sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Safeguard sebabkan industri tekstil manja dan sakit kronis

Safeguard disebut seperti obat, namun tanpa memberikan solusi lain dari permasalahan utama.

Nanda Aria Putra
Nanda Aria Putra Rabu, 13 Jan 2021 14:23 WIB
Safeguard sebabkan industri tekstil manja dan sakit kronis

Ketua Umum Ikatan Ahli Tekstil Indonesia (Ikatsi) Suharno Rusdi mengungkapkan pemberlakuan safeguard berkepanjangan hanya akan membuat industri tekstil nasional manja dan mengidap sakit kronis.

Safeguard sendiri adalah tindakan pengamanan yang membatasi perdagangan internasional untuk melindungi pasar domestik dari luapan impor.

"Safeguard yang diberlakukan terus menerus, akan merusak industri itu sendiri, industri akan menjadi manja, industri akan menderita sakit kronis," katanya dalam webinar, Rabu (13/1).

Layaknya orang sakit, lanjutnya, penerapan safeguard hanya seperti obat yang terpaksa diminum oleh penderita, tanpa memberikan solusi lain dari permasalahan utama yang dihadapinya.

Untuk itu, sambungnya, hal utama yang harusnya dilakukan oleh para pelaku industri tekstil dan produk tekstil (TPT) adalah dengan mengubah gaya hidup atau lifestyle dari industri TPT itu sendiri. Dengan demikian, iklim usaha di dalam negeri dapat lebih sehat dan mencegah terjadinya importasi ilegal.

"Solusi jangka panjang untuk mencegah importasi ilegal tekstil adalah dengan mengubah gaya hidup industri tekstil itu sendiri," ujarnya.

Sementara itu, terkait maraknya importasi ilegal dalam dua tahun terakhir, yaitu medio 2019-2020, menurutnya disebabkan oleh tingginya disparitas harga yang terdapat di dalam negeri dan luar negeri.

"Pada setiap terjadi penyelundupan barang atau produk, kami menengarai adanya perbedaan harga yang cukup tinggi di kedua daerah atau negara, baik produk tersebut berupa tekstil, bibit lobster, atau produk lainnya," ucapnya.

Sponsored

Penyebabnya menurutnya beragam, mulai dari suplai demand yang tidak seimbang, tata kelola industri yang tidak efisien, bunga pinjaman yang tidak kompetitif, hingga infrastruktur industri yang tidak mendukung.

"Jadi penyelundupan bukan hanya salah petugas bea cukai atau petugas pelabuhan yang main mata, atau aparat yang coba mencari income tambahan," tuturnya.

Untuk itu, dia mengimbau agar seluruh pihak bahu membahu membenahi sistem industri di dalam negeri. Khusus tekstil, menurutnya, perlu menciptakan industri nasional yang berdaya saing.

Di sisi lain, industri TPT telah menghemat devisa negara karena peran ekspornya yang cukup besar yaitu US$15 juta di 2019, dan sekitar US$12 juta di 2020. Juga dalam penyerapan tenaga kerja yang mencapai 3,6 juta orang di 2020.

"Ada hal yang fundamental harus diubah untuk menyelamatkan industri TPT kita," kata dia.

Berita Lainnya