logo alinea.id logo alinea.id

Rupiah terkoreksi dalam pascaserangan ke Saudi Aramco

Kenaikan harga minyak dunia membawa sentimen negatif bagi rupiah.

Annisa Saumi
Annisa Saumi Senin, 16 Sep 2019 17:28 WIB
Rupiah terkoreksi dalam pascaserangan ke Saudi Aramco

Serangan drone ke kilang minyak milik Aramco membuat Arab Saudi kehilangan sekitar 5,7 juta barel minyak per hari. Hal ini memicu naiknya harga minyak dunia.

Direktur Utama Garuda Berjangka Ibrahim Assuaibi mengatakan kenaikan harga minyak tersebut juga membawa sentimen negatif bagi rupiah. Sebab, kata Ibrahim, Indonesia adalah negara net importir minyak yang harus mengimpor karena produksi dalam negeri belum memadai.

Ibrahim mencatat sepanjang Januari-Juli, ekspor minyak dan gas (migas) Indonesia mencapai US$ 1,6 miliar sementara impor US$ 1,75 miliar.

"Tekor US$ 150 juta. Jadi kalau harga minyak naik, maka biaya impor migas bakal semakin mahal," kata Ibrahim, Senin (16/9).

Dengan demikian, lanjut Ibrahim, akan semakin banyak devisa yang terbakar untuk impor migas. Sehingga, membuat tekanan di neraca perdagangan dan transaksi berjalan (current account) meningkat.

"Saat devisa dari ekspor-impor barang dan jasa seret, maka fondasi penyokong rupiah menjadi rapuh karena bergantung kepada portofolio di sektor keuangan (hot money) yang bisa datang dan pergi sesuka hati," ujarnya.

Menurut Ibrahim, rupiah akan rentan melemah. Ibrahim mengatakan dibayangi risiko depresiasi, rupiah tentu tidak menjadi pilihan.

"Investor mana yang mau mengoleksi aset yang nilainya bisa melemah sewaktu-waktu?" katanya.

Sponsored

Berdasarkan Kurs Referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR), Rupiah Senin ini (16/9) melemah di level 14.020, dari penutupan hari Jumat di level 13.950.