sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Perundingan stimulus fiskal AS sampai UU Cipker pengaruhi gerak pasar pekan depan

Aksi penolakan Omnibus Law UU Cipker tidak membuat pelaku pasar panik.

Annisa Saumi
Annisa Saumi Minggu, 11 Okt 2020 15:03 WIB
Perundingan stimulus fiskal AS sampai UU Cipker pengaruhi gerak pasar pekan depan
Informasi mutakhir perkembangan Covid-19 di Indonesia bisa dilihat di sini
Terinfeksi 404.048
Dirawat 60.569
Meninggal 13.701
Sembuh 329.778

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada pekan pertama Oktober tercatat mengalami pergerakan yang variatif dan ditutup pada zona positif. Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat terjadi peningkatan rata-rata nilai transaksi harian 24,22% menjadi Rp8,33 triliun, dari Rp6,7 triliun pada penutupan pekan lalu.

Peningkatan nilai transaksi harian tersebut, diikuti oleh kenaikan rata-rata volume transaksi menjadi 11,02 miliar saham. Selain itu, kapitalisasi pasar bursa saham juga meningkat 2,58% selama sepekan menjadi Rp5.877,4 triliun.

Dengan pergerakan selama sepekan tersebut, Direktur Anugrah Mega Investama, Hans Kwee mengatakan, pasar saham pada pekan depan akan dipengaruhi oleh beberapa sentimen baik dari dalam negeri maupun luar negeri.

Hans menuturkan, sentimen pasar pada pekan kedua Oktober datang dari pasar keuangan yang berfluktuasi akibat naik turunnya kemajuan perundingan stimulus fiskal di Amerika Serikat (AS).

"Pasar sempat bereaksi negatif ketika Presiden AS Donald Trump membatalkan negosiasi pada awal pekan. Tetapi, sesudah itu Trump memberikan dukungan stimulus terutama bantuan untuk maskapai penerbangan dan langkah-langkah stimulus lainnya," kata dia, Minggu (11/10).

Namun, lanjutnya, Ketua DPR Nancy Pelosi menolak gagasan Rancangan Undang-Undang (RUU) Mandiri untuk bantuan maskapai penerbangan tanpa kesepakatan stimulus yang lain. Saat ini, Hans mengatakan, ekonomi AS sangat membutuhkan stimulus fiskal menyusul perlambatan pemulihan ekonomi yang terjadi.  

Diperkirakan, negosiasi paket stimulus fiskal untuk mengatasi Covid-19 akan terus berlanjut pada pekan ini. Meskipun, peluang tercapai kesepakatan sebelum pemilu AS kecil, tetapi kemajuan perundingan menjadi sentimen positif bagi pasar.

"Pelaku pasar mulai mengantisipasi peluang kemungkinan terpilihnya kandidat presiden Demokrat, Joe Biden, pada pemilihan presiden 3 November 2020," ujarnya.

Sponsored

Menurut Hans, kemenangan Biden dan Demokrat akan membuka peluang stimulus fiskal yang lebih besar sehingga mempercepat pemulihan ekonomi negatif tersebut. Kemenangan Biden diperkirakan akan membuat kebijakan ekonomi AS menjadi lebih pasti dan berbeda dengan Trump yang labil dan bisa berubah setiap saat tergantung mood.

Dari dalam negeri, sentimen datang dari pengesahan Omnibus Law Undang-Undang Cipta Kerja (UU Cipker) oleh DPR yang dipandang memberikan banyak sentimen positif bagi dunia bisnis dan ekonomi Indonesia.

Meskipun, terjadi aksi penolakan Omnibus Law UU Cipker, Hans menuturkan, hal ini tidak membuat pelaku pasar panik. Menurutnya, pasar saham tetap positif karena demo berlangsung pendek dan tidak punya pengaruh besar pada perekonomian. 

Tetapi, demo yang berlangsung di tengah pandemi Covid-19 dikhawatirkan akan menyebabkan klaster baru penyebaran Covid-19. "Kami perkirakan akan terjadi lonjakan kasus positif Covid-19 satu minggu setelah demo yang terjadi," tuturnya.

Berita Lainnya