sun
moon
logo alinea.id logo alinea.id

Rupiah melemah pascarilis data pertumbuhan ekonomi AS

Pertumbuhan ekonomi Amerika Serikat dinilai masih solid sehingga dolar menguat tipis terhadap rupiah dan mata uang lain.

Laila Ramdhini
Laila Ramdhini Jumat, 27 Sep 2019 10:33 WIB
Rupiah melemah pascarilis data pertumbuhan ekonomi AS

Nilai tukar (kurs) rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta pada Jumat (27/9) pagi melemah pascarilis data pertumbuhan ekonomi Amerika Serikat (AS). Ekonom Samuel Aset Manajemen Lana Soelistianingsih mengatakan perkembangan ekonomi AS masih terlihat solid dan belum menunjukkan potensi resesi yang kuat.

Dalam rilis ketiga ini, angka pertumbuhan ekonomi AS untuk triwulan II-2019 tercatat 2% (yoy). Angka itu tidak berubah dari pengumuman kedua sebelumnya, namun melambat dibandingkan triwulan I-2019 yang tercatat 3,1% (yoy). Perlambatan tersebut karena turunnya belanja konsumsi personal (personal consumption expenditure) dan ekspor.

Lana memperkirakan rupiah hari ini akan bergerak di kisaran Rp14.150 per dolar AS hingga Rp14.180 per dolar AS.

"Pagi ini mata uang kuat Asia dolar Hong Kong dan dolar Singapura dibuka melemah terhadap US dolar, yang bisa menjadi sentimen pelemahan rupiah, tetapi kemungkinan rupiah justru akan menguat secara teknikal karena sudah melemah tiga hari berturut-turut," kata Lana di Jakarta, Jumat (27/9).

Pada pukul 10.08, rupiah bergerak melemah 25 poin atau 0,18% menjadi Rp14.190 per dolar AS dibandingkan posisi sebelumnya Rp14.165 per dolar AS.

Sementara itu, kurs tengah Bank Indonesia pada Jumat ini menunjukkan, rupiah melemah menjadi Rp14.197 per dolar AS dibanding hari sebelumnya di posisi Rp14.162 per dolar AS.

Rilis pertumbuhan ekonomi AS

Di bidang ekonomi, Departemen Tenaga Kerja pada Kamis (26/9) menyatakan klaim pengangguran awal AS meningkat 3.000 menjadi 213.000 dalam pekan yang berakhir 21 September pada basis mingguan. Namun rata-rata pergerakan empat minggu untuk klaim pengangguran awal di AS mencapai 212.000, turun 750 dari rata-rata direvisi minggu sebelumnya.

Sponsored

Produk domestik bruto (PDB) riil AS naik pada tingkat tahunan sebesar 2% pada kuartal I-2019, menurut pengumuman ketiga yang dirilis oleh Biro Analisis Ekonomi pada Kamis (26/9).

Pertumbuhan PDB turun tajam dari laju 3,1% pada kuartal pertama, di tengah revisi turun impor, pengurangan dalam perhitungan PDB, pengeluaran konsumsi pribadi (PCE), dan investasi tetap nonresidential.

Namun, revisi naik untuk pengeluaran pemerintah negara bagian dan pemerintah daerah di Amerika Serikat serta ekspor membantu mengimbangi revisi turun itu.

Sentimen pasar juga tertekan, setelah sebuah panel kongres AS pada Kamis (26/9) merilis versi yang tidak diklasifikasikan dari pengaduan pengungkap fakta atau whistleblower tentang interaksi Presiden Donald Trump dengan rekannya dari Ukraina Volodymyr Zelensky.

Saham-saham di Wall Street berakhir lebih rendah pada perdagangan Kamis (Jumat pagi WIB), karena para pelaku pasar mempertimbangkan sejumlah data ekonomi suram, termasuk pertumbuhan PDB Amerika Serikat yang lemah untuk kuartal kedua.

Indeks Dow Jones Industrial Average turun 79,59 poin atau 0,30%, menjadi ditutup di 26.891,12 poin. Indeks S&P 500 berkurang 7,25 poin atau 0,24%, menjadi berakhir di 2.977,62 poin. Indeks Komposit Nasdaq ditutup turun 46,72 poin atau 0,58%, menjadi 8.030,66 poin.

Enam dari 11 sektor utama S&P 500 diperdagangkan lebih rendah di sekitar penutupan pasar, dengan sektor energi turun 1,24%, memimpin sektor-sektor yang merugi. (Ant)

Berita Lainnya