sun
moon
logo alinea.id logo alinea.id

Wawancara: Strategi Kementerian Perhubungan hadapi ancaman coronavirus

Penutupan penerbangan dari dan menuju China berdampak pada badan usaha transportasi. Apa langkah Kementerian Perhubungan?

Nanda Aria Putra
Nanda Aria Putra Rabu, 12 Feb 2020 20:10 WIB
Wawancara: Strategi Kementerian Perhubungan hadapi ancaman coronavirus

Penyebaran coronavirus disease (codiv) semakin meluas dan meningkatkan kecemasan di seluruh dunia. Badan kesehatan dunia (WHO) telah mengeluarkan status berbahaya untuk wabah ini.

Data realtime di laman gisanddata.maps.arcgis.com per 12 Februari 2020 menyebutkan coronavirus telah menjangkiti 45.188 jiwa dengan jumlah total kematian hingga 1.115 orang, dan telah menyebar hingga ke 28 negara di seluruh dunia.

Untuk mengantisipasi penularan coronavirus, pemerintah pada 5 Februari 2020 menutup penerbangan dari dan ke Tiongkok hingga batas waktu yang belum ditentukan. Larangan penerbangan ini tentunya berdampak pada badan usaha di sektor transportasi.

Bagaimana langkah selanjutnya yang akan ditempuh Kementerian Perhubungan sebagai otoritas tertinggi? Berikut hasil wawancara Alinea.id dengan Staf Khusus Menteri Perhubungan Bidang Komunikasi Adita Irawati.

Indonesia sudah “dikepung” oleh negara-negara yang terjangkit coronavirus. Bagaimana situasi terkini?

Info terkini yang kami peroleh dari Kementerian Kesehatan (Kemenkes) memang sampai hari ini belum ditemukan positif yang terdampak virus corona di Indonesia. Sementara di dunia sampai 4 Februari ditemukan 185 kasus di 25 negara termasuk di Thailand, Jepang Singapura dan Filipina. Jadi, memang tadi istilah "dikepung" itu benar.

Di Indonesia, seperti yang tadi saya sampaikan memang belum ada yang positif, namun demikian pemerintah selalu berupaya mengimbau kepada masyarakat untuk melakukan upaya pencegahan, termasuk juga dari sisi Kementerian Perhubungan (Kemenhub) sendiri.

Apa saja langkah-langkah yang telah dilakukan oleh Kementerian Perhubungan dalam menangkal virus ini?

Sponsored

Kemenhub tugas dan fungsinya adalah menangani sektor transportasi, yang kita tahu di sinilah sebenarnya adanya pergerakan manusia terjadi dari satu tempat ke tempat lain. Coronavirus ini berasal dari China dataran, khususnya di Provinsi Hubei di Kota Wuhan. Di sini kami dari Kemenhub mencoba untuk melakukan upaya pencegahan di titik-titik pintu kedatangan penumpang, baik yang domestik maupun yang internasional, karena di situ potensi penyebaran virus terjadi.

Yang dilakukan khususnya di transportasi di udara sejak 5 Februari 2020 mulai pukul 00.00 WIB kami lakukan penundaan sementara dari dan ke Republik Rakyat Tiongkok (RRT). Ini dilakukan untuk melindungi warga negara Indonesia dari potensi terkena dampak wabah virus corona ini. Kita upayakan agar virus itu tidak dibawa oleh penumpang internasional masuk ke Indonesia.

Selain penundaan tadi, di setiap bandara internasional saat ini sudah ada yang namanya thermal scanner untuk mendeteksi suhu tubuh penumpang, apakah masuk dalam kategori berpotensi terkena virus atau tidak. 

Kedua, kita bekerja sama dengan kantor kesehatan pelabuhan. Kalau ada yang suspect misalnya bersin atau kelihatan dalam kondisi sakit, itu juga harus masuk ke kantor kesehatan pelabuhan untuk, apakah dikarantina atau apakah yang lain treatment-treatment itu.

Ketiga, ini juga dilakukan kerja sama dengan Direktorat Bea dan Cukai dan Direktorat imigrasi, karena ini arus penumpang masuk merekalah yang bisa mendeteksi berapa lama, atau sebelumnya sudah pernah masuk ke China, atau negara-negara yang sudah terkena dampak coronavirus, supaya ketika dia masuk ke Indonesia dapat dicegah untuk tidak melakukan penularan.

Terakhir, petugas di bandara dan pelabuhan seluruhnya sudah diwajibkan untuk menggunakan sarung tangan dan masker. Karena kembali lagi merekalah yang sehari-hari bertugas di lokasi itu, dan tentunya upaya pencegahan harus lebih maksimal.

Satu lagi, di pelabuhan mungkin arus penumpangnya tidak seperti bandara. Di pelabuhan ini kita identifikasi pergerakan terbesar adalah logistik atau cargo barang. Untuk barang saat ini memang tidak ada pelarangan, kecuali untuk hewan hidup.

Hal ini juga sudah kita koordinasikan dengan Kementerian Perdagangan. Kenapa barang masih boleh? karena menurut WHO belum ada ditemukan penularan itu melalui barang atau benda mati. Yang paling teridentifikasi adalah dari manusia ke manusia, dan juga hewan teridentifikasi bisa menjadi penghantar dari virus ini, sehingga pemerintah memutuskan untuk melarang masuknya hewan hidup dari dan ke China.

Coronavirus pun berimbas kepada sektor transportasi. Apakah penutupan penerbangan berlaku untuk seluruh maskapai?

Kalau untuk maskapai itu dari sejak 5 Februari dilarang. Itu berlaku untuk seluruh maskapai yang ada di seluruh Indonesia dan otomatis semua maskapai internasional yang berangkat dari China atau yang transit di China itu tidak boleh masuk ke Indonesia. Tapi ini kan memang sementara ya sifatnya.

Hingga kapan larangan terbang ini berlaku?

Ya ini memang kembali kepada dinamika penyebaran virus ini sendiri, karena belum bisa diprediksi juga kan penyebaran virus ini akan sampai kapan. Lalu bagaimana kemudian antisipasi dari dunia internasional. 

Saat ini kami berencana menerapkan larangan terbang dalam kurun waktu 30 hari. Tapi kembali akan dievaluasi, kalau kondisinya belum memungkinkan kita akan perpanjang. Selain itu, karena sudah ada badan dunia yang menangani ini yaitu WHO, kita akan terus melakukan pemantauan terhadap pernyataan atau status update dari WHO. 

Apakah ada larangan penerbangan ke negara lain yang terkonfirmasi coronavirus?

Sampai saat ini baru ke China saja, karena kita juga melihat perkembangan kasus ini di tiap negara. Kami meyakini negara-negara ini juga sudah sangat serius menangani wabah ini. Dan sampai saat ini kita melihat belum ada sesuatu yang sangat urgent untuk kita lakukan penutupan penerbangan ke negara lain.

Pastinya terus kami pantau perkembangan dari waktu ke waktu dan dari hari ke hari, bisa saja terjadi perkembangan yang sangat cepat. Tapi paling tidak sampai saat ini hanya ke China saja dan dari China yang tidak boleh masuk ke Indonesia.

 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

Dunia sedang dikejutkan dengan wabah coronavirus yang berasal dari Wuhan, China. Virus ini berasal dari hewan lalu menular ke manusia. Pada Jumat (7/2), total angka kematian global akibat coronavirus menyentuh 638. Komisi Kesehatan Nasional China melaporkan virus itu telah menginfeksi 31.161 orang. Namun, apakah Teman Alinea tahu bahwa ada virus mematikan lainnya yang pernah terjadi di dunia ? ___________ Artikel selengkapnya di 'Selisik' Alinea dengan judul "Wabah flu Spanyol 1918, membunuh jutaan orang di Hindia Belanda". #coronavirus #virus #viruscorona #viruscoronaindonesia #corona #coronavirusoutbreak #coronaviruschina #coronavirusupdate #coronavirusindonesia #alineadotid

A post shared by Alinea (@alineadotid) on

Penyebaran coronavirus berdampak pada sektor pariwisata. Apakah ada strategi untuk menarik wisatawan? 

Jadi begini, kita harus menyadari bahwa apa yang kita lakukan (pembatasan penerbangan) ini pasti akan membawa dampak. Apalagi penumpang China yang umumnya adalah wisatawan itu menempati urutan ketiga dari total wisatawan mancanegara (wisman) yang datang ke Indonesia. Jadi memang untuk sektor pariwisata dampaknya signifikan.

Semua stakeholder yang berada di bawah Kementerian Perhubungan seperti maskapai penerbangan dan otoritas bandara pasti menyadari ada dampak dari penutupan penerbangan ini. Tapi ini sudah dikaji oleh pemerintah kita sepakat untuk melindungi masyarakat Indonesia dari serangan wabah ini dan kita harus juga mengantisipasi dari dampak kerugian itu.

Kita melihat pesawat-pesawat ini ada yang idle, ada yang tidak terpakai yang biasanya intens penerbanganya ke China. Ini kemudian kita duduk bersama dengan maskapai dan operator bandara, kemudian disepakati bahwa pesawat yang idle ini akan kita reroot, diterbangkan ke destinasi wisata yang lain. Contohnya ke Asia Barat seperti India, Nepal, dan termasuk ke Australia.

Apakah memungkinkan untuk mencari alternatif wisman dari negara lain?

Dicoba destinasi alternatif yang lain, yang juga punya potensi untuk memasukan wisman dari negara itu termasuk sebaliknya. Kedua, kalau memang penerbangan ini terganggu karena virus mari kita lihat bagaimana pariwisata ini didorong dari dalam dengan penerbangan domestik. Ini yang kita kemudian dorong ke maskapai.

Kita dorong untuk punya program-program, apakah itu diskon, turun harga, untuk destinasi wisata yang selama ini menjadi pintu masuk penerbangan internasional. Seperti yang sudah diberlakukan untuk Batam, Denpasar, dan Sulawesi Utara.

Saat ini maskapai Garuda Indonesia yang sudah menerapkan diskon hingga 30% ke tiga destinasi itu. Ini kan untuk menggairahkan lagi wisatawan domestik. Karena turis asing sekarang agak terhambat karena adanya virus ini ya sudah mari kita fokus ke dalam bagaimana potensi wisatawan domestic.

Memang harus dicari inovasi-inovasi karena pariwisata ini sektor andalan dan penerbangan maupun transportasi pada umumnya adalah Infrastruktur utama untuk bisa melancarkan sektor pariwisata.

Apakah ada reschedule penerbangan dari dan ke China?

Ini kan sudah berlaku hampir seminggu, yang jelas saat ini nol penerbangan ke China, karena ditutup semua penerbangan dari dan ke China. Yang kita kita bisa lihat adalah bagaimana pola dan angka harian dari wisatawan China yang masuk ke indonesia. Angkanya sebenarnya cukup signifikan ya. Tahun 2019 wisman China yang masuk itu 1,2 juta orang. Sedangkan wisman Indonesia yang ke China juga angkanya hampir 1,3 juta, jadi otomatis yang terdampak kan sebenarnya ada 2,6 juta wisatawan. 

Angka itulah yang kemudian menjadi rujukan kami bahwa di 2020 kita mesti mengantisipasi bagaimana mengganti 2,6 juta pergerakan wisatawan itu supaya sektor pariwisata tetap bisa bergerak. Itu yang perlu kita berikan alternatifnya, supaya tidak merugikan banyak stakeholder.

Berapa potensi kerugian dari penurunan jumlah wisman ini?

Kalau maskapai, selain Garuda, yang lain juga terdampak. Selain itu, ada otoritas bandara yakni PT Angkasa Pura I dan II yang kehilangan pendapatan. Terutama dari titik masuk penerbangan internasional yang utama yakni Bandara Internasional Soekarno Hatta dan Bandara Ngurah Rai Denpasar, Bali.

Namun demikian, kembali lagi kami mungkin tidak akan fokus kepada berapa angka yang harus hilang tapi bagaimana kita betul-betul menjaga agar Indonesia tetap menjadi negara yang bebas dari virus ini. Semua daya upaya harus kita lakukan dengan segala konsekuensinya.

Terkait pemulangan 238 Warga Negara Indonesia dari Wuhan, bagaimana prosesnya?

Terkait pemulangan WNI ini, kita bersyukur semuanya berjalan lancar dan sekarang semua saudara-saudara kita sedang dikarantina di Natuna. Menurut Kemenkes hari Sabtu (15/2), akan selesai karantinanya.

Koordinasi dilakukan antara pemerintah Indonesia dan China. Di Indonesia, Kementerian Luar Negeri bekerja sama dengan Kemenkes dan kementerian lain termasuk Kemenhub.

Peran Kemenhub, pada saat itu kami sangat siap mendukung penyediaan transportasi dengan instruksi yang dikeluarkan oleh presiden. Dalam rapat terbatas (ratas) dua minggu yang lalu, diputuskan penjemputan harus dilakukan dan WNI harus dikarantina di satu daerah.

Akhirnya keputusan Kemenlu akan menggunakan pesawat yang secara reguler punya penerbangan ke Wuhan. Jadi mengapa kemudian Garuda Indonesia tidak digunakan karena dia tidak punya penerbangan langsung ke Wuhan, yang ada hanya Sriwijaya Air dan Lion Air.

Tapi masalahnya dua maskapai ini tidak punya pesawat berbadan cukup besar untuk bisa mengangkut semua WNI beserta kru dan petugas kesehatan dalam satu penerbang. Akhirnya Batik Air yang ditunjuk, karena masih satu grup dengan Lion Air, dan memiliki pesawat yang memenuhi persyaratan.

Kami dari otoritas penerbangan dari Kemenhub mengikuti instruksi itu dan berkoordinasi untuk membantu koordinasi dengan pihak Batik Air untuk kemudian bisa melakukan misi kemanusiaan ini. Ini kan sebetulnya misi kemanusiaan, bukan komersial dan perdagangan, dan Batik Air waktu itu melakukan atas keputusan dari pemerintah sebagai sebuah misi kemanusiaan.

Dalam hal ini, kami apresiasi sekali kepada pihak Batik Air dan Lion Air Group karena sudah melakukan evakuasi ini dengan sangat baik dan lancar dan kru sudah melakukan ketentuan dengan baik dan Alhamdulillah sampai saat ini tidak ditemukan adanya dampak virus itu kepada penumpang dan kru.

Setelah dikarantina selama 14 hari, apakah mereka akan dipulangkan ke keluarga masing-masing?

Seperti yang sudah disampaikan Kemenkes, begitu dinyatakan clear dan tidak ada yang terkena coronavirus dari WNI ini, tentunya akan dikembalikan ke kotanya masing-masing. Kemenhub menyediakan moda transportasi.

Kami akan berkomitmen membantu saudara kita kembali ke kota masing-masing dengan segala macam penerbangan yang memang sudah kami koordinasikan. Semua maskapai pada dasarnya sanggup untuk melakukan itu. Apalagi sudah clearance ini sehat kan engak ada isu lah soal itu. Sudah mengikuti semua standard operational procedure (SOP) pendeteksian virus.

Langkah antisipasi ke depan terkait coronavirus agar tidak meluas?

Fokus kami adalah pergerakan penumpang internasional. Karena yang sudah terdeteksi ini adalah 25 negara dan ini tentunya kami akan terus berkoordinasi dengan Kementerian Kesehatan untuk mengikuti sejauh apa perkembangan wabah ini di Indonesia dan internasional. 

Dari situ kita juga akan melakukan terus koordinasi dengan kementerian lain untuk mengambil keputusan apakah status perhubungan ini akan dinaikan. Katakanlah saat ini ditutup untuk sementara, apakah akan diperpanjang. Pelabuhan yang dulunya tidak ada larangan untuk penumpang, dan tidak ada larangan juga untuk barang, ketika statusnya berkembang bisa jadi kami akan ikuti dinamikannya membuat keputusan baru.

Yang paling penting bagi kami sekarang adalah untuk WNI yang sebetulnya juga calon penumpang dari moda apapun, kami imbau untuk terus melakukan upaya pencegahan secara pribadi untuk individu masing-masing. Karena sesuai apa yang disampaikan Kemenkes, yang lebih baik adalah mencegah dan mencegah tentunya dengan menjaga kesehatan diri sendiri dan mencegah penularan kepada yang lain.

Kami di Kemenhub karena fokusnya adalah di moda transportasi, maka untuk mencegah penyakit di angkutan massal itu sebaiknya dengan menggunakan masker, hand sanitizer karena kita akan selalu berinteraksi dan kontak fisik dengan penumpang lain. Apalagi kalau berbicara bus dan kereta commuterline itu mungkin perlu dilakukan upaya yang sebaik-baiknya.

Berita Lainnya