sun
moon
logo alinea.id logo alinea.id

SKK Migas optimistis lifting tercapai lewat genjot eksplorasi

Kuatal I-2019, lifting minyak dan gas telah mencapai 1,8 juta barel setara minyak per hari. Namun, realisasi itu meleset dari target APBN.

Nanda Aria Putra
Nanda Aria Putra Kamis, 09 Mei 2019 00:28 WIB
SKK Migas optimistis lifting tercapai lewat genjot eksplorasi

Kuatal I-2019, lifting minyak dan gas telah mencapai 1,8 juta barel setara minyak per hari. Namun, realisasi itu meleset dari target yang ditetapkan dalam APBN 2019 sebesar 2 juta barel setara minyak per hari (barrel oil per day/BOPD)

Meski demikian, Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Migas (SKK Migas) optimistis target lifting tercapai. Untuk kuartal pertama 2019 lifting migas telah mencapai 1,8 juta BOPD. Angka ini didapat dari rincian 750.000 BOPD dari sektor minyak dan 5.909 juta standar kaki kubik per hari (Million standard cubic feet per day/MMSCFD) dari sektor gas.

Kepala SKK Migas Dwi Soetjipto optimistis akan mencapai target lifting sepanjang 2019. Ia mengatakan, saat ini telah ada tambahan sebelas proyek utama yang akan mulai berproduksi (onstream) pada tahun 2019.

“Tambahan produksinya mencapai 13.578 BOPD dan 1.172 MMSCFD, kami optimis target lifting dapat tercapai,” katanya di Kantor SKK Migas, Jakarta, Rabu (8/5).

Dia menjelaskan, proyek yang telah onstream pada 2019 adalah proyek Terang Sirasun Batur Phase 2 dan Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) Kangean Energy Indonesia yang estimasi produksinya sebesar 120 MMSCFD untuk investasi sebesar US$214 juta.

Selain itu, ia mengatakan terdapat lima proyek dengan aktualisasi di atas 60% yang diharapkan dapat onstream pada semester I-2019 dan lima proyek pada paruh kedua tahun ini.

“Kami harap semua proyek ini dapat berjalan di dua semester tahun 2019,” katanya.

Di lain sisi ia mengatakan investasi hulu migas hingga April 2019 mencapai US$3,17 miliar setara Rp44,38 triliun. Meski masih di bawah target 2019 sebesar US$17,79 miliar setara Rp249 triliun, ia mengatakan masih ada tambahan dari komitmen kerja pasti (KKP) di wilayah kerja Jambi Merang sebesar US$38,1 juta. 

Sponsored

“Secara kumulatif tambahan investasi dari KKP dan komitmen pasti (KP) hingga 2026 sebesar US$2,16 miliar,” katanya.

Sedangkan untuk kegiatan eksplorasi, ia mengatakan, dalam KKP dan KP sudah dialokasikan sebesar US$1,14 miliar untuk meningkatkan kegiatan eksplorasi.

Proyek yang akan onstream di 2019 meliputi proyek Seng Segat dengan 60 MMSCFD dan KKKS EMP Bentu Ltd. pada kuartal I-2019, Ario Damar Sriwijaya Phase 2 dengan 20 MMSCFD dan KKKS PT Tropik Energi Pandan pada kuartal III-2019, Suban Compression dengan 100 MMSCFD dan existing tetap 780 MMSCFD untuk KKKS Conoco Philips (Grissik) Ltd. kuartal III-2019, YY dengan 4.605 BPOD (minyak) dan 25,5 MMSCFD (gas) untuk KKKS Phe ONWJ di kuartal IV-2019, Bukit Tua Phase 3 dengan 3.182 BPOD (minyak) dan 31 MMSCFD (gas) untuk KKKS Petronas Carigali Ketapang II Ltd. pada kuartal IV-2019.

Kemudian, Buntal-5 dengan 45 MMSCFD dan KKKS Medco E&P Natuna Ltd. pada kuartal IV-2019, Bison Iguana Gajah Puteri dengan 80 MMSCFD dan KKKS Premier Oil Natuna Sea B.V di kuartal IV-2019, Temelat 10 MMSCFD dan KKKS Medco E&P Indonesia pada kuartal IV-2019, Panen 2.000 BPOD dan KKKS Petrochina International Jabung Ltd. pada kuartal IV-2019, serta Kedung Keris 3.800 BPOD dan KKKS Exxon Mobil Cepu Ltd. pada kuartal IV-2019.

Lifting gas bumi terbesar. / SKK Migas

Masa depan energi

Sementara itu, SKK Migas sedang gencar-gencarnya mengeksplorasi cadangan minyak dan gas raksasa di Indonesia. Untuk mendukung program ini, SKK migas membentuk badan Indonesia Oil and Gas Institute (IOGI) untuk mendorong kegiatan eksplorasi yang massif.

Dwi Soetjipto menuturkan, saat ini kegiatan untuk mencari potensi giant discovery tersebut telah berbuah hasil. Ia memaparkan sampai dengan April 2019 terdapat lima sumur eksplorasi yang berhasil menemukan hidrokarbon.

“Sebagian besar sumur-sumur baru yang ditemukan itu mengandung gas, untuk minyak hanya beberapa saja,” kata dia.

Ia melanjutkan, dengan ditemukannya potensi gas yang besar dari sumur-sumur raksasa tersebut sejalan dengan masa depan sumber energi dunia. Ia mengatakan, masa depan sumber energi adalah gas.

“Yang paling jelas harus disadari future itu adalah gas,” katanya. 

Ia mengatakan pemerintah dan semua pihak terkait harus mulai berpikir bagaimana melakukan transformasi dari minyak ke gas. 

“Oleh karena itu nanti kita akan lakukan pengintegrasian dengan perindustrian ke depan dengan berbagai mesin dan vehicle lainnya, didesain dan yang akan dipasarkan di Indonesia hendaknya adalah bahan bakar gas,” terangnya.

Untuk dapat mendorong hal ini terjadi, lanjutnya, dapat dilakukan dengan berbagai cara. Ia mencontohkan dengan memberi insentif. Ke depan, katanya, sektor hulu migas akan lebih banyak memproduksi gas daripada minyak.

Mostly 40% temuan-temuan baru kita memang adalah gas. Seperti Blok Masela itu gas. Minyak sangat kecil kita temukan,” ujarnya.

Dwi mengatakan, dengan ditemukannya sumur-sumur raksasa baru telah mendorong berbagai penawaran untuk membangun industri petrokimia. “Temuan itu mendorong investor untuk datang ke Indonesia, karena mereka melihat potensi yang besar,” katanya

Ia mengatakan sejak giatnya eksplorasi dari tahun 2018 hingga 2019 telah mendatangkan investasi sebesar US$170 juta. Investasi ini datang dari pengeboran 16 sumur. 

Sementara itu untuk target 2019, investasi yang dicapai masih jauh dari ekspektasi sebesar US$14,79 miliar. Investasi hulu migas hingga April 2019 saja, kata Dwi, baru mencapai US$3,17 miliar. Namun, ia masih optimistis lantaran masih ada tambahan investasi dari wilayah kerja Jambi Merang sebesar US$38,1 juta.

Sumur eksplorasi dengan kandungan hidrokarbon ditemukan pada sumur Pauman-1, Benewangi-J1X, sumur Randuwangi-1,sumur MSBY-03, dan sumur KBD-2X.

“Temuan ini akan menyokong lifting migas di masa yang akan datang,” katanya.