sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Sri Mulyani minta masyarakat tak memandang negatif soal utang negara

Selama digunakan untuk membangun infrastruktur agar masyarakat mendapatkan akses kesehatan dan pendidikan, utang tidak menjadi masalah.

Annisa Saumi
Annisa Saumi Sabtu, 18 Jul 2020 15:17 WIB
Sri Mulyani minta masyarakat tak memandang negatif soal utang negara
Informasi mutakhir perkembangan Covid-19 di Indonesia bisa dilihat di sini
Terinfeksi 406.945
Dirawat 58.868
Meninggal 13.782
Sembuh 334.295

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengamati, banyak masyarakat yang memiliki sentimen negatif terhadap utang negara. Utang dianggap sebagai sesuatu yang haram dan riba. Sehingga ada yang membenci utang, bahkan ada yang tidak bisa menerima.

"Kadang masyarakat kita sensitif bicara utang, apalagi pakai nada benci. Kalau ingin bicara kebijakan utang, kita bisa debat. Tetapi enggak usah sampai benci-bencian," ujar Sri Mulyani dalam siaran langsung bincang-bincang Kementerian Keuangan, Sabtu (18/7).

Selama digunakan untuk membangun infrastruktur agar masyarakat mendapatkan akses kesehatan dan pendidikan, utang-utang tersebut tidak menjadi masalah.

Kebijakan untuk tidak berutang menurutnya bisa saja diambil oleh pemerintah. Namun, kebijakan tersebut memiliki risiko, yaitu pemerintah harus menunda semua kebutuhan infrastruktur, pendidikan, dan kesehatan.

Sri Mulyani melanjutkan, seluruh negara di dunia juga berutang. Bahkan, negara-negara yang termasuk negara Islam juga berutang.

"Di cek aja, kalau teman-teman suka dengan model negara Islam, semua negara Islam juga berutang, mau Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Qatar, Tunisia juga berutang," katanya.

Dia mengatakan selama menjadi Direktur Pelaksana Bank Dunia, negara-negara Islam di Afrika yang mayoritas negara miskin biasanya mendapatkan utang dan diberikan hibah. Sehingga, dengan situasi tersebut, Sri Mulyani meminta masyarakat tidak memandang utang menjadi stigma.

Apalagi Kemenkeu terus mengelola keuangan negara secara seimbang, agar negara bisa terus berjalan. Sehingga, apabila negara memiliki utang, negara bisa membayar kembali dan mendapatkan pemasukan yang lebih besar.

Sponsored

"Kami upayakan mengelola keuangan dengan aman. Karena yang mengawasi keuangan negara banyak banget ada BPK, BPKP, lembaga rating, analis, banyak sekali yang melihat dan menilai kita," tuturnya. 

Berita Lainnya