logo alinea.id logo alinea.id

Sri Mulyani: MRT bikin Jakarta jadi kota modern

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menyebut adanya Moda Raya Terpadu (MRT) Ratangga membuat Jakarta menjadi kota modern.

Soraya Novika
Soraya Novika Kamis, 07 Mar 2019 22:14 WIB
Sri Mulyani: MRT bikin Jakarta jadi kota modern

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menyebut adanya Moda Raya Terpadu (Mass Rapid Transit/MRT) Ratangga membuat Jakarta menjadi kota modern.

Dia optimistis pembangunan MRT Ratangga dapat mengurangi berbagai persoalan inefisiensi sumber daya manusia (SDA) Indonesia utamanya Jakarta selama ini.

Pasalnya, moda transportasi sepanjang 16 kilometer dengan rute Stasiun Bundaran Hotel Indonesia hingga Stasiun Lebak Bulus ini hanya memerlukan waktu tempuh maksimal 30 menit saja. Dari ujung ke ujung hanya butuh waktu tempuh kira-kira satu menit sampai dua menit di setiap stasiunnya.

"Ini betul-betul akan mentransformasikan Indonesia khususnya Jakarta akan menjadi kota modern," ujar Sri Mulyani usai meninjau proyek MRT sebagaimana keterangan tertulis yang diterima Alinea.id, Rabu (6/3).

 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

PT MRT Jakarta membuka sebanyak 285.600 pendaftar untuk warga yang ingin melakukan uji coba Mass Rapid Transit atau Moda Raya Terpadu (MRT). Jumlah ini merupakan total uji coba untuk warga dari 12 Maret hingga 24 Maret 2019. Direktur Utama PT MRT William Sabandar menuturkan, selama uji coba maret belum berbayar dan tidak akan ada tiket. Hanya saja, bagi masyarakat yang ingin mencoba MRT diminta mendaftar di website MRT yaitu www.jakartamrt.co.id • • #alineadotid #ujicoba #MRT #bawahtanah #jakarta #infoterkini #jakartapagi #massrapidtransit #modarayaterpadu #jokowi #train #modern #teknologi #jakartamrt #beritaviral #alineasatumenit #kereta #LRT #KRL #transportasi #umum #indonesia

A post shared by Alinea (@alineadotid) on

Selisih waktu tempuh tersebut, menurut Menkeu, dapat dimanfaatkan untuk hal yang lebih produktif seperti bekerja, mengembangkan potensi diri, dan berolah raga (work-life balance). 

Pembangunan MRT juga memberikan keuntungan lain, seperti perpindahan penggunaan transportasi dari kendaraan pribadi ke transportasi publik dapat mengurangi penggunaan bahan bakar minyak (BBM), mengurangi kemacetan, dan mengurangi polusi udara di Jakarta.

Sponsored

Selain itu, pembangunan MRT akan menyumbang pertumbuhan ekonomi Indonesia, seperti peningkatan tenaga kerja (baik selama pembangunan dan operasional MRT), pengembangan hunian terjangkau, serta pertumbuhan nilai properti dalam kawasan.

Saat ini, 99% persiapan di stasiun bawah tanah dan depo serta stasiun layang MRT sudah selesai. Setelah beroperasi, proyek senilai Rp16 triliun ini akan memiliki 16 rangkaian kereta dengan enam gerbong di setiap rangkaian perjalanan dan dapat menampung 1.200 hingga 1.800 orang per rangkaian. 

Pendanaan Proyek MRT Fase I dan II berasal dari 49% APBN (on-granting) dan 51% APBD Pemerintah Provinsi DKI (on-lending). 

Menkeu menilai, pembangunan MRT dapat terealisasi karena menggunakan pendekatan ekonomi, yaitu dapat memangkas waktu tempuh perjalanan. Feasibility study yang sudah ada sejak tahun 1990 hanya fokus pada soal finansial khususnya untung-rugi, sehingga membuat proyek ini tidak dapat terealisasi selama 30 tahun.

Menurut INRIX Global Traffic Scorecard, pada tahun 2017 Jakarta menempati ranking 12 kota termacet di dunia, naik dari posisi 22 pada tahun 2016. Menurut Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional, kemacetan ini telah menimbulkan kerugian US$5 miliar setara dengan Rp67,5 triliun per tahun.