sun
moon
logo alinea.id logo alinea.id

Tingkat kemiskinan turun 9,66%, rekor baru untuk Indonesia

Capaian ini meraih rekor terbaru sepanjang sejarah Indonesia, setelah mencetak rekor satu digit pada Maret 2018.

Eka Setiyaningsih
Eka Setiyaningsih Selasa, 15 Jan 2019 17:36 WIB
Tingkat kemiskinan turun 9,66%, rekor baru untuk Indonesia

Badan Pusat Statistik (BPS) menyatakan tingkat kemiskinan Indonesia pada September 2018 turun menjadi 25,67 juta orang atau setara 9,66% dari total penduduk di Indonesia.

Persentase penduduk miskin ini disebut meraih rekor terbaru sepanjang sejarah Indonesia, setelah mencetak rekor satu digit pada Maret 2018. Kepala BPS Suhariyanto menyebutkan jumlah penduduk miskin kali ini menurun dari periode Maret lalu yang sebanyak 25,95 juta orang atau 9,82%. 

"Artinya ada penurunan jumlah orang penduduk miskin sebanyak 280 ribu orang dari Maret 2018 atau turun 910 ribu orang dari September 2017," ucapnya di Kantor BPS, Selasa (15/1). 

Suhariyanto mengungkapkan penurunan tingkat kemiskinan terjadi karena beberapa faktor. Pertama, upah riil buruh tani per hari yang naik 1,6% dibandingkan Maret 2018. 

Kedua, Nilai Tukar Petani (NTP) naik sebesar 1,21% dari 101,94 pada Maret 2018 menjadi 103,17 pada September lalu.  Ketiga, Indeks Harga Konsumen (IHK) mengalami inflasi sebesar 0,94% dalam kurun waktu Maret-September 2018. "Ini inflasi yang cukup rendah," imbuhnya. 

Keempat, beberapa harga komoditas di tingkat eceran cukup terkendali, bahkan menurun. Mulai dari beras turun 3,28%, daging sapi 0,74%, minyak goreng 0,92%, dan gula pasir 1,48%. 

Kelima, rata-rata pengeluaran per kapita per bulan penduduk di 40% lapisan terbawah pada Maret-September 2018 meningkat 3,55% atau lebih tinggi dari garis kemiskinan sebesar 2,36%. 

Keenam, rata-rata pengeluaran per kapita pada desil 1- desil 4 mengalami peningkatan pada Maret-September 2018, masing-masing naik 3,17%, 3,4%, 3,46%, dan 3,93%. "Semua kenaikan ini lebih tinggi dari kenaikan garis kemiskinan pada periode yang sama," terangnya. 

Sponsored

Sementara itu, garis kemiskinan nasional tercatat naik 2,36% menjadi Rp401.670 per kapita per bulan dari sebelumnya Rp401.220 per kapita per bulan pada Maret 2018. 

"Pengaruh garis kemiskinan terbesar mencapai 73,54% merupakan makanan, sisanya bukan makanan. Adapun garis kemiskinan terendah ada di Provinsi Sulawesi Selatan senilai Rp315.738 per kapita dan tertinggi ada di Provinsi Bangka Belitung Rp664.120 per kapita," pungkasnya

Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Piter Abdullah, mengatakan capaian ini patut diapresiasi oleh masyarakat. Meski demikian, kata Piter, pemerintah hendaknya tidak cepat puas, tetap waspada dan terus melakukan evaluasi serta penguatan atas program-program yang sudah dijalankan," ujar Piter saat dihubungi Alinea.id.

Piter menyebut, hal yang perlu diperhatikan adalah di balik penurunan angka kemiskinan itu berapa banyak penduduk yangg perbaikannya dari miskin menjadi mendekati miskin. Sejauh ini yang lebih banyak terjadi adalah pergeseran di kelompok ini, yang artinya mereka sangat rentan dan sewaktu-waktu dapat kembali miskin.   

Menurutnya, untuk mencegah kembalinya mereka ke kelompok miskin pemerintah hendaknya tetap menjaga inflasi agar tetap stabil dan rendah. Selain itu pemerintah juga terus menggalakkan program-program bantuan sosial yang fokus mengurangi beban kelompok bawah. 

"Saya kira pemerintah sudah tepat dengan kebijakannya meningkatkan bantuan sosial dalam APBN 2019," ungkap Piter.