logo alinea.id logo alinea.id

Rupiah menguat terdampak aliran modal asing

Hingga 19 Maret 2019, rupiah menguat hingga 1,05% secara point to point dan 0,85% secara rata-rata. 

Soraya Novika
Soraya Novika Kamis, 21 Mar 2019 16:36 WIB
Rupiah menguat terdampak aliran modal asing

Bank Indonesia (BI) menyatakan nilai tukar rupiah mengalami penguatan sejalan arus modal asing (capital inflow) yang masuk ke Indonesia. Gubernur BI Perry Warjiyo mengatakan, hingga 19 Maret 2019, rupiah menguat hingga 1,05% secara point to point dan 0,85% secara rata-rata. 

"Penguatan ini tentunya didukung oleh aliran masuk modal asing yang besar ke pasar keuangan domestik," ujar Perry usai Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI di Jakarta, Kamis (21/3).

Perry mengatakan aliran masuk tersebut terjadi pada pasar Surat Berharga Negara (SBN) sedangkan pasar saham mencatat aliran keluar.

Ke depan, sejalan prospek sektor eksternal yang membaik, Bank Indonesia memandang nilai tukar rupiah akan bergerak stabil sesuai dengan nilai fundamentalnya dengan mekanisme pasar yang tetap terjaga dengan baik.

Untuk mendukung efektivitas kebijakan nilai tukar dan memperkuat pembiayaan domestik, Bank Indonesia terus mengakselerasi pendalaman pasar keuangan.

"Khususnya di pasar uang dan valas," ucapnya.

Sebelumnya, aliran modal asing ke dalam negeri (capital inflow) di dua bulan awal 2019 sudah mencapai tiga kali lipat dari realisasi capital inflow sepanjang 2018. 

BI mencatat aliran modal asing yang masuk ke Indonesia dari awal 2019 sampai dengan 21 Februari 2019 (year to date) mencapai Rp45,9 triliun. 

Sponsored

Angka ini terdiri dari capital inflow Surat Berharga Negara (SBN) sebesar Rp33,9 triliun, ke saham senilai Rp11,3 triliun, serta Sertifikat Bank Indonesia (SBI) Rp1,1 triliun

Total capital inflow sepanjang 2018 senilai Rp13,9 triliun dan aliran modal asing ke luar (capital outflow) saham sebesar Rp6,5 triliun.

Sebagai informasi, nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) telah kembali menguat di pembukaan perdagangan hari ini. Rupiah berada di level Rp14.140,50 per dolar AS.

Dilansir dari Bloomberg Dollar Index, Kamis (21/3), rupiah pada perdagangan spot exchange dibuka menguat 93,5 poin atau 0,66 % ke level Rp14.094 per dolar AS. Rupiah hari ini bergerak di kisaran Rp14.093 - 14.115 per dolar AS.

Pelemahan ekonomi global 

Di sisi lain, Perry mengungkapkan pertumbuhan ekonomi global saat ini masih melambat. Hal ini juga mengakibatkan ketidakpastian di pasar keuangan dunia. 

Menurut Perry, perkembangan ekonomi dan keuangan global tersebut di satu sisi memberikan tantangan dalam mendorong ekspor, namun di sisi lain lebih positif bagi aliran masuk modal asing ke negara berkembang.

“Termasuk untuk aliran modal asing ke Indonesia,” katanya.

BI menyatakan faktor utama yang memperkuat pelemahan ekonomi dunia yakni ekonomi Amerika Serikat (AS) yang tengah tumbuh melambat. Hal ini disebabkan berkurangnya stimulus fiskal, menurunnya produktivitas tenaga kerja, dan melemahnya keyakinan pelaku usaha.

Demikian pula dengan pertumbuhan ekonomi Eropa diprakirakan makin melambat karena menurunnya ekspor akibat permintaan dari China yang terbatas, melemahnya keyakinan usaha, dan berlanjutnya ketidakpastian penyelesaian masalah Brexit.

Ekonomi China juga terpantau tumbuh melambat. Hal ini, menurut Perry, dipengaruhi oleh tertundanya stimulus fiskal dan belum meredanya ketegangan hubungan dagang dengan AS.

“Sejalan dengan pertumbuhan ekonomi dunia yang melambat, harga komoditas global, termasuk harga minyak dunia juga menurun,” kata Perry.


 

Riwayat Stasiun Gambir, dahulu jadi tumpuan

Riwayat Stasiun Gambir, dahulu jadi tumpuan

Senin, 14 Okt 2019 21:28 WIB
Denny Siregar: Saya bekerja tanpa komando

Denny Siregar: Saya bekerja tanpa komando

Sabtu, 12 Okt 2019 07:57 WIB