sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Surplus neraca perdagangan tak mampu katrol IHSG

Neraca perdagangan Indonesia pada Oktober 2019 mengalami surplus US$161,3 juta.

Annisa Saumi
Annisa Saumi Jumat, 15 Nov 2019 17:03 WIB
Surplus neraca perdagangan tak mampu katrol IHSG
Informasi mutakhir perkembangan Covid-19 di Indonesia bisa dilihat di sini
Terinfeksi 123503
Dirawat 38539
Meninggal 5658
Sembuh 79306

Badan Pusat Statistik (BPS) baru saja merilis data neraca perdagangan Indonesia bulan Oktober 2019 yang mengalami surplus US$161,3 juta dengan nilai ekspor US$14,93 miliar dan impor US$14,77 miliar. Namun, secara kumulatif neraca perdagangan Januari-Oktober 2019 masih mengalami defisit hingga US$1,79 miliar.

BPS menjelaskan surplus tersebut bukan dikarenakan kinerja ekspor yang membaik, tetapi adanya penurunan tajam pada nilai impor. BPS mencatat pada Oktober 2019, ekspor mencapai US$14,93 miliar, sementara impor mencapai US$14,77 miliar.

Melihat rilis BPS ini, Analis MNC Sekuritas Muhammad Rudy Setiawan mengatakan surplus neraca perdagangan belum bisa menjadi sentimen positif bagi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Sebab, menurut Rudy, meskipun neraca dagang Indonesia surplus, tetapi pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia tak menarik.

"Saya melihat ada beberapa kebijakan yang ditahan, sehingga neraca dagang kita surplus," ujar Rudy ditemui di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Jumat (15/11).

Sponsored

Menurut Rudy, data surplus neraca perdagangan harus dibarengi dengan pertumbuhan PDB. Sehingga, hal tersebut bisa menjadi sentimen positif bagi IHSG.

Selain tak berpengaruh banyak ke IHSG, Rudy juga menyebut surplus neraca perdagangan tak akan berdampak secara signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi maupun PDB. Sebab, kecendrungan pelemahan global masih akan menjadi menghantui ekonomi global.

Dengan rilisnya data neraca perdagangan tersebut IHSG pada penutupan perdagangan hari ini ditutup menguat 0,48% sebanyak 29 poin ke level 6.128. Beberapa sektor pendorong penguatan IHSG adalah sektor industri dasar sebesar 1,66%, tambang 1,81%, dan finansial 1,06%.
 

Berita Lainnya