sun
moon
logo alinea.id logo alinea.id

Siasat pemerintah capai pertumbuhan ekonomi 5,3% di 2020

Untuk mendongkrak pertumbuhan ekonomi pada 2020 pemerintah sudah menyiapkan dua cara.

Nanda Aria Putra
Nanda Aria Putra Selasa, 26 Nov 2019 18:49 WIB
Siasat pemerintah capai pertumbuhan ekonomi 5,3% di 2020

Pemerintah optimistis ekonomi Indonesia akan tumbuh sebesar 5,3% sesuai dengan asumsi makro pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2020. Bahkan, pertumbuhan ekonomi diyakini bisa melebihi angka itu setelah omnibus law yang mendorong kemudahan investasi dirampungkan.

Deputi Bidang Koordinasi Ekonomi Makro dan Keuangan Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Iskandar Simorangkir mengatakan selain karena omnibus law, optimisme terhadap pertumbuhan ekonomi sesuai target juga didorong konflik dagang antara Amerika Serikat dan China sudah mereda.

"Dengan adanya itu pasti nanti global demand naik (termasuk Indonesia)," ujarnya di Jakarta, Selasa (26/11). 

Indikator lainnya, kata Iskandar, realisasi tax holiday yang telah disetujui oleh pemerintah per 20 Oktober 2019 telah mencapai Rp525 triliun kepada 45 wajib pajak. 

Dua strategi utama 

Iskandar mengungkapkan, untuk mendongkrak pertumbuhan ekonomi pada 2020, pemerintah sudah menyiapkan berbagai upaya. Menurut dia, kunci utama yakni peningkatan konsumsi masyarakat.

Ada dua cara menggenjot konsumsi masyarakat. Pertama, Kemenko Perekonomian mendorong kementerian/lembaga termasuk pemerintah daerah mempercepat belanja hingga mengeksekusi proyek pemerintah pada triwulan I-2020.

"Jadi sebelum daya beli mereka turun, kita beri lebih dulu di depan sehingga masalah waktu penyaluran lebih cepat," kata Iskandar.

Sponsored

Menurut dia, percepatan belanja pemerintah hingga eksekusi proyek sudah ditekankan Presiden Joko Widodo ketika menyerahkan Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran (DIPA) 2020.

Ia mendorong kementerian/lembaga dan pemerintah daerah sudah mulai bersiap melakukan proses pengeluaran anggaran sejak Desember tahun ini, agar proses tender bisa dilakukan pada Januari 2020.

Dengan begitu, ia yakin konsumsi dan daya beli masyarakat bisa dipertahankan salah satunya melalui kebijakan fiskal tersebut.

Kedua, kata Iskandar, pemerintah akan mempercepat penyaluran bantuan sosial sehingga daya beli masyarakat bisa dipertahankan. Hal ini untuk menjaga pertumbuhan konsumsi 40% masyarakat berpenghasilan rendah agar tetap tinggi. Sehingga dapat menopang pertumbuhan ekonomi nasional.

 Iskandar menyebut hingga saat ini konsumsi menjadi kontributor terbesar (mencapai 56,8%) terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia.

Perkiraan Indef

Sebaliknya, Institute for Development of Economics and Finance (Indef) memproyeksikan ekonomi Indonesia di tahun 2020 hanya akan tumbuh sebesar 4,8%. Angka ini jauh dari proyeksi pemerintah yang mencapai 5,3%.

Direktur Eksekutif Indef, Tauhid Ahmad menjelaskan faktor penyebabnya adalah ketegangan perang dagang yang terus menguat sehingga menyebabkan tren pertumbuhan ekonomi dunia menurun, dan berdampak kepada perdagangan lintas negara.

Ketegangan tersebut, lanjutnya, berdampak kepada turunnya permintaan barang dari Indonesia dan secara langsung berdampak kepada penurunan pertumbuhan ekonomi nasional.

"Negara mitra dagang Indonesia pertumbuhannya slow down di 2020, China di bawah 6%, Amerika Serikat di bawah 2%, Jepang di bawah 1%. Itu yang membuat kita pesimistis pertumbuhan hanya akan tumbuh 4,8%," katanya.