sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Sektor keuangan jadi katalis, IHSG ditutup menguat 0,78%

Tercatat sebanyak 10,5 miliar lembar saham diperdagangkan dengan nilai transaksi mencapai Rp7 triliun.

Annisa Saumi
Annisa Saumi Senin, 12 Okt 2020 17:30 WIB
Sektor keuangan jadi katalis, IHSG ditutup menguat 0,78%
Informasi mutakhir perkembangan Covid-19 di Indonesia bisa dilihat di sini
Terinfeksi 404.048
Dirawat 60.569
Meninggal 13.701
Sembuh 329.778

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup menguat 0,78% ke level 5.093 pada perdagangan Senin (12/10). Sektor keuangan yang naik 1,83% dan sektor perkebunan yang naik 1,27% menjadi pendorong penguatan IHSG pada hari ini.

Tercatat sebanyak 10,5 miliar lembar saham diperdagangkan dengan nilai transaksi mencapai Rp7 triliun. Investor asing tercatat melakukan aksi jual bersih senilai Rp104,9 miliar.

Saham-saham yang paling banyak dibeli investor asing adalah BBCA, BULL, MDKA, BTPS, dan WSKT. Sementara saham-saham yang paling banyak dijual oleh investor asing adalah PGAS, ROTI, BBNI, BBRI, dan ICBP.

Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas Nico Demus mengatakan, pasar saham mulai menunjukkan adanya kehati–hatian menjelang pekan rilisnya kinerja keuangan kuartal III-2020.

"Kami melihat beberapa minggu ke depan cukup krusial bagi pergerakan IHSG. Di mana kinerja emiten pada kuartal III-2020 dapat memberikan gambaran yang cukup jelas terkait valuasi perusahaan," ujarnya.

Selain itu, tekanan dari tensi politik diharapkan dapat menjaga pergerakan IHSG pada zona positif. Meskipun saat ini tensi politik sudah cukup mereda, setelah pemerintah melakukan komunikasi, dalam menanggapi UU Cipta Kerja yang dinilai belum tersampaikan dengan baik dikalangan masyarakat pada Jumat lalu.

Bank Dunia juga telah menyoroti dampak baik maupun buruk Indonesia dalam penerapan UU Cipta Kerja. Bank Dunia menilai UU ini memiliki potensi untuk mendukung pemulihan pasca-Covid dalam waktu dekat, dan dinilai dapat menjadi pondasi untuk pertumbuhan jangka panjang yang lebih cepat.

"Namun hal negatifnya, relaksasi persyaratan untuk perlindungan lingkungan hidup akan merusak kekayaan sumber daya alam, yang sangat penting bagi mata pencaharian banyak orang dan dapat berdampak negatif terhadap investasi," katanya.

Nico melanjutkan, hingga penutupan sesi II awal pekan ini, pelaku pasar masih cukup optimistis pada peluang membaiknya birokrasi, setelah perombakan yang cukup besar di era kepemimpinan Joko Widodo yang ke dua. Namun, saat ini perlu adanya kelanjutan dari Perppu dan Perpres guna melihat cara pemerintah dalam mengeksekusi UU yang saat ini disebut sebagai Omnibus Law.

Sponsored

 

Berita Lainnya