logo alinea.id logo alinea.id

Total Bangun Persada bidik kontrak Rp5,45 triliun tahun ini

TOTL melanjutkan proyek yang berjalan seperti Orange County di Meikarta, dan membidik beberapa proyek baru tahun ini.

Eka Setiyaningsih
Eka Setiyaningsih Kamis, 02 Mei 2019 15:55 WIB
 Total Bangun Persada bidik kontrak Rp5,45 triliun tahun ini

Emiten kontruksi PT Total Bangun Persada Tbk. (TOTL) membidik kontrak proyek konstruksi senilai Rp5,45 triliun sepanjang 2019. Direktur Total Bangun Persada Moeljati Soetrisno menyatakan pada 2019 perseroan akan menyelesaikan 20 proyek dari perjanjian kontruksi pada tahun lalu. Selain itu, TOTL juga mengincar beberapa kontrak baru. 

“Fokus perusahaan masih menggarap highrise building. Jadi proyek masih on going itu sekitar 20-25 proyek. Itu kan sudah mau selesai, nanti ada proyek baru lagi," kata Moeljati di Jakarta, Kamis (2/5).

Moeljati mengungkapkan proyek tersebut terdiri atas apartemen senilai Rp1,6 triliun, mixed used development Rp2,3 trriliun, shopping center Rp980 miliar, hotel Rp400 miliar, dan sekolah sekitar Rp170 miliar.

"Jadi pipeline project kami ini terdiri atas private project, dengan porsi pelanggan berulang 38% dan pelanggan baru 68%," ucapnya.

Beberapa proyek yang sedang dibangun TOTL tahun ini di antaranya Orange County City Centre Residental di kawasan Meikarta Cikarang, Lavie All Suites Jakarta, Milleniyn Village Lippo karawaci, dan The Smith Alam Sutera.

Sementara, Moeljati optimistis pada tahun ini perusahaan bisa merealisasikan kontrak senilai Rp4 triliun dari total pipeline project tersebut. Perhitungan itu diambil berdasarkan realitas yang ada. 

Menurut dia, usai pemilihan umum (pemilu) pelaku pasar akan kembali melanjutkan proyek pembangunan dan tidak bersikap wait and see.

"Pembangunan itu kan pasti terus berlangsung, jadi saya optimistis dan memandang bahwa sektor konstruksi tetap positif tahun ini," kata Moeljati.

Sponsored

Sementara, hingga kuartal I-2019, perseroan sudah meraih kontrak senilai Rp715,6 miliar. Proyek tersebut berupa pembangunan hotel dan apartemen dari pelanggan berulang dan pelanggan baru.

"Kuartal I-2019 ini total kontrak mencapai 18% dari total target Rp4 triliun. Adapun proyek tersebut yaitu Hotel Mercure BSD, Hotel Bencoolen di Bengkulu, dan Apartemen Sakura di Jakarta Timur," ujarnya.

Moeljati mengakui, saat ini lokasi proyek perusahaan masih terpusat di wilayah Jawa dan Bali. Dalam catatan perseroan, sebanyak 95% berada di Jawa dan Bali, Sumatera 5%, dan lainnya hanya 1%.

"Karena kan pembangunan memang banyak di Jawa dan Bali. Tapi tidak menutup kemungkinan menjajaki wilayah baru, tergantung owner-nya mau membangun di mana," ucapnya.

Lebih lanjut, kata Moeljati, proyek yang tengah digarap maupun yang masih dalam pipeline diharapkan mampu menopang pertumbuhan laba bersih dan pendapatan perusahaan pada 2019.

"Net profit kami targetkan Rp245 miliar, sedangkan pendapatan kami targetkan Rp3,1 triliun pada tahun ini," ucapnya.

Belanja modal

Sementara, TOTL menyiapkan belanja modal atau capital expenditure (capex) senilai Rp30 miliar pada tahun ini. Seluruh dana capex ini didapat dari kas internal.

Moeljati Soetrisno mengatakan dana capex tersebut sebagian besar untuk pembelian dan perbaikan alat, dan peralatan dalam pengadaan IT maupun software.

Moeljati menyebut, capex tahun ini lebih kecil dari tahun lalu yang mencapai Rp50 miliar. Namun, secara full year 2018 capex tersebut hanya terpakai Rp24,8 miliar.

"Minimal capex tidak jauh berbeda dari pemakaian tahun sebelumnya, minimal Rp30 miliar. Tapi kalau ada proyek baru di luar pipeline mungkin bisa bertambah," ucap Moeljati saat ditemui di Gedung Total Bangun Persada, Jakarta, Kamis (2/5).

Adapun total capex tahun ini sudah terpakai sekitar Rp5 miliar untuk peralatan dalam pengadaan IT maupun software. "Jadi setiap 5 tahun sekali kami perbaharui server, maintenance alat dan pengadaan software," katanya.