sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Target energi terbarukan 23% butuh keseriusan pemerintah

Hingga saat ini bauran energi terbarukan Indonesia baru mencapai 13%.

Ardiansyah Fadli
Ardiansyah Fadli Rabu, 25 Sep 2019 18:32 WIB
Target energi terbarukan 23% butuh keseriusan pemerintah
Informasi mutakhir perkembangan Covid-19 di Indonesia bisa dilihat di sini
Terinfeksi 506.302
Dirawat 64.878
Meninggal 16.111
Sembuh 425.313

International Institute for Sustainable Development (IISD) menyatakan hingga saat ini bauran energi terbarukan Indonesia baru mencapai 13%. Realisasi ini masih jauh dari target pemerintah Indonesia sebesar 23% pada tahun 2025.

Peneliti Senior IISD Phili Gass mengatakan Indonesia memiliki banyak potensi untuk  mencapai target tersebut. Pihaknya bahkan meyakini bahwa Indonesia dapat melampaui target, namun hal itu butuh keseriusan dari pemerintah.

Phili mengatakan turunnya biaya energi terbarukan secara dramatis akhir-akhir ini membuka kesempatan bagi Indonesia untuk meraih keuntungan dari sumber energi terbarukan.

“Yang kurang di sini adalah kebijakan atau payung hukum yang memungkinkan pelaku usaha dan masyarakat untuk mengambil peran di dalam momentum ini," kata Phili di Jakarta, Rabu (25/9).

Phili menjelaskan IISD dalam laporannya juga turut merekomendasikan sejumlah perubahan kebijakan utama yang diyakini akan meningkatkan penanaman modal di sektor energi terbarukan. 

Menurut dia, saat ini energi terbarukan masih terhambat oleh insentif fiskal untuk energi fosil dan perluasan penggunaan batu bara. Dia mencontohkan, saat ini, patokan harga listrik dari energi terbarukan (ET) maksimal 85% dari harga batu bara. 

“Dengan kata lain, dalam skema ini pengembang energi terbarukan mendapatkan 15% harga yang lebih rendah daripada pengembang energi fosil walaupun memproduksi energi yang sama besar," jelasnya.

Koordinator IISD untuk Indonesia Lucky Lontoh mengatakan alasan utama di balik kebijakan ini bahwa pemerintah ingin mengamankan harga listrik yang terjangkau untuk masyarakat.

Sponsored

“Jika kebijakan ini bisa diganti dengan perhitungan harga yang lebih berimbang, kita dapat melihat perkembangan pasar energi terbarukan yang lebih cepat di Indonesia,” kata Lucky.

Selain itu, Lucky mengatakan Indonesia masih memiliki peluang besar untuk mengembangkan energi terbarukan dan mencapai target elektrifikasi, tanpa meningkatkan harga listrik atau menggelembungkan subsidi.

“Harga batu bara saat ini tidak merefleksikan kerusakan lingkungan yang disebabkan oleh polusi udara dan perubahan iklim, jadi masih ada externalitas yang belum dihitung,” ujarnya.

Lucky menjelaskan tren pasar global saat ini justru menunjukkan adanya penurunan drastis harga energi terbarukan, sementara teknologi bahan bakar fosil yang cenderung stabil.

"Jika tren ini terus berlanjut, suatu saat batu bara akan jadi opsi yang lebih mahal daripada energi terbarukan. Kita perlu merencanakan transisi menuju energi terbarukan sejak dini adalah investasi yang baik untuk masa depan Indonesia,” katanya.

Seperti diketahui, sebelumnya pemerintah menargetkan bauran energi terbarukan harus mencapai 23% per 2025. Target ini seperti tercantum dalam Rencana Usaha Penyedia Tenaga Listrik (RUPTL) yang dibuat oleh PT PLN (Persero). 

Berita Lainnya