sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Sritex akan terbitkan surat utang global Rp4,6 triliun

Surat utang tersebut akan didaftarkan dan dikutip dalam daftar resmi dari SGX-ST atau bursa efek Singapura.

Annisa Saumi
Annisa Saumi Senin, 11 Jan 2021 15:31 WIB
Sritex akan terbitkan surat utang global Rp4,6 triliun
Informasi mutakhir perkembangan Covid-19 di Indonesia bisa dilihat di sini
Terinfeksi 1.322.866
Dirawat 158.408
Meninggal 35.786
Sembuh 1.128.672

PT Sri Rejeki Isman Tbk. (SRIL) atau Sritex berencana menerbitkan surat utang global dalam mata uang dolar Amerika Serikat. Rencananya, obligasi global ini diterbitkan dalam jumlah pokok sebanyak-banyaknya US$325 juta atau setara Rp4,6 triliun (kurs Rp14.155/US$).

Presiden Direktur Sri Rejeki Isman Iwan Setiawan Lukminto dalam keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI) mengatakan, penerbitan obligasi ini akan dijamin oleh PT Sinar Pantja Djaja, PT Bitratex Industries, dan PT Primayudha Mandirijaya, yang merupakan anak usaha perseroan.

"Surat utang akan ditawarkan kepada investor di luar wilayah negara Republik Indonesia," ujar Iwan, Senin (11/1).

Dia melanjutkan, setelah surat utang diterbitkan dan ditawarkan, surat utang tersebut akan didaftarkan dan dikutip dalam daftar resmi dari SGX-ST atau bursa efek Singapura.

Adapun lembaga pemeringkat Moody's Investor Service, tercatat telah memberikan peringkat Corporate Family Rating (CFR) Sritex B1 dengan outlook negatif pada surat utang senior tanpa jaminan Sri Rejeki Isman.

"Penerbitan obligasi akan meningkatkan likuiditas Sritex dengan memperpanjang profil jatuh tempo utangnya dan dapat digunakan untuk mendukung modal kerja dan kebutuhan operasional lainnya," kata analis Moody's Stephanie Cheong, Senin (11/1).

Moody's menjelaskan, peringkat B1 Sritex mencerminkan peringkat tersebut mempertimbangkan ketergantungan perusahaan pada pendanaan jangka pendek, untuk mendukung kebutuhan modal kerja. Peringkat tersebut juga memasukkan risiko tata kelola yang timbul dari struktur kepemilikan perusahaan yang terkonsentrasi dan transaksi pihak berelasi.

Sementara prospek negatif mencerminkan meningkatnya risiko pembiayaan kembali yang terkait dengan pinjaman sindikasi Sritex senilai US$350 juta, yang jatuh tempo pada Januari 2022 di tengah kondisi pasar yang sulit.
 

Sponsored
Berita Lainnya