logo alinea.id logo alinea.id

Tiupan angin global sebabkan meroketnya dollar AS

‘Tiupan angin’ global menjadi penyebab melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika Serikat (AS).

Valerie Dante
Valerie Dante Rabu, 03 Okt 2018 18:10 WIB
Tiupan angin global sebabkan meroketnya dollar AS

Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo menyebutkan sebelum melakukan langkah-langkah penanggulangan dan merespons permasalahan ekonomi yang sedang terjadi, pihaknya perlu terlebih dahulu mengidentifikasi, mengantisipasi, kemudian menakar ‘tiupan angin’ global.

‘Tiupan angin’ yang dimaksud merupakan pola pertumbuhan ekonomi dunia yang sedang tidak merata. Pasalnya, meski tahun lalu pertumbuhan negara maju dan berkembang sama-sama naik. Tetapi pada tahun ini hanya AS yang naik. 
Selanjutnya adalah respons dari Bank Sentral Amerika (The FED) dengan menaikkan suku bunga. “Bunga lebih tinggi dari yang diperkirakan, tahun ini sudah 3 kali. Mungkin Desember suku bunga di Amerika kembali naik.Mungkin tahun depan dua kali dan 2020 sekali,” papar Perry di Gedung DPR, Jakarta, Rabu (3/10).

Faktor inilah yang melatarbelakangi kuatnya dollar AS dan terjadinya aliran dana keluar dari negara emerging market, termasuk Indonesia kembali ke AS. Dua

“Itulah mengapa seluruh dunia mengalami tekanan nilai tukar. Tidak hanya karena kuatnya dollar tetapi juga aliran modal yang keluar,” lanjutnya.

Tidak hanya itu,  ‘tiupan angin’ lainnya yang juga mengganggu berasal dari perang dagang. Ketegangan perdagangan antara AS dengan beberapa negara cukup mengganggu perekonomian dunia.

Sementara, Chief Market Strategist FXTM Hussein Sayed, menambahkan,Trumponomics, Federal Reserve, gejolak pasar berkembang, harga minyak, dan negosiasi Brexit adalah sejumlah penggerak terbesar di pasar finansial di sepanjang kuartal ketiga 2018. 

Semua faktor ini akan tetap mendominasi pasar di kuartal terakhir tahun ini, serta pemilu paruh waktu AS mendatang karena potensi pergeseran kekuatan kekuasaan dapat memengaruhi kemampuan Trump untuk memerintah.

Pasar saham AS berkinerja paling baik di seluruh dunia di sepanjang tahun ini, tapi banyak sinyal peringatan yang mulai menunjukkan warna merah. Ekonomi AS jelas berada dalam tahap akhir siklus ekonomi saat ini, tapi belum ada isyarat terjadinya resesi. 

Sponsored

"Federal Reserve diperkirakan akan kembali meningkatkan suku bunga untuk keempat kalinya hingga akhir 2019. Mengingat harga pasar saham AS sepertinya selalu merefleksikan segala sesuatu, kejutan negatif apa pun dapat mengakhiri pasar bull terpanjang dalam sejarah ini," jelas dia dalam risetnya.

Di pasar uang, kurs dollar AS menarik perhatian dunia dalam beberapa bulan terakhir. Terutama terhadap mata uang pasar berkembang yang sebagian anjlok ke rekor harga terendah atau paling rendah selama beberapa tahun terakhir.

Peso Argentina adalah mata uang dengan performa terburuk di sepanjang 2018 karena kehilangan lebih dari separuh nilainya sejak awal tahun. Lira Turki adalah yang kedua, dengan kehilangan lebih dari sepertiga nilainya. Rand Afrika Selatan, Rupee India, dan Rubel Rusia melemah secara lebih tidak signifikan, namun penurunannya lebih dari 10% hingga saat ini.

Banyak dari negara ini mengalami defisit transaksi berjalan, ketidakseimbangan eksternal, kekurangan cadangan devisa, dan risiko politik substansial yang memicu gelombang jual luar biasa. 

Berdasarkan data Yahoo Finance, hingga pukul 18.20 WIB, rupiah berada di level Rp15.070 per dollar AS. Pergerakan perdagangan dollar AS berada dikisaran Rp14.984-15.090.