logo alinea.id logo alinea.id

Transaksi nontunai tumbuh 15,3% di awal 2019

Bank Indonesia (BI) mencatat transaksi pembayaran nontunai (cashless) tumbuh 15,3% pada Januari 2019 (yoy). 

Soraya Novika
Soraya Novika Jumat, 22 Mar 2019 13:39 WIB
Transaksi nontunai tumbuh 15,3% di awal 2019

Bank Indonesia (BI) mencatat transaksi pembayaran nontunai (cashless) mencakup penggunaan kartu debit, kartu kredit, dan uang elektronik tumbuh 15,3% pada Januari 2019 (yoy). 

Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo mengatakan uang elektronik mengalami pertumbuhan mencapai 66,6% (yoy) pada Januari. Sementara itu, penggunaan kartu debit masih mendominasi transaksi sistem pembayaran ritel dengan pangsa 94,8% dan pertumbuhan 15,4% (yoy).

"Penggunaan uang elektronik ini semakin populer, terutama sebagai instrumen pembayaran untuk moda transportasi dan e-commerce. Untuk itu, ke depan Bank Indonesia akan terus memperkuat peran sistem pembayaran ini dalam mendukung kegiatan ekonomi," kata Perry di Jakarta, Kamis (21/3).

Sejak Agustus 2014, BI telah meluncurkan Gerakan Nasional Non-Tunai (GNNT) yang bertujuan meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap penggunaan instrumen nontunai.

Menurut Perry, penggunaan nontunai banyak manfaat bagi perekonomian ketimbang menggunakan uang tunai.

"Cashless harus lebih besar ke depannya karena banyak manfaatnya. Dengan model pembayaran ini lebih mudah dipantau pergerakannya," katanya.

Di sisi lain, meski penetrasi keuangan nontunai sangat masif, Bank Indonesia mencatat secara keseluruhan sistem pembayaran tetap terpelihara. Gubernur BI Perry Warjiyo mengungkapkan pembayaran tunai tetap tumbuh positif meski nontunai terus meningkat. 

"Terlihat dari uang kartal yang diedarkan (UYD) tumbuh 7,4% secara year on year (yoy) pada Februari 2019," ujar Perry.

Sponsored

Hemat pencetakan uang

Sementara itu, BI memproyeksikan gerakan nontunai bisa menghemat biaya untuk mencetak uang sekitar 10%-20%. Penghematan biaya ini dihitung dari biaya cetak dan distribusi uang tunai sebesar Rp16 triliun per tahun.

Pengamat Ekonomi Digital sekaligus Executive Director Indonesia ICT Institute Heru Sutadi menyatakan hal tersebut akan berdampak positif untuk penghematan negara.

"Kita sudah mulai memasuki cashless society yang artinya mengurangi uang tunai beredar sehingga dapat menghemat biaya triliunan pencetakan uang," ujar Heru kepada Alinea.id.

Dari catatan BI, penggunaan nontunai berhasil menurunkan pertumbuhan uang beredar dari 6,3% pada Desember 2018 menjadi 5,5% pada Januari 2019.

Posisi uang beredar dalam arti luas (M2) pada Januari 2019 tercatat sebesar Rp5.645,8 triliun.

Perlambatan M2 dikontribusikan oleh seluruh komponennya, yakni uang beredar dalam arti sempit (M1), uang kuasi, dan surat berharga selain saham yang masing-masing tumbuh sebesar 3,8%, 6%, dan 10,3%.