sun
moon
logo alinea.id logo alinea.id

Sri Mulyani: Defisit adalah hukuman bagi negara berkembang

Negara dengan defisit transaksi berjalan atau current account defisit (CAD) seperti Indonesia akan mengalami kerugian.

Eka Setiyaningsih
Eka Setiyaningsih Rabu, 30 Jan 2019 17:57 WIB
Sri Mulyani: Defisit adalah hukuman bagi negara berkembang
Informasi mutakhir perkembangan Covid-19 di Indonesia bisa dilihat di sini
Terinfeksi 26940
Dirawat 17662
Meninggal 1641
Sembuh 7637

Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati mengungkapkan di tengah ketidakpastian kondisi pasar keuangan global saat ini, negara dengan defisit transaksi berjalan atau current account defisit (CAD) seperti Indonesia akan mengalami kerugian.

Menurut Sri, aliran dana asing akan meninggalkan negara-negara berkembang dengan CAD. Sehingga terjadi depresiasi nilai tukar seperti tahun lalu yang sempat mencapai Rp15.000 per dollar AS.

"Memiliki CAD bukanlah sebuah dosa, tetapi hukuman di tengah kondisi perekonomian seperti ini. Dan ini membuat pasar menjadi tidak ramah untuk negara berkembang," ujar Sri Mulyani di acara Mandiri Investment Forum 2019 di Hotel Fairmont, Jakarta, Selasa (30/1).

Sementara itu, kata Sri, upaya menekan CAD dalam negeri pun akan menimbulkan risiko. Sebab, jika terlalu menekan CAD, maka Indonesia harus mengurangi impor. Padahal, untuk menjaga momentum pertumbuhan, banyak produk konsumsi dalam negeri yang harus diimpor.

"Terkadang, di tengah kondisi yang tidak rasional pemerintah harus memimpin dan menunjukkan kepada pasar bahwa Indonesia memiliki banyak pilihan (kebijakan). Beberapa negara gagal menerapkan itu. Ketika pasar tengah gelisah, kita harus mengikuti kegelisahan itu," ujar Sri Mulyani.

Menurut Sri Mulyani, perlu dilakukan sinergi antara pemerintahan dan lembaga terkait. Sinergi tersebutlah yang menurutnya penting untuk menjaga stabilitas perekonomian Indonesia.

"Bank Sentral menaikkan suku bunga sampai tujuh kali dan saya atau Presiden tak berkomentar apa-apa. Menjalankan kepemimpinan di masa kampanye seperti saat ini memang sulit dan menyakitkan," ujar dia.

Sementara itu, Mantan Menteri Keuangan Chatib Basri mengatakan CAD yang dimiliki negara berkembang bukan masalah besar. Pasalnya, negara berkembang dinilai hanya memiliki bahan baku yang perlu diolah.

Sponsored

“Kita tidak memiliki mesin dan teknologi untuk mengolah. Sehingga perlu didatangkan dari luar,” kata dia.


 

Berita Lainnya