sun
moon
logo alinea.id logo alinea.id

Target pertumbuhan kredit Bank Mandiri naik jadi 12%

PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. menaikkan target pertumbuhan kredit dari 11% menjadi 12% secara tahunan (year-on-year/yoy).

Sukirno
Sukirno Kamis, 04 Jul 2019 18:47 WIB
Target pertumbuhan kredit Bank Mandiri naik jadi 12%

PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. menaikkan target pertumbuhan kredit dari 11% menjadi 12% secara tahunan (year-on-year/yoy).

Direktur Keuangan Bank Mandiri Panji Irawan mengatakan penambahan target pertumbuhan kredit terjadi seiring menggeliatnya permintaan kredit korporasi yang diklaim tak terdampak perang dagang.

"Sebelumnya kami di Rencana Bisnis Bank (RBB) memasang di bawah 12%. Sekarang kami meningkatkan ke 12%. Revisi RBB itu belum final, perlu diajukan dan disetujui Otoritas Jasa Keuangan (OJK)," kata dia sebelum rapat Komisi XI DPR di Gedung DPR Jakarta, Kamis (4/7).

Kenaikan target pertumbuhan kredit itu, menurut Panji, karena rencana bisnis debitur korporasi swasta berjalan sesuai rencana sepanjang semester I-2019 ini. Dia melihat potensi meningkatnya permintaan kredit akan terlihat di semester II-2019, dan akan menopang pertumbuhan kredit perseroan secara keseluruhan.

Selain korporasi swasta, kata Panji, permintaan kredit dari BUMN, dan juga Kredit Usaha Rakyat (KUR) juga memberi andil signifikan dalam penyaluran kredit Mandiri. "Kredit juga meningkat dari State Owned Enterprises (BUMN) dan KUR," ujar dia.

Menggeliatnya kredit korporasi kepada Bank Mandiri bertolakbelakang dengan proyeksi berbagai kalangan termasuk regulator OJK. OJK sebelumnya menyebutkan bahwa akan timbul tekanan terhadap permintaan kredit karena eskalasi perang dagang antara AS dan China sepanjang tahun 2019 ini. OJK di depan Komisi XI DPR bahkan merevisi target pertumbuhan kredit tahun 2019 ini menjadi 9%-11% dari sebelumnya 10%-11%.

"Dampak perang dagang belum begitu terasa buat kami. Lagi pula kami lihat debitur segera memperluas ekspornya untuk mengakali dampak perang dagang," ujar Panji.

Di sisi lain, perseroan membantah terkait adanya potensi pengetatan likuiditas pada tahun ini. Meskipun pertumbuhan Dana Pihak Ketiga Mandiri kurang begitu menggembirakan di kuartal I-2019, Panji mengatakan Mandiri masih memiliki sumber likuiditas yang memadai dari instrumen non-konvensional seperti surat utang, ditambah dengan keringanan regulasi penurunan Giro Wajib Minimum (GWM) rupiah dari Bank Indonesia.

Sponsored

"Kami tidak ada masalah di likuiditas," ujar dia.

Adapun di kuartal I-2019, emiten bersandi saham BMRI itu mengantongi laba bersih sebesar Rp7,2 triliun atau tumbuh 23,4% (yoy) dibandingkan kuartal I-2018 dengan raihan laba sebesar Rp5,9 triliun.

Penopang utama pertumbuhan laba Bank Mandiri di paruh pertama tahun ini adalah pendapatan bunga yang tumbuh sebesar 15,05% (yoy) menjadi Rp22,0 triliun.

Likuiditas

Sementara itu, Bank Mandiri mendapat tambahan likuiditas yang bisa disalurkan menjadi kredit senilai Rp4 triliun setelah Bank Indonesia (BI) melonggarkan rasio kewajiban penyimpanan dana terhadap Dana Pihak Ketiga atau Giro Wajib Minimum (GWM) sebesar 0,5% menjadi 6% per 1 Juli 2019.

"Gara-gara GWM turun, dana kami bisa bertambah Rp4 triliun. Kami tidak perlu simpan di BI dan akan jadi uang tunai, bisa kami salurkan jadi kredit," ujar Panji.

Bank Sentral mulai 1 Juli 2019 melonggarkan kebijakan moneter dengan memangkas rasio GWM rupiah hingga 50 basis poin (0,5%) untuk bank umum dan bank syariah.

Hal itu menjadi "kompensasi" setelah BI masih menahan suku bunga acuan 7-Day Reverse Repo Rate sebesar 6%. Sebelumnya, BI juga menerapkan relaksasi dengan perhitungan rata-rata GWM (GWM Averaging) dalam setahun terakhir.

Panji mengatakan penurunan GWM itu akan menambah kemampuan likuiditas bank. Bank Indonesia mengestimasi akan terdapat tambahan likuditas terhadap industri perbankan secara keseluruhan senilai Rp25 triliun.

"Kami tidak ada masalah di likuiditas. Penurunan GWM juga tambah likuiditas Rp4 triliun dan ditambah instrumen non-konvensional seperti instrumen di pasar modal," ujar dia.

Meskipun demikian, Panji tidak membantah jika pertumbuhan Dana Pihak Ketiga (DPK) Bank Mandiri kurang begitu menggembirakan di kuartal I 2019.

Merujuk pada laporan keuangan perseroan, DPK bank berlogo pita emas ini cuma tumbuh 7,6% secara tahunan (yoy) menjadi Rp827,8 triliun, sedangkan kredit naik 12,4% (yoy) menjadi Rp790,5 triliun pada kuartal I-2019.

Namun Panji mengatakan masih terdapat sumber pendanaan dari instrumen non-konvensional seperti instrumen utang di pasar modal sehingga likuiditas memadai. DPK pun diyakininya akan lebih baik dan menggeliat di kuartal II-2019,

"Peringkat kami dari lembaga pemeringkat Standard and Poor's (S&P's) juga naik. Jika kami butuh, kami bisa saja masuk ke pasar. Itu kalau butuh lagi," ujar dia. (Ant)