sun
moon
logo alinea.id logo alinea.id

Target devisa pariwisata dipangkas hingga US$17,6 miliar

Realisasi penerimaan devisa pariwisata selalu menurun terdampak bencana alam. 

Cantika Adinda Putri Noveria Laila Ramdhini
Cantika Adinda Putri Noveria | Laila Ramdhini Senin, 18 Mar 2019 15:43 WIB
Target devisa pariwisata dipangkas hingga US$17,6 miliar

Pemerintah menurunkan target penerimaan devisa pariwisata dari US$20 miliar menjadi US$17,6 miliar pada tahun ini. Menteri Pariwisata Arief Yahya mengatakan, target itu diturunkan karena setiap tahunnya, realisasi penerimaan devisa pariwisata selalu menurun terdampak bencana alam. 

Arief memaparkan, pada 2018, pemerintah memasang target devisa dari pariwisata hingga US$20 miliar. Namun, dari target tersebut hanya terealisasi US$15,8 miliar. 

"Penyebabnya berkurang karena bencana," kata Arief Yahya di Bank Indonesia, Senin (18/3). 

Konektivitas

Arief mengatakan pertumbuhan pariwisata pada tahun ini akan bergantung pada konektivitas seperti transportasi udara. Menurut dia, perkembangan industri maskapai untuk menyediakan penerbangan murah (low cost carrier/LCC) akan menarik minat wisatawan datang ke Indonesia.

"Terminal 2F Bandara Soekarno Hatta akan menjadi terminal khusus LCC. Ini akan menarik lebih banyak wisatawan," kata Arief.

Menurut dia, pertumbuhan LCC di Indonesia belum bisa mengikuti permintaan yang ada. Padahal, penumpang LCC tumbuh sekitar 20% per tahun. 

"Jadi kalau kita tidak mendatangkan LCC lebih banyak, kita tidak akan pernah tercapai target kunjungan 20 juta wisatwan mancanegara (wisman) itu," kata dia.

Sponsored

Sementara, Arief juga mengatakan harga tiket pesawat cukup berpengaruh terhadap kunjungan wisatawan. Menurut dia, harga tiket domestik yang mahal juga menurunkan minat orang bepergian. Padahal, wisatawan domestik juga penting bagi pendapatan Indonesia.

Sementara, Arief mengatakan bencana alam menjadi pukulan terberat bagi industri pariwisata. Dia mencontohkan kasus gempa di Lombok yang bisa menurunkan keterisian kamar hotel.

"NTB tadinya okupansi (kamar hotel) bisa mencapai 50%. Tapi karena bencana bisa turun sampai 36%," kata dia.

Sementara, Arief menyebut pemerintah juga sudah menyiapkan strategi untuk meningkatkan pengeluaran (spending) wisatawan di dalam negeri. Caranya yakni dengan menata kawasan wisata, menggelar atraksi menarik, dan meningkatkan sektor meeting incentive conference and exhibition (MICE). 

Arief menyebut peningkatan MICE bisa menarik kunjungan wisatawan dari negara tetangga seperti Australia. Kunjungan wisatawan dari negeri kanguru ini cukup menguntungkan, sebab rata-rata lama tinggal (length of stay) mereka bisa mencapai 10 hari, dengan pengeluaran hingga US$1.200.

Selain itu, pasar wisman dari Timur Tengah juga cukup menjanjikan dengan rata-rata lama tinggal selama dua pekan. Sementara, wisman negara yang dekat seperti Singapura hanya tinggal 1-2 hari untuk wisata belanja.

"Kita target long stay tourism. Dari negara lain kita bidik wisman seperti dari China, Malaysia, Singapura, dan negara-negara Eropa," kata dia.

6 strategi

Dalam kesempatan yang sama, Gubernur BI Perry Warjiyo mengatakan, pemerintah bersama BI telah menyiapkan enam strategi untuk mencapai target devisa pariwisata 2019. 

Keenam startegi tersebut yakni pertama, mempercepat penyelesaian beberapa proyek infrastruktur, seperti New Yogyakarta International Airport (NYIA) di Yogyakarta dan akses pendukungnya. 

Infrastruktur lainnya, yakni percepatan runway 3 Bandara Internasional Soekarno-Hatta, rapid exit taxiway Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai di Bali, dan pengembangan jalan di sekitar destinasi wisata. 

"Percepatan penyelesaian proyek infrastruktur tersebut untuk meningkatkan aksesibilitas dan mendukung peningkatan jumlah kunjungan wisatawan mancanegara," kata Perry. 

Kedua, mendorong pengembangan atraksi wisata. Perry menyebut pengembangan pariwisata di daerah perbatasan (cross-border tourism) sangat penting.

Ketiga, meningkatkan kualitas amenitas di daerah destinasi wisata. Perry menyebut salah satunya akan dilakukan percepatan pembebasan lahan untuk pengembangan amenitas di Danau Toba dan Borobudur.

Kelima, memperkuat promosi pariwisata nasional untuk meningkatkan lama tinggal wistawan mancanegara. 

Keenam, mendorong investasi dan pembiayaan dalam pengembangan destinasi wisata, peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM), serta perbaikan dukungan data dan informasi. Serta menyusun standar prosedur Manejemen Krisis Kepariwisataan dan membentuk forum manajemen krisis kepariwisataan daerah (MKK Daerah). 

Keenam strategi tersebut, diputuskan saat rapat koordinasi yang diinisasi oleh Menko Kemaritiman di Bank Indonesia, hari ini Senin (18/3) bersama Kementerian Pariwisata, serta Otoritas Jasa Keuangan, dan Badan Pusat Statistik. 

Kunjungan wisatawan (Januari-Mei 2018). Alinea.id/Oky