sun
moon
logo alinea.id logo alinea.id

Siapa saja pemain industri pertahanan RI?

Hingga saat ini, tercatat ada 102 Badan Usaha Milik Negara/Swasta (BUMN/S) yang bergerak di industri pertahanan di Indonesia.

Fadli Mubarok
Fadli Mubarok Jumat, 08 Nov 2019 20:31 WIB
Siapa saja pemain industri pertahanan RI?

Kementerian Pertahanan mencatat terdapat 102 Badan Usaha Milik Negara/Swasta (BUMN/BUMS) yang bergerak di sektor industri pertahanan di Indonesia. 

Akan tetapi dari total tersebut, hanya separuh yang aktif atau sebanyak 54 perusahaan. Jika ditotal, BUMN dan BUMS itu memiliki aset senilai Rp17,3 triliun.

Pengamat militer Meidi Kosandi menjelaskan kondisi ini dilatarbelakangi oleh persaiangan yang cukup ketat. Apalagi, saat ini teknologi industri pertahanan terbilang tinggi.

"Terutama kalau kita perhatikan dengan di antara negara-negara maju, Amerika, Jerman, Inggris, Prancis, belum lagi Korea Selatan, China dengan baru belakangan masuk," kata Meidi saat berbincang dengan Alinea.id, Jumat (8/11).

Dikatakan Meidi, dalam industri pertahanan persaingan pasar sudah sangat besar. Hal itu membuat industri pertahanan dalam negeri terkesan masih minim perkembangannya lantaran industri pertahan Indonesia relatif baru.

Dia menambahkan, kebutuhan negara ihwal industri pertahanan juga sangat besar. Kendati demikian, semuanya tidak dibarengi dengan teknologi yang dibutuhkan.

"Jadi, bahakan saya kira saat kita mengekspor sedikit ke luar tapi sebenarnya untuk kebutuhan negeri sendiri memang teknologi yang dibutuhkan masih sangat kurang," terangnya.

Teknologi industri pertahanan Tanah Air masih belum bisa bersaing dengan negara-negara lain. Oleh karena itu, lanjut Meidi, Kemenhan di bawah kepemimpinan Prabowo Subianto sewajarnya harus megoptimalkan kembali perancangan strategis untuk pengembangan pasar, investasi, dan teknologi dalam bidang industri pertahanan. 

Sponsored

Apalagi, menurut dia, dengan adanya posisi Wakil Menteri Pertahanan (Wamenhan) yang berlatar pebisnis seperti Wahyu Sakti Trenggono.

"Sebagai contoh kita mau produksi berapa banyak dalam berapa tahun ke depan. Kira-kira pengembangan pasarnya seperti apa arahnya, kemudian eksekusinya," terangnya.

Terkait dengan alasan BUMN yang selalu menguasai industri pertahanan dan minimnya peran swasta, hal tersebut dikarenakan penguasaan teknologi pihak industri pertahanan swasta yang rendah. 

"Jadi bukan hegemoni BUMN. Pertama soal penguasaan teknologi, pasar yang sangat terbatas, kemudian persaingan tinggi, dan kemauan investasi besar merujuk pada kebutuhan nasional," paparnya.