sun
moon
logo alinea.id logo alinea.id

Rupiah menguat sepekan, Sri Mulyani: Dampak ke APBN baru setahun

Penguatan rupiah terjadi dalam sepekan terakhir awal 2020.

Nanda Aria Putra
Nanda Aria Putra Selasa, 14 Jan 2020 19:38 WIB
Rupiah menguat sepekan, Sri Mulyani: Dampak ke APBN baru setahun
Informasi mutakhir perkembangan Covid-19 di Indonesia bisa dilihat di sini

Menteri Keuangan Sri Mulyani mengatakan dampak penguatan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) bagi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) baru terasa dalam satu tahun ke depan.

Sri menyebut penguatan rupiah baru terjadi dalam sepekan terakhir, sehingga dampaknya terhadap nilai transaksi minyak dan gas (migas) belum terasa. Pada hari ini rupiah ditutup menguat menjadi Rp13.665 per dolar AS.

"Ya kan kita masih akan lihat satu tahun ini. Biasa dinamika nilai tukar," katanya di DPD RI, Jakarta, Selasa (14/1).

Sri juga menuturkan, pemerintah akan menghitung melihat dampak penguatan rupiah berdasarkan perkembangan ekonomi nasional maupun global.

Dari sisi global, lanjut Sri, pemerintah masih menunggu kesepakatan antara AS dengan China, sebagai tindak lanjut dari perang dagang yang memicu perlambatan ekonomi global.

Selain itu, pemerintah masih terus menunggu pemangkasan suku bunga global agar aliran modal asing atau capital inflow masuk lebih banyak ke Indonesia.

Di lain sisi, dia mengatakan, penguatan rupiah juga harus dilihat dari defisit transaksi berjalan (current account deficit/CAD) yang masih lebar. Pasalnya, dengan penguatan rupiah, nilai ekspor akan lebih rendah daripada impor.

"Suku bunga yang rendah secara global itu menyebabkan capital inflow, tapi di sisi lain kita juga masih waspada karena CAD kita masih ada," ucapnya.

Sponsored
Berita Lainnya