sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

BI rate turun, namun masih yang termahal di Asean

Rata-rata suku bunga acuan negara di Asean berkisar antara 3% sampai 4%.

Mona Tobing Annisa Saumi
Mona TobingAnnisa Saumi Kamis, 18 Jul 2019 16:34 WIB
BI rate turun, namun masih yang termahal di Asean
Informasi mutakhir perkembangan Covid-19 di Indonesia bisa dilihat di sini
Terinfeksi 527.999
Dirawat 66.752
Meninggal 16.646
Sembuh 441.983

Bank Indonesia (BI) baru saja memangkas suku bunga acuannya hari ini Kamis (18/7). BI memotong 25 basis poin, suku bunga kini menjadi 5,75% dari sebelumnya sebesar 6%. 

Selama satu tahun terakhir, sejak Juli 2018 suku bunga acuan yang ditetapkan BI naik turun. Apabila pada Juli suku bunga acuan sempat bertengger di 5,25%, sebulan kemudian secara perlahan mengalami kenaikan sampai akhirnya bertengger di angka 6% pada November. 

BI beralasan, penurunan suku bunga akan mendorong momentum pertumbuhan ekonomi di tengah kondisi ketidakpastian pasar keuangan global yang menurun dan stabilitas eksternal yang terkendali. 

Penurunan suku bunga pun diyakini berdampak positif bagi pasar. Direktur Utama Investa Saran Mandiri Hans kwee mengatakan, penurunan suku bunga membuat kinerja Rupiahnya menguat dari Rp14.000 menjadi Rp13.900. 

"Ini yang dijaga bank sentral, jangan sampai rupiah melemah. Selain itu pasar sudah ekspektasi penurunan suku bunga ini. Makanya indeks juga naik," kata Hans. 

 

 

Bunga termahal

Dalam dua bulan terakhir, sejumlah negara memang memangkas suku bunganya. Kemarin (17/7) Bank Sentral Korea lebih dahulu memangkas suku bunganya, mengekor Australia dan India yang telah lebih dulu memangkas suku bunga. 

Apabila merujuk pada kondisi saat ini, BI rate bukan suku bunga acuan yang termurah di Asia Tenggara (Asean). Riset Alinea.id mendapati suku bunga acuan di Indonesia tertinggi di Asean dibanding dengan negara lain.  

Berikut rinciannya: 

Filipina: The Bangko Sentral ng Pilipinas (BSP) memangkas suku bunga pada Mei 2019 sebesar 25 basis poin menjadi 4,5%. Alasan penurunan suku bunga disebut Gubernur BSP Benjamin Diokno karena kondisi pertumbuhan ekonomi yang melambat, begitu juga dengan angka inflasi yang dijaga antara 2% sampai 4%. Inflasi pada April sempat mencapai 4% sementara target pertumbuhan ekonomi 5,4% pada kuartal 1 2019.  

Malaysia: Malaysia's central Bank mempertahankan suku bunga sebesar 3%. Pada Juli lalu Bank Sentral Asia mempertahankan suku bunga di 3% dengan alasan sebagai dukungan terhadap aktifitas ekonomi. Malaysia menargetkan pertumbuhan ekonomi berada di rentan 4,3% dan 4,8% pada tahun 2019. 

Singapura: Monetary Authority of Singapore (MoS) mempertahankan suku bunga acuannya 5,3%. Rencana penurunan suku bunga tengah dipertimbangkan MoS berkaca pada pertumbuhan ekonomi Singapura yang tengah melambat.  

Thailand: The Bank of Thailand's (BoT) menempatkan suku bunga acuannya di 1,75%. Terakhir kali diumumkan, Bank sentral Thailand pada Juli lalu memilih untuk mempertahankan suku bunga acuan di 1,75% dengan alasan apabila dilakukan penurunan suku bunga kembali tidak secara langsung akan mendongkrak pertumbuhan ekonomi. Pertumbuhan ekonomi Thailand tahun ini ditargetkan mencapai 3,3% sampai 3,8%.   

Brunei Darussalam: Monetary Authority of Brunei Darussalam menempatkan suku bunga sebesar 5,5%. Di Brunei, Otoritas Moneter Brunei Darussalam tidak menetapkan suku bunga acuan. Sebagai gantinya, Suku Bunga Dasar Kredit digunakan sebagai referensi. Dari riset Alinea.id sejak 2003 sampai 2019 suku bunga flat yakni tidak mengalami penurunan ataupun kenaikan. 

Vietnam: State Bank of Vietnam selama 1,5 tahun terakhir belum juga menurunkan suku bunga. Suku bunga acuan Vietnam dibagi menjadi dua yakni: discount rate dengan nilai sebesar 4,25% dan refinancing rate menjadi 6,25%. Penetapan bunga ini sejak efektif sejak 7 Oktober 2017. 

Laos: Bank of the Lao P.D.R terakhir kali menetapkan suku bunga acuannya pada Desember 2017. Bank Sentral menempatkan suku bunga acuan antara 4% hingga 5% yang masih berlaku sampai hari ini.  
 

Riset : Fultri Sri Ratu Handayani

Berita Lainnya