sun
moon
logo alinea.id logo alinea.id

Sri Mulyani didesak lakukan lobi ke negara maju demi rupiah

Pertemuan IMF-World Bank diyakini bakal menjadi kesempatan bagi Indonesia melakukan lobi-lobi politik untuk perekonomian Indonesia. 

Cantika Adinda Putri Noveria
Cantika Adinda Putri Noveria Kamis, 13 Sep 2018 09:41 WIB
Sri Mulyani didesak lakukan lobi ke negara maju demi rupiah

Pertemuan tahunan IMF-World Bank yang akan berlangsung pada Oktober 2018 mendatang, diyakini bakal menjadi kesempatan bagi Indonesia melakukan lobi-lobi politik untuk perekonomian Indonesia. 

Pengamat Ekonomi Yanuar Rizky menjelaskan, lobi bisa dilakukan terhadap negara maju agar mengendorkan normalisasi kebijakan di negara tersebut. Dengan demikian, tekanan nilai tukar rupiah terhadap dollar AS bisa berkurang.   

Apalagi, Menteri Keuangan Sri Mulyani dianggap memiliki global networking yang tinggi, sehingga mampu melakukan lobi-lobi itu. "Fungsi lobi itu, bisa nanti Sri Mulyani mengatakan, negara maju jangan egois sendiri dong. Bahwa kalau dia terus melakukan normalisasi kebijakan, korbannya kan negara kami," jelas Yanuar Rizky kepada Alinea.id, belum lama ini. 

Apabila didengar, negara maju ini bisa melanjutkan pembahasan di kongres. Dampaknya, Indonesia bisa mengambil nafas besar. 

"Kalau tidak ada jeda atas proses normalisasi kebijakan yang dilakukan oleh negara-negara maju, maka suka atau tidak suka, Indonesia akan menghadapi yang namanya gejolak ombak besar," imbuh Yanuar. 

Tahun ini, kata dia, Indonesia akan mengalami kirisis deep market atau pasar utang. Investor selalu menarik diri dari Indonesia menyusul terus naiknya suku bunga global.  

Pertemuan tahunan IMF-World Bank yang digelar di Bali ini, melibatkan 189 negara. Nantinya akan dihadiri oleh sekitar 15.000 delegasi. Ada 200 agenda pertemuan yang akan dilangsungkan dari tanggal 8-14 Oktober 2018.

Pemerintah mengklaim pertemuan itu akan memberikan efek positif terhadap Indonesia, khususnya Bali dan destinasi wisatanya. Diperkirakan, total perputaran uang selama acara berlangsung sebesar Rp880 miliar. Dana itu dari transaksi restoran, hotel, transportasi dan pembelanjaan. 

Sponsored