sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Tren belanja online mengancam eksistensi retail

Waketum Aprindo Tutum Rahanta mengatakan pola belanja masyarakat sudah beralih ke online. Pelaku usaha harus segera meresponnya.

Achmad Al Fiqri
Achmad Al Fiqri Kamis, 17 Jan 2019 11:05 WIB
Tren belanja online mengancam eksistensi retail
Informasi mutakhir perkembangan Covid-19 di Indonesia bisa dilihat di sini
Terinfeksi 1.341.314
Dirawat 153.074
Meninggal 36.325
Sembuh 1.151.915

Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) menyatakan perubahan pola belanja masyarakat yang sudah beralih ke belanja daring (online) mengakibatkan beberapa toko ritel gulung tikar. 

Wakil Ketua Umum Aprindo Tutum Rahanta mengatakan para pelaku usaha retail harus melakukan inovasi untuk menggaet konsumen. 

"Online itu memang suatu kemajuan yang tak bisa dibendung. Sekarang sudah ada beberapa  toko ri main di online," ujar Tutum di Jakarta, Rabu (16/1).

Tutum melihat saat ini beberapa toko ritel sudah bergeser menjadi toko niaga daring.  “MAP sudah begitu, Alfamart juga ada Alfacard. Saya rasa perlu di kombain," ucap Tutum.

Sementara itu, Wakil Ketua Umum Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Indonesia Rahmat Hidayat mengatakan kondisi toko ritel saat ini agak tertekan. Menurut dia, hal ini dipengaruhi oleh perlambatan konsumsi masyarakat.

Rahmat juga mengatakan jika tingkat konsumsi meningkat, ke depannya retail dapat jauh lebih baik. Namun, Rahmat menilai tidak bisa dipungkiri saat ini toko retail harus beralih ke niaga daring. Akan tetapi, kata dia, peralihan ritel ke niaga daring perlu diperhitungkan secara matang berdasarkan kondisi ekonomi makro.

"Tetapi kalau online itu kita harus melihat secara makro ya, online itu kan sumbangan ke total bisnis perdagangan masih relatif kecil , mungkin masih di bawah 5%," katanya.

Lebih lanjut, Rahmat mengatakan salah satu faktor perlambatan daya konsumen di masyarakat ialah ketidakpastian ekonomi ke depan. Menurutnya pemerintah harus dapat memberikan sinyal positif, agar konsumen tenang untuk melalukan transaksi.

Sponsored

"Kita berharap kalau konsumsi ini semakin meningkat kedepan maka ritel akan jauh lebih baik kedepan," pungkasnya.

Sebelumnya, PT Hero Supermarket Tbk (HERO Group) menutup 26 toko telah ditutup dan memberhentikan 532 karyawan. Hal ini sebagai upaya efisiensi perusahaan. Sampai dengan kuartal III-2018, PT Hero Supermarket mengalami penurunan total penjualan sebanyak 1% senilai Rp9,8 triliun dari perolehan 2017 sebesar Rp9,9 triliun. 

Selanjutnya, PT Central Retail Indonesia mengumumkan penutupan satu gerai Central Departement Store di Neo Soho, Grogol, Jakarta pada 18 Februari 2019. Public Relations Departement Manager PT Central Retail Indonesia Dimas Wisnu Wardana  mengatakan penutupan gerai Central Neo Soho ini disebabkan karena adanya pergeseran minat dan tren belanja.

Berita Lainnya