sun
moon
logo alinea.id logo alinea.id

Rupiah perkasa, cadangan devisa naik Rp5,8 triliun

Nilai tukar rupiah perkasa ke level Rp14.590 per dollar Amerika Serikat, membuat cadangan devisa bertambah US$400 juta, setara Rp5,8 triliun

Cantika Adinda Putri Noveria
Cantika Adinda Putri Noveria Rabu, 07 Nov 2018 19:19 WIB
Rupiah perkasa, cadangan devisa naik Rp5,8 triliun
Informasi mutakhir perkembangan Covid-19 di Indonesia bisa dilihat di sini
Terinfeksi 2273
Dirawat 1911
Meninggal 198
Sembuh 164

Nilai tukar rupiah perkasa ke level Rp14.590 per dollar Amerika Serikat, membuat cadangan devisa bertambah US$400 juta, setara Rp5,8 triliun.

Bertambahnya cadangan devisa ini terjadi untuk pertama kalinya sejak awal tahun 2018. Selama periode Januari-September, Cadev telah terkuras US$17,18 miliar setara Rp259,42 triliun.

Bank Indonesia merilis posisi cadangan devisa bertambah tipis menjadi US$115,2 miliar pada akhir Oktober 2018. Posisi itu meningkat dibandingkan dengan US$114,8 miliar pada akhir September 2018. 

Direktur Eskekutif BI Agusman menjelaskan, posisi cadangan devisa tersebut setara dengan pembiayaan 6,4 bulan impor atau 6,2 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah. 

"Serta berada di atas standar kecukupan internasional sekitar 3 bulan impor. BI menilai cadangan devisa tersebut mampu mendukung ketahanan sektor eksternal serta menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan," jelas Agusman seperti dikutip dalam siaran resmi, Rabu (7/11). 

Lebih lanjut, Agusman mengungkapkan, peningkatan cadangan devisa pada Oktober 2018 terutama dipengaruhi oleh penerimaan devisa minyak dan gas. Serta, penarikan utang luar negeri (ULN) pemerintah yang lebih besar dari kebutuhan devisa untuk pembayaran ULN pemerintah dan stabilisasi nilai tukar rupiah. 

"Ke depan, BI memandang cadangan devisa tetap memadai didukung keyakinan terhadap stabilitas dan prospek perekonomian domestik yang tetap baik, serta kinerja ekspor yang tetap positif," pungkas Agusman. 

Terpisah, Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Bhima Yudhistira memandang, beberapa faktor yang mempengaruhi cadangan devisa, terutama penjualan utang luar negeri pemerintah menarik devisa dari luar. Terutama, pada akhir tahun ada front loading utang untuk belanja pada 2019. 

Sponsored

"Kemudian, pada bulan September lalu, impor migas turun 25,2% dibanding bulan Agustus. Jadi kebutuhan dollar AS-nya sempat berkurang," jelas Bhima kepada Alinea.id, Rabu (11/7). 

Kabar baik lainnya, lanjut Bhima, harga minyak mentah dunia saat ini di bawah US$72 per barel. Turun dari puncak US$86 per barel. Menurut dia, BI tentu akan menghemat cadangan devisa untuk intervensi rupiah. 

"Ini strategi persiapan bulan Desember, dimana Fed Rate naik dan ada tekanan arus modal keluar. Ibaratnya BI hemat cadev untuk mempersiapkan perang yang lebih besar di akhir tahun sampai 2019." ujar Bhima. 

 
Berita Lainnya