piter, hanya dapat membantu masyarakat bawah hidup lebih baik.

"Belanja pemerintah khususnya bansos tidak cukup untuk mengembalikan konsumsi (seperti semula). Bansos hanya untuk membantu masyarakat bawah agar mereka bisa berkonsumsi secara layak di tengah pandemi," ujarnya.

Adapun, belanja pemerintah pada kuartal I-2021 mengalami pertumbuhan positif sebesar 15,6% (yoy) atau dengan realisasi sebesar Rp523 triliun, di mana realisasi bansos sebesar Rp55 triliun atau tumbuh 16,5% (yoy).

Kendati demikian, Piter sama optimistisnya dengan pemerintah yang menyebut pada kuartal II-2021 pertumbuhan ekonomi akan kembali melonjak ke angka 3% hingga 4%, atau bahkan lebih.

Pertumbuhan ekonomi itu bisa dicapai dengan syarat tidak ada lagi gangguan dari peningkatan kasus positif Covid-19 dan adanya pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) di kuartal II.

"Dengan asumsi tidak ada pengetatan PPKM, kami perkirakan pertumbuhan ekonomi sudah akan positif, di kisaran 3%-4%," ucapnya.  

Sementara itu, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto sangat yakin laju perekonomian pada kuartal II-2021 akan tumbuh hingga di atas 7%. Asumsi itu memperkirakan PDB harga konstan di kuartal II-2020 yang relatif rendah dengan realisasi sebesar Rp2.589,8 triliun. Sedangkan, PDB harga konstan kuartal I-2021 lebih tinggi di angka Rp2.703,1 triliun.

"Apabila di kuartal I-2021 dipertahankan di Rp2.703 triliun, kami kira sudah dapat modal pokok (pertumbuhan ekonomi) 5,6%. Seperti diketahui, sejak kuartal II hingga IV tahun 2020, Indonesia rata-rata tumbuh 1,3% hingga 1,5%, sehingga dengan 5,6% jika tambah 1,3% bisa capai 6,9%," ujar Airlangga dalam video conference.

Berita Lainnya