sun
moon
logo alinea.id logo alinea.id

Sri Mulyani: Dampak coronavirus lebih kompleks dibanding krisis global 2008

Wabah coronavirus jenis baru atau Covid-19 menimbulkan tekanan langsung terhadap individu masyarakat.

Laila Ramdhini
Laila Ramdhini Kamis, 05 Mar 2020 16:09 WIB
Sri Mulyani: Dampak coronavirus lebih kompleks dibanding krisis global 2008
Informasi mutakhir perkembangan Covid-19 di Indonesia bisa dilihat di sini
Terinfeksi 25773
Dirawat 17185
Meninggal 1573
Sembuh 7015

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menilai dampak dari coronavirus ke perekonomian dunia lebih kompleks dibandingkan tekanan ekonomi global pada 2008 akibat kebangkrutan bank investasi di AS, Lehman Brothers.

Menurut Sri Mulyani, wabah coronavirus jenis baru atau Covid-19 menimbulkan tekanan langsung terhadap individu masyarakat, bukan melalui sektor keuangan seperti pada 2008.

Tekanan langsung terhadap individu itu membuat kegiatan ekonomi dan kegiatan masyarakat lainnya terhambat, seperti sekolah yang diliburkan hingga pabrik yang ditutup. Hal itu menimbulkan tertundanya kegiatan masyarakat, termasuk produksi.

"Lebih rumit ini (coronavirus). Karena ini menyangkut manusia, merasa dia harus memberikan ketenangan dulu apa yang disebut dengan ancaman atau risiko terhadap mereka. Karena ini menyangkut diri langsung pada ancaman mereka, keselamatan, kesehatan, sampai pada kemungkinan terancam meninggal dunia, itu yang jauh dampaknya lebih langsung," ujar Sri di Istana Kepresidenan, Jakarta, Kamis (5/3).

Sewaktu tekanan ekonomi global di 2008, yang terjadi dalam jangka pendek adalah dampak akibat transmisi di industri keuangan. Memang pada 2008, krisis akibat bangkrutnya Lehman Brothers menimbulkan dampak rambatan seperti Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) pegawai dan penutupan korporasi.

"Tapi kalau ini (coronavirus) langsung ke orang yang sakit, jadi nature-nya lebih dalam karena masyarakat tiba-tiba menjadi 'setengah lumpuh'-lah," ujar dia.

Dengan demikian, ketika tekanan pada 2008 terjadi, efek rambatan dalam jangka pendek hanya menyentuh lembaga jasa keuangan. Sementara, dampak yang timbul karena coronavirus adalah dampak riil yang menghambat kegiatan masyarakat, termasuk roda perekonomian.

"Sekarang mungkin langsung mengena pada sektor riilnya. Karena menyangkut masalah orang yang tidak berani melakukan mobilitas, tidak melakukan kegiatan, itu pengaruhi sektor riil, investasi, manufaktur," ujarnya.

Sponsored

Oleh karena itu, kata Sri Mulyani, saat ini pemerintah Indonesia fokus mengeluarkan kebijakan untuk membendung dampak coronavirus ke sektor riil ekonomi, baik dari sisi permintaan maupun pasokan.

"Hal itu entah melalui berbagai relaksasi dan juga dari sisi permintaan supaya masyarakat, yang pertama, jangan merasa ketakutan yang membuat mereka tidak melakukan kegiatan apa-apa. Tapi risiko penyakit ini kan harus dibobot bener. Jadi kita juga dalam rekomendasinya tergantung dari persebaran itu," ujarnya.

Sri Mulyani menegaskan pemerintah akan terus mencermati dampak virus corona ke ekonomi domestik. Selain insentif ke pariwisata, pemerintah juga menyiapkan insentif ke industri manufaktur di paket stimulus tahap dua.

"Pemerintah sangat terbuka dalam hal ini. Makanya respons pertama fokusnya pertama yang langsung berhubungan dengan pariwisata, seperti hotel, restoran, maskapai. Tapi sekarang kita lihat lebih luas kepada sektor manufaktur," ujar Sri Mulyani. (Ant)

Cara berjuang masyarakat adat melawan Covid-19

Cara berjuang masyarakat adat melawan Covid-19

Jumat, 29 Mei 2020 16:49 WIB
Pandemi dan paras otoriter rezim Jokowi 

Pandemi dan paras otoriter rezim Jokowi 

Kamis, 28 Mei 2020 17:45 WIB
Berita Lainnya