sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Rupiah berpotensi kembali ke level Rp13.000

Selama sentimen positif ini bisa terus dijaga, bukan tidak mungkin rupiah terus melanjutkan penguatan kembali ke level Rp13.000.

Eka Setiyaningsih
Eka Setiyaningsih Senin, 07 Jan 2019 13:31 WIB
Rupiah berpotensi kembali ke level Rp13.000
Informasi mutakhir perkembangan Covid-19 di Indonesia bisa dilihat di sini
Terinfeksi 76981
Dirawat 36636
Meninggal 3656
Sembuh 36689

Data yang diterbitkan Bank Indonesia pagi ini menempatkan kurs referensi Jisdor di level Rp14.105 per dollar AS, melonjak 245 poin atau 1,71% dari posisi Rp14.350 pada Jumat (4/1).

Sementara itu, berdasarkan data Bloomberg, nilai tukar rupiah di pasar spot juga melonjak 246 poin atau 1,72% ke level Rp14.024 per dollar AS pada pukul 12.10 WIB.

Pada awal perdagangan pagi ini, nilai tukar rupiah dibuka menguat 0,64% atau 92 poin di level Rp14.178 per dollar AS, setelah pada perdagangan Jumat (4/1) ditutup menanjak 1,02% atau 147 poin di level Rp14.270 per dollar AS.

Sepanjang perdagangan pagi ini, rupiah bergerak di kisaran Rp14.021-Rp14.184 per dollar AS.

Analis PT Paramitra Alfa Sekuritas Kevin Juido mengatakan, faktor penguatan rupiah hari ini lebih kepada sentimen eksternal. Bahkan, dari sisi internal tidak ada peluang penguatan rupiah.

"Dollar index kemarin melemah 0,73% ke level 96,75, itu sebagai dampak kebijakan The Fed. Kalau kita perhatikan korelasinya, pada 2018 kemarin, The Fed menaikkan suku bunga empat kali. Jadi memang kalau lihat pergerakan secara annual, rupiah melemah dari Rp13.000an sampai dengan Rp14.000an dan sempat menyentuh Rp15.000an," ujar Kevin saat dihubungi Alinea.id, Senin (7/1).

The Fed berpotensi tidak seagresif pada 2018 karena ada beberapa indikator yang dilihat The Fed yaitu, potensi pelemahan dari Amerika Serikat.

Terlepas itu,  Bank Indonesia (BI) sendiri sudah menaikkan suku bunga cukup signifikan mengikuti arah pergerakannya The Fed. Sehingga, apabila potensi The Fed tidak terlalu agresif, saya rasa Indonesia juga tidak terlalu agresif dibandingkan tahun lalu," jelasnya.

Sponsored

Senada, Ekonom Institute for Development of Economic and Finance (INDEF) Bhima Yudhistira mengatakan penguatan rupiah pada hari ini karena faktor eksternal.

"Faktornya pelemahan ekonomi global di AS dan China membuat investor memindahkan dananya ke negara berkembang. Sebagai indikator dollar AS melemah terhadap hampir seluruh mata uang dominan lainnya. Dollar index menurun -1,25% dalam sebulan terakhir menjadi 96. Kondisi ini mirip dengan post krisis global 2008 dimana resesi AS menjadi berkah bagi negara berkembang karena masuknya capital inflow yang cukup deras," jelas Bhima kepada Alinea.id.

Menurutnya, rupiah berpotensi menyentuh Rp14.000 jika data ekonomi global semakin memburuk. Bahkan Bhima memprediksi rupiah berada pada kisaran Rp13.900-Rp14.000. "Itu proyeksi jangka pendek satu bulan ke depan," imbuhnya.

Sementara itu, Direktur Riset Center of Reform on Economics (Core) Indonesia Piter Abdullah mengatakan, perkembangan ekonomi global tidak cukup menjanjikan.

"Kalau nanti ada perubahan menjadi lebih baik misalnya, perang dagang terhenti, proses brexit berjalan baik, semua akan mendorong perbaikan pertumbuhan ekonomi negara utama, khususnya AS, maka trend kenaikan suku bunga bisa kembali berlanjut. Dampaknya rupiah bisa kembali tertekan melemah," ujar Piter.

Penguatan rupiah di awal tahun ini di dorong oleh rilis beberapa indikator makro yang positif. Adapun indikatornya seperti kinerja fiskal yang sangat baik, ditandai oleh penerimaan negara pada 2018 diatas 100%, defisit fiskal di bawah 2%, keseimbangan primer mendekati 0%, pertumbuhan ekonomi 5,15 serta inflasi yang terjaga di 3,13%.

"Indikator makro domestik tersebut ditambah lagi dengan keputusan pertamina menurunkan harga bahan bakar minyak (BBM) non subsidi" jelas Piter.

Sementara itu, dari sisi global masih diwarnai oleh bayangan melesunya ekonomi negara-negara ekonomi dunia seperti AS, China dan Eropa.

"Membaiknya indikator ekonomi kita di tengah melesunya ekonomi negara-negara utama tersebut memunculkan sentimen positif investor asing dan mendorong mengalirnya modal ke pasar keuangan Indonesia. Terlihat di besarnya minat pembeli sun global yang ditawarkan oleh pemerintah untuk pembiayaan APBN 2019 serta di lonjakan IHSG pada minggu pertama pada 2018," jelas Piter.

Lebih lanjut Piter menerangkan, selama sentimen positif ini bisa terus dijaga, bukan tidak mungkin rupiah terus melanjutkan penguatan kembali ke level Rp13.000.

"Peluang untuk itu saya kira cukup besar. Selama tidak ada perubahan di global, BI akan bisa memanfaatkan momentum secara perlahan membawa rupiah mendekati level fundamentalnya kembali ke kisaran Rp13.000an," tegasnya.

Senada, Managing Director Jagartha Advisors FX Iwan menyebut penguatan rupiah sebenarnya terjadi karena dua faktor, yakni faktor internal dan eksternal.

Dari sisi eksternal mata uang dollar AS cenderung melemah terhadap mata uang lainnya. Sementara dari sisi domestik, adanya penurunan harga minyak yang memberikan angin segar terhadap neraca transaksi berjalan yang diharapkan membaik karena nilai impor yang berkurang dan juga rilis pendapatan negara yang melampaui proyeksi memberikan sentimen positif bagi investor.

"Untuk tahun ini terdapat potensi penguatan yang lumanya untuk rupiah dengan kisaran Rp13.100-Rp14.200. Terutama apabila stabilitas politik terjaga pasca pemilu. Menurut kami, Rp13.800an ke atas sangat-sangat possible dalam kuartal I tahun ini," ungkap Iwan.

Kurs Referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor/Rupiah) per dollar AS

7 Januari Rp14.024

4 Januari Rp14.350

3 Januari Rp14.474

2 Januari Rp14.465

31 Desember Rp14.481

Berita Lainnya