sun
moon
logo alinea.id logo alinea.id

Banyak portofolio di surat utang, Taspen pastikan investasi aman

Sebesar 86,2% dari total investasi PT Taspen (Persero) ditempatkan di surat utang dan deposito.

Annisa Saumi
Annisa Saumi Selasa, 28 Jan 2020 12:34 WIB
Banyak portofolio di surat utang, Taspen pastikan investasi aman
Informasi mutakhir perkembangan Covid-19 di Indonesia bisa dilihat di sini

Direktur Utama PT Taspen (Persero) Antonius N. Steve Kosasih menyatakan kesalahan investasi dua perusahaan asuransi pelat merah, yakni PT Asuransi Jiwasraya (Persero) dan PT Asabri (Persero) tidak akan terjadi pada perusahaannya.

Kosasih mengatakan sebagian besar portofolio investasi Taspen ditempatkan pada instrumen yang sangat aman.

"Mayoritas investasi ditempatkan pada instrumen yang memberikan hasil tetap (fixed income), yaitu surat utang dan deposito sebesar 86,2% dari total portofolio," kata Kosasih saat paparan kinerja Taspen 2019, di Menara Taspen, Jakarta, Senin (27/1).

Kosasih merinci, porsi investasi Taspen di surat utang atau obligasi sebesar 67,5%. Sebanyak 37% investasi ditempatkan di Surat Utang Negara (SUN), 11,2% di Surat Berharga Syariah Negara (SBSN), 16,1% di obligasi korporasi, 1,9% di medium term notes (MTN) milik BUMN, 1% di KIK-EBA BUMN, dan sekitar 0,2% berada di Sukuk Korporasi.

“Mayoritas investasi Taspen ditempatkan pada surat utang negara maupun obligasi korporasi dengan fundamental yang kuat, dengan tingkat risiko yang sangat rendah, namun tetap memberikan imbal hasil yang baik,” tutur Kosasih.

Sementara itu, penempatan portofolio investasi Taspen di deposito sepanjang 2019 adalah sebesar 18,7%. Deposito milik Taspen tersebut, sekitar 80% di antaranya ditempatkan di bank BUMN, 18% di Bank Pembangunan Daerah (BPD), dan hanya 2% pada bank umum. Bank umum tersebut adalah Bank Mandiri Taspen yang merupakan anak usaha dari Bank Mandiri dan Taspen.

Sisa investasi Taspen sebesar 2,2% ditempatkan di investasi langsung, 4,9% di saham, dan 6,7% di reksa dana. Kosasih menegaskan peserta Taspen tak perlu khawatir dengan penempatan investasi Taspen di instrumen reksa dana. Sebab, porsi investasi di reksa dana saham hanya sebesar 1,3%, dengan seleksi pemilihan Manajer Investasi (MI) yang sangat ketat.

Kosasih menjelaskan, dalam investasi instrumen reksa dana, Taspen berinvestasi melalui maksimum 15 MI yang memiliki dana kelolaan (asset under management/AUM) di atas Rp4 triliun hingga sekitar Rp50 triliun. Sebanyak 90% di antaranya adalah MI yang menduduki peringkat 15 besar. Selain itu, hampir 50% penempatan reksa dana Taspen adalah pada MI BUMN.

Sponsored

Untuk investasi di saham, Kosasih mengatakan Taspen memilih saham-saham emiten yang sebagian besar terdaftar pada Indeks LQ45 dan didominasi oleh saham-saham BUMN yang tergolong saham-saham blue chip.

Kosasih melanjutkan, portofolio saham Taspen dalam lima tahun terakhir telah menghasilkan return Rp3,5 triliun, baik dari capital gain maupun dari dividen. Pada tahun 2019, Taspen tercatat memperoleh dividen dari saham sebesar Rp404 miliar dan capital gain sejumlah Rp496,7 miliar.

Sehingga, total imbal hasil dari investasi saham yang dilakukan Taspen selama 2019 berjumlah Rp900,7 miliar.

“Dalam proses pemilihan saham untuk alokasi investasi, kami selalu mengutamakan aspek makro ekonomi, fundamental, prospek bisnis, likuiditas, dan valuasi perusahaan yang wajar dan saksama, serta memperhitungkan faktor-faktor teknikal,” ujar Kosasih.  

Adapun penempatan saham Taspen pada 2019 terbanyak berada di PT Telekomunikasi Indonesia (Persero) Tbk. (TLKM) dengan bobot investasi sebesar 24,01%, disusul di PT Astra International Tbk. (ASII) sebesar 10,44%, dan PT Jasa Marga (Persero) Tbk. (JSMR) sebesar 8,81%.

Berita Lainnya